19.8 C
Bandung
July 5, 2020
binpers.com
Investigasi Lintas Daerah Maluku Utara

Kades dan Masyarakat Akan Laporkan Pengelola PAM Desa Kayoa ke Kementrian

0Shares
Halsel, BN – Musim kemarau  panjang mulai melanda beberapa daerah di Indonesia, sehingga megakibatkan kurangnya sumber air bersih untuk kebutuhan masyarakat. Alhasil, beberapa masyarakat terpaksa mengonsumsi air kubangan atau air yang tercemar untuk beraktivitas sehari-hari.

Wartawan binpers.com temukan air yang diregenerasi khususnya di Maluku Utara di Desa Guraping  Kayoa dan lima desa tetangga, tepatnya di desa Kayoa yang dikenal dengan Tugu Katulistiwa. Dengan cuaca yang cukup panas  tersebut berakibat kurangnya sumber air bersih untuk kebutuhan masyarakat. Sedikitnya 5 desa di Kayoa terpaksa mengonsumsi dan menggunakan air kubangan atau air yang tercemar untuk beraktivitas.

Secara kasat mata, air terlihat memang bersih karena untuk nama saja PAM, akan tetapi setelah ditelusuri lebih jauh hasilnya mengejutkan.

Informasi yang dihimpun dari masyarakat, air dari bak milik PAM sejak tahun 2016/2019, air  yang di dalam embung itu sudah tidak layak lagi untuk dikonsumsi.

“Kalau pakai  mencuci dan mandi masih boleh tapi kalau diminum bahaya bisa kena penyakit diare,” tutur salah satu masyarakat di desa Bajo yang memiliki usaha warung makan yang tak mau disebut namanya.

Hal ini bisa kita lihat  dari situs WHO International pada Selasa, 9 Juli 2019, air yang tidak bersih dapat menyebabkan penularan penyakit seperti kolera, diare, disentri, hepatitis A, tipus, dan polio ketika masuk ke tubuh, dan terbukti di puskesmas setempat banyak warga yang mengeluh masalah penyakit diare dan sesak nafas.

Saat ini sampel dari bak penampungan PAM sedang dibawa ke lab untuk diperiksa lebih lanjut. Jika hasil pemeriksaan di lab terbukti membahayakan warga maka Kepala Desa dan Masyarakat akan melaporkan kejadian ini ke Kementerian Kesehatan dan Lingkungan Hidup , Selasa (05/11/2019).

Faktor lain yang menyebabkan tercemarnya air PDAM karena gagalnya pengolahan tempat. Banyak tikus dan serangga di sekitar zona PDAM, dan tak jarang masyarakat berburu babi uutan yang terkadang hasil buruan mati di sekitaran zona PDAM.

Maka kesimpulannya jika  pagar tidak di perbaiki akibatnya Babi Hutan sering masuk untuk minum air di seputaran lokasi embung, karena selain itu kondisi tempat embung (Bak Air) di dalamnya sejak 2016 sampai tahun  2019 tak pernah dibersihkan. (MS)

0Shares

Berita Terkait :

Lapas Lelas IIA Kalianda Lakukan Deklarasi Janji Kinerja Tahun 2020

Istia Miralita

Masyarakat OBI Geger Akibat Limbah Berserakan di Laut

binpers

Kelurahan Karangmulya Lakukan Penyemprotan Guna Mencegah Covid-19

Rizky Pratama
BINPERS.COM

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy