21 C
Bandung
July 4, 2020
binpers.com
Hukum & Kriminal Jateng

Ungkap !! Tragis Nasabah Korban Kospin Sejahtera Limpung

0Shares
BN Batang Jateng, Penggelapan dana 3000 orang Nasabah Kospin Sejahtera Limpung Kabupaten Batang oleh direktur dengan tersangka utama Mulyanto memasuki persidangan ke empat dengan agenda mendengar keterangan saksi korban di Pengadilan Negeri Batang, Kamis (28/11/2019).

“Nasabah korban, yang mayoritas ibu-ibu, dengan setia mengawal jalannya persidangan, Menurut keterangan ketua paguyuban Korban Kospin Sejahtera Haryanto pihaknya tetap akan mengawal dengan cara hadir saat persidangan dengan digilir. “Persidangan dijadwalkan setiap hari Kamis. Kami hadir untuk memberi support kepada hakim dan jaksa agar menjatuhkan vonis yang adil dan uang kami kembali. Setiap ada persidangan kami mengajak rekan-rekan korban untuk hadir secara bergantian minimal 50 orang”.
Haryanto menilai terdakwa Mulyanto sudah tidak bisa lagi ditolerir karena sengaja menggunakan uang nasabah untuk keperluan pribadi.

Cerita dibalik nasabah korban cukup miris. Nasabah korban sebagian besar berasal dari kalangan bawah di wilayah Kabupaten Batang yang menyimpan uang sedikit demi sedikit.
Uyun, 39 tahun, asal Tersono menderita kerugian 196 juta. Uang tersebut atas nama ayahnya dan hingga meninggal belum sepeserpun dikembalikan.
Sopiyah, seorang pedagang bakso dari Bawang ikut arisan sejak tahun 2011 menggunakan empat nama keluarganya dengan jumlah total yang sudah masuk 42 juta dan baru 5 juta yang dikembalikan. “Uang itu rencananya untuk ibadah haji tapi ternyata malah tidak bisa diambil. Untunglah saya bisa berangkat ke tanah suci dengan biaya sendiri”, kata Sopiyah.

Lis dari desa Gondang Kecamatan Subah ikut arisan sepeda motor. “Tahap pertama lancar dan saya mendapatkan sepeda motor seperti yang dijanjikan. Karena saya nilai baik saya ikut lagi tahap selanjutnya dengan mengajak anggota keluarga. Ternyata hasilnya tidak seperti yang dulu. Total kerugian saya dan keluarga 34 juta”, keluh Lis yang datang ke persidangan membawa anaknya yang masih kecil.

Kisah Rosyidah, 44 tahun, dari desa Tembok Kecamatan Limpung lebih tragis lagi. Rosyidah yang bekerja sebagai PRT di Semarang mengumpulkan uang hasil jerih payahnya di Bank BRI sedikit demi sedikit. Berkat bujuk rayu pegawai Kospin akhirnya Rosyidah memindah tabunganya ke Kospin Sejahtera sekitar tahun 2014. Tahun 2016 Rosyidah sakit tidak bisa bekerja dan ingin mengambil simpanannya di Kospin untuk membayar cicilan sepeda motor tapi tidak bisa hingga akhirnya sepeda motor ditarik leasing. Akibat kejadian itu Rosyidah mengalami gangguan jiwa dan selalu merasa ketakutan barang-barang miliknya diambil orang. Dwi Asih, anak Rosyidah menceritakan penderitaan ibunya yang depresi. “Semenjak sepeda motor ditarik leasing Ibu saya dihantui ketakutan barang miliknya diambil orang dan apa yang ibu punya dibawa masuk kamar. Bahkan tangga bambu juga ikut dibawa masuk”, kata Dwi Asih saat ditemui media di rumahnya di desa Sidomulyo Kecamatan Limpung.
Keadaan Rosyidah semakin memburuk dan sering mengamuk tanpa sebab. Oleh aparat desa Rosyidah dibawa ke RSJ Pedurungan Semarang dan menjalani pengobatan selama satu bulan.
Setelah dibawa pulang ternyata depresi Rosyidah semakin memburuk tidak mau makan dan tidak mau bicara. Kadang-kadang keluar rumah tanpa tujuan. Pernah keluarganya di telfon Polsek Tulis yang memberi tahu Rosyidah duduk di median jalan Pantura dan mengganggu pengguna jalan.
Pertengahan tahun 2018 Rosyidah dibawa ke RSJ Magelang.
Sepulang dari RSJ Magelang Rosyidah diambil Dwi Asih untuk memudahkan pengawasan. “Ibu tidak boleh telat obat karena jika telat langsung kambuh”, lanjut Dwi Asih. Saat awak media sambang, keadaan Rosyidah sangat mengenaskan. Diam tak bergeming dan rambut digunting sendiri.
.
.
Masih banyak cerita memilukan nasabah korban Kospin Sejahtera yang lain. Haryanto dan korban lain berharap uang mereka bisa kembali. Banyak asset Kospin Sejahtera yang bisa dijual untuk menutup simpanan nasabah tapi dari pihak keluarga Mulyanto dan pengurus Kospin Sejahtera yang lain terkesan mempersulit.

Gedung Kospin Sejahtera di kompleks terminal bus Limpung masih berdiri megah dan tanah tersebar di beberapa lokasi tapi oleh keluarga Mulyanto sertifikat disembunyikan di tangan pihak ketiga.

Kospin Sejahtera Limpung didirikan oleh Mulyanto dan mengalami masa kejayaan awal tahun 2000an dengan jumlah nasabah sekitar 3000 orang. Sasarannya masyarakat kelas menengah ke bawah meskipun ada juga PNS yang ikut arisan.
Berkat inovasi dan program lain yang dinilai mudah dan menguntungkan dalam waktu sekejap Kospin Sejahtera menjadi jasa keuangan raksasa dengan asset fantastis. Program arisan menjadi pilihan favorit nasabah selain bunga simpanan tinggi.
Pada masa jayanya pegawai Kospin Sejahtera bak selebriti yang dielu-elukan nasabah. Setiap bulan diadakan undian arisan dengan hadiah doorprize ratusan di lapangan Limpung. Yang hadir mencapai ribuan orang.
Tapi kejayaan itu hanya singkat karena direktur mempergunakan uang nasabah untuk keperluan pribadi dan menunjang gaya hidup mewahnya.
Tahun 2015 Kospin kolaps dan nasabah yang akan mengambil simpanan hanya diberi janji-janji manis yang selalu diperpanjang saat jatuh tempo.
Atas prakarsa Haryanto dkk para nasabah korban membentuk paguyuban untuk menyatukan suara dan punya kekuatan untuk melangkah.
Setelah gagal menagih dan selalu mengingkari janji akhirnya nasabah melaporkan Mulyanto ke Polres Batang dan berlanjut ke ranah pengadilan setelah Polres selesai membuat BAP. Nasabah korban iuran untuk biaya dan bersatu menuntut hak. Saat mengawal persidangan di PN Batang banyak diantara mereka membawa bekal untuk dimakan bersama.
Total kerugian nasabah sekitar 16 milyar pungkasnya.(Suroto Anto Saputro)

0Shares

Berita Terkait :

Penyidik Kejaksaan Tinggi Serahkan Koruptor Ke Rutan Pakjo Palembang

Arie Chandra

Kapolres Batang Serahkan Hadiah Lomba Vlog Cegah Covid-19

Istia Miralita

Diduga Dendam Lama, Perkelahian Dua Pemuda Berujung Maut

Rizky Pratama
BINPERS.COM

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy