binpers.com
Lintas Daerah Opini

Transportasi Jadi Kendala Utama Bagi Pasien di Luar Kota Wasior Untuk Mendapatkan Layanan Kesehatan

Teluk Wondama, BN – Pelaksana Program KPH Kabupaten Teluk Wondama Papua Barat, Melani Rumawak. Saat ditemui Awak Media binpers.com, Melani, mengatakan bahwa yang menjadi kendala bagi Pasien adalah transportasi. Karena ada pasien yang tempat tinggalnya jauh diluar Kota Wasior atau di Kampung, sehingga susah untuk mendapat Pelayanan Kesehatan.

“Sebagian besar pasien ini bertempat di Pulau dan menjadi akses utama bagi mereka adalah transportasi laut, inilah yang menjadi kendala bagi mereka. Namun, bukan hanya kendala di transpotrasi, tapi juga masalah Prosedur. Karena pada saat pendaftaran para pengidap HIV mereka tidak terbiasa dan sepertinya dipersulitkan. Adapun Stikma dari Petugas ketika mereka melihat Pasien dengan kondisi yang lemah juga KU-nya kurang bagus, itu sudah ada batasan, serta ini merupakan prosedur pengamanan juga ada Sefti oleh petugas,” kata Melani.

Yang terjadi selama ini belum tahu status pasien apa sudah ada Stikma sehingga membuat pasien merasa minder, inilah yang terjadi pada saat pasien berada di Rumah Sakit. Dan adanya Stikma terhadap Pasien karena kurang adanya pemahaman dari pada Masyarakat juga Petugas Medis.

Selanjutnya Melani mengatakan, apa yang disampaikan Kepada Media Binpers, “Pasien sendiri dan Pendamping Pelayanan lain, khususnya pada Tife HIV ketika Pasien khusus ini mendapatkan rujukkan dari Puskesmas  ke Rumah Sakit, mereka tidak langsung ke Rumah Sakit hanya di Puskesmas,” ujarnya.

Lalu mendapatkan hubungan dari Petugas Medis atau Tugas Layanan yang di Puskesman maka pasien tersebut dijemput dan dibahwa ke Rumah Sakit guna mendapat pelayanan kesehatan atau mempermudah pasien mendapatkan terapi.

Kemudian Melani menyampaikan, Komisi Penangulangan HIV Teluk Wondama tidak melakukan Pengobatan terhadap pasien, karena pengobatan itu hanya dilayanan kesehatan.

“KPH Teluk Wondama tugasnya hanya melakukan pendampingan terhadap pasien yang membutuhkan bimbingan, karena mengingat pasien HIV, ODHIV atau ODA mereka membutuhkannya. Karena tidak semua pasien paham apa itu penyakit HIV juga kelayanan dan tidak semua pasien membuka diri kepada Masyarakat dan lebih khusus pada Keluarga,” ungkap Melani.

Jadi yang menjadi tanggungjawab bagi KPH Wondama adalah mulai dari Rujukan, dari Puskesmas hingga  ke Rumah Sakit serta melakukan Terapi AERVE dari Rumah Sakit yang dilakukan oleh Layanan Kesehatan bukan KPH.

“Setelah mendapatkan layanan dari Rumah Sakit, KPH melakukan pendampingan selama Dua pekan, yaitu penghambilan obat kontrol balik dan juga efek samping dari Obat tersebut,” tangkasnya Melani. (Tonci)

Related posts

BINPERS.COM