binpers.com
Bidik Jateng Lintas Daerah

Pengadaan Finger Print Sekolah di Kaloran, Diduga di Mark Up

Temanggung, BN – Sekolah-sekolah di Kabupaten Temanggung mulai mengubah sistem absensi bagi para guru dan pegawainya. Dari semula sistem absensi manual menjadi absensi dengan mesin Finger Print atau temple sidik jari. Ironisnya, pengadaan alat ini di puluhan Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Kaloran diduga telah di mark-up oleh oknum sekolah. Mark upnya tak tanggung-tanggung yakni 200% dari harga semestinya alat absen tersebut.

Dari hasil penelusuran di sejumlah sekolah di Kaloran, pihak sekolah membeli alat mesin absen pegawai senilai Rp 3 juta. Pembelian alat absen ini dikoordinir oleh K3S (Kelompok Kerja Kepala Sekolah) Kecamatan Kaloran. Pembelian alat absen tersebut diarahkan ke satu rekanan penyedia alat computer di Kota Temanggung, dan ini masuk dalam program Siplah Kemendikbud.

Ada temuan menyebutkan bahwa, alat absen sidik speksifikasinya sudah ditentukan oleh Disdikpora, yakni berjenis atau bertipe Solution X 100 C Finger Print. Jenis alat ini diketahui di pasaran penjualan online atau daring, harga satuan unit adalah berkisar Rp 1,5 jutaan.

“Jauh harganya dibanding harga yang dibeli oleh pihak sekolah dari rekanan penyedia alat absen sidik jari. Ini patut dipertanyakan. Jelas itu ada mark up harga alat,” kata sumber kepada wartawan yang enggan disebutkan namanya.

Di beberapa sekolah yang dikonfirmasi soal ini, memberikan jawaban yang beragam. Kepala Sekolah SD Kemiri 2, Suprihati S.Pd, menjelaskan bahwa pihaknya hanya mengikuti petunjuk K3S dalam pengadaan alat absen sidik jari tersebut.

“Sesuai tahapan-tahapan belanja pada Siplah, semula alat absen tersebut dibanderol harganya Rp 3,2 juta. Kemudian ada penawaran dari kami, harganya turun sedikit menjadi Rp 3 juta,” katanya sambil menunjukkan kuitansi pembelian dari rekanan penyedia barang.

Selain SD Kemiri 2, ternyata program pembelian alat absen sidik jari ini juga dilakukan oleh 27 SD lainnya di wilayah Kecamatan Kaloran. Masing-masing sekolah saat ini telah terpasang alat absen sidik jari tersebut. Pemasangan alat tersebut berlangsung pertengahan hingga akhir bulan Desember 2019 lalu. Puluhan sekolah tersebut membeli alat absen sidik jari tersebut dengan harga seragam, yakni Rp 3 juta per unitnya.

Ketua KP3S, Tukiran S.Pd., saat dikonfirmasi memberikan keterangan bahwa harga pembelian tersebut merupakan kesepakatan seluruh kepala sekolah di wilayah Kecamatan Kaloran.

“Kami membeli alat tersebut sesuai arahan Disdikpora Kabupaten Temanggung, termasuk spek-nya sudah ditentukan. Pembelian Finger Print secara kolektif,” terangnya.

Soal kenapa harga Finger Print dua kali lipat dari harga di pasaran, Tukiran tidak mau menjelaskan lebih lanjut. Tapi anehnya, beredar informasi bahwa akibat dari adanya dugaan mark up pembelian Finger Print tersebut, ada aroma pemberian fee dari rekanan kepada oknum tertentu. Sehingga wajar di masyarakat mempertanyakan kejanggalan pada pengadaan Finger Print ini.  Patut diduga pula, terjadi praktek korupsi yang menguntungkan oknum-oknum.

Sampainya berita ini dinaikan, Tim Berita Investigasi Nasional akan terus mencari fakta terkait kebenarannya. (Dulhadi-Biro Temanggung)

Related posts

BINPERS.COM