19.8 C
Bandung
July 5, 2020
binpers.com
Hukum & Kriminal Jabodetabek Lintas Daerah

Waspada!! Prostitusi Anak Terselubung dengan Modus Kawin Kontrak di Bogor dan Kawin Pesanan dan Sambas

0Shares
Bogor, BN – Arist Merdeka Sirait selaku Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Indonesia mengatakan bahwa, “modus Kawin Kontrak di Bogor, juga Kawin Pesanan di Sambas dan Singkawang, dengan melibatkan anak Kalimantan Barat yang tengah menjadi “Tren” dikalangan Wisatawan Asing merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan serta tindak pidana perdagangan orang untuk tujuan Eksploitasi Seksual Komersial Anak,” kata Arist saat dimintai keterangan, Kamis (26/12/2019) kemarin.

Arist Merdeka Sirait selaku Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Indonesia.

Selain itu, perdagangan orang dengan menggunakan modus Kawin Kontrak dan Kawin Pesanan yang dilakukan Warga Negara Asing di Bogor, Sambas dan Singkawang tersebut merupakan Prostitusi Anak Terselubung. Praktek ini telah merendahkan kemanusiaan, harkat dan martabat anak Indonesia. Oleh sebab itu, dalam kasus ini apapun modusnya tidak boleh dibiarkan dan harus segera dihentikan beserta dicari jalan keluarnya.

Dengan demikian, Komnas Perlindungan Anak sebagai salah satu Institusi Independen yang didirikan Pemerintah dalam bidang Perlindungan Anak di Indonesia memberikan apreasi kepada Polres Bogor yang telah berhasil mengbongkar jaringan Prostitusi Anak Terselubung dengan modus Kawin Kontrak dengan Warga Negara Timur Tengah di Puncak Bogor.

Sebanyak 4 orang tersangka yang berperan sebagai Mucikari Kawin Kontrak melibatkan usia anak yang baru-baru ini berhasil diamankan oleh Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Bogor, dalam kegiatan mengungkap tabir kasus tindak pidana perdagangan orang untuk tujuan Eksploitasi Seksual Komersial Anak dengan modus Kawin Kontrak di kawasan Puncak Bogor pada Selasa, 24 Desember 2019.

Upaya Kepolisian yang dilakukan oleh Satreskrim Polres Bogor ini berhasil mengungkap perdagangan orang di daerah Wisata Cisarua Bogor, dengan berkedok Prostitusi yang dihalalkan melibatkan Wisatawan Manca Negara dari Timur Tengah.

Lebih lanjut Arist memberikan keterangan kepada awak Media  Binpers.com, “atas temuannya tidak sedikit anak-anak remaja berusia antara 14-16 tahun di tempat ini difasilitasi oleh para Germo yang sudah ditangkap itu untuk dikawinkan kepada Wisatawan Asing yang berkunjung di Cicarua Bogor dengan cara Kawin Kontrak untuk waktu tertentu. Lamanya Kawin Kontrak disesuaikan dengan kebutuhan para Wisatawan Manca Negara atas seberapa lama mereka tinggal di Indonesia. Ada yang hanya 14 hari, bahkan dalam 1-3 bulan kontrak dan kemudian dapat diperpanjang lagi,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan hasil Investigasinya, “setelah mereka dinikahkan, seolah-olah perkawinan resmi,  mereka umum tinggal berbaur dengan Warga Masyarakat dengan cara menyewa rumah atau Villa yang banyak bertebaran di kawasan Puncak Bogor dan Cianjur. Guna menekan perdagangan orang di Indonesia dengan berkedok Prostitusi Anak Kawasan Puncak di Kabupaten Bogor yang banyak menyimpan sejuta pesona keindahan alamnya, membuat banyak Turis Manca Negara khususnya Wisatawan dari Timur Tengah  berdatangan ke tempat itu, selain menikmati udara dingin dan keindahan alam kota hujan Bogor juga menikmati kemolekan liak-liuk remaja Bogor. Diperlukannya Komitmen Anggota Masyarakat atas dukungan kuat dari Pemerintah untuk memutus mata rantai Perdagangan anak untuk tujuan Eksploitasi Seksual Komersial berkedok Kawin Pesanan dan Kawin Kontrak Anak,” harapnya.

Fenomena Kawin Kontrak menjadi sisi gelap lain, selain Prostitusi Anak Terselubung di kawasan Puncak, membuat Polres Bogor berupaya mengungkap kasus ini.

Sementara Mucikari yang memfasilitasi Prostitusi Anak berkedok Kawin Kontrak ini, para pelakunya termasuk Aparatur Negara ditingkat Desa dan Kecamatan yang terlibat atas kadus ini dapat dijerat dengan Pasal berlapis yang diatur dalam UU RI No.21 tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan UU RI No.17 Tahun 2016 tentang Penerapan Perpu No.01 Tahun 2017 tentang Perubahan Kedua atas UU RI No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan Ancaman Pidana Penjara minimal 10 tahun dan maksimal 20 tahun.

Sedangkan Kawin Pesanan usia anak yang ditemui di Sambas dan di Singkawang Kalimantan Barat untuk kebutuhan  komunitas Masyarakat di Cina dan Taiwan sangat beda, apa yang terjadi di Perbatasan antara Puncak Bogor dan Cianjur?.. Ditempat ini banyak anak-anak diperdagangkan untuk tujuan Eksploitasi Seksual Komersial dengan modus Kawin Kontrak, alias Prostitusi Anak Terselubung, namun praktik yang terjadi di Sambas dan Singkawan  banyak ditemui anak-anak kita dari berbagai eknis diperdagangkan ke Luar Negeri untuk tujuan mendapatkan keturunan anak Laki-laki, dimana ada peraturan dan kebijakan untuk menekan laju pertumbuhan jumlah penduduk di Tiongkok, Warga Masyarakat tidak dibenarkan menambah keturunan anak Perempuan. Akibatnya, banyak Warga Masyarakat yang melakukan Kawin Pesanan, sasarannya adalah anak-anak remaja.

Ada banyak kejadian di Tiongkok, Taiwan dan di Negara lainnya, anak-anak kita dijebak menjadi korban Prostitusi Anak jika tidak bisa melahirkan keturunan anak Laki-laki. Dampaknya, ada banyak anak-anak yang diperdagangkan untuk tujuan Seksual Komersial berkedok Kawin Pesanan, namun dibalik itu ada modus dan agenda khusus pergagangan manusia international.

Untuk mengatasi tragedi Kawin Pesanan di Sambas, Singkawang dan kontrak di Bogor, sudah tibalah saatnya tragedi kemanusiaan ini menjadi agenda dan program prioritas, khusus Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) untuk segera memerangi pekerja anak, kawin usia anak sebagai syarat utama apa yang dimaksud sebuah kota layak anak.

Kasus ini tidak boleh dianggap biasa-biasa saja, Pemerintah hanya berdiam diri atas kasus kemanusiaan ini. Sebab, dampak lain dari modus ini anak-anak remaja jadi korban terpapar dengan HIV/AID, bahkan menjadi korban perdagangan Obat Bius dan Narkoba serta Pornografi Anak. Oleh karena itu, Komnas Perlindungan Anak segera berkoordinasi dengan Kementerian PPPA  untuk mendorong Pemerintah Kabupaten Bogor, Sambas dan Kota Singkawang untuk membantu membuat kebijakan daerah berupa Peraturan Daerah (PERDA) perlindungan anak dari Kawin Kontrak dan Kawin Pesanan juga pekerja anak yang diintegrasikan dengan Program dan Peraturan Desa (PERDES) tentang Pemberdayaan Masyarakat Rentan Anak, Perempuan dan Lansia di masing-masing desa.

“Komnas Perlindungan Anak siap menjadi Mitra Kerja  Strategis Pemerintah Bogor, Sambas, Singkawang dan Kementerian PPPA guna melawan perdagangan anak untuk tujuan Seksual Komerdial berkedok Kawin Pesanan dan Kontrak,”  demikian disampaikan Arist Merdeka Sirait selaku Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak kepada awak Media Binpers.com,  Kamis (26/12/2019). (Mansur)

0Shares

Berita Terkait :

Dukung Gunawan Dalam Liga Dangdut Indonesia 2020, Ibunda Dan Keluarga Buat Bazar Kue Bilolo

Rizky Pratama

Temui Ratusan Nelayan, Presiden Jokowi Pastikan SKPT Natuna Bermanfaat

Rizky Pratama

Oprasi Lilin Candi 2019, Tim Pamatwil Polda Jateng Lakukan Pengecekan di Batang

Istia Miralita
BINPERS.COM

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy