21 C
Bandung
June 3, 2020
binpers.com
Ekonomi & Bisnis Maluku Utara

Air Minum Untuk 5 Desa di Kayoa Halsel Seperti Air Empang

0Shares
KAYOA (Halsel), BN – Masyarakat dan kepala desa mengeluh terkait Air PAM yang hadir sejak 2016 sampai tahun 2019 saat ini seperti air di dalam empang.

Saat Tim Berita investigasi Nasional (binpers.com) belum lama ini, mendapat informasi dan langsung bergerak cepat ke TKP, ternyata memang benar apa yang disampaikan masyarakat dan kepala desa bahwa air PAM yang dikelola  oleh Balai provinsi kini sangat miris dan memprihatinkan.

Pasalnya airnya tidak terawat dengan baik, diduga jarang  diperiksa dan sesuai hasil investigasi wartawan binpers.com jika air bersih ini mengalir ke 5 desa yang berada Kayoa, dan itu semua dikonsumsi oleh warga desa Kayoa.

Mirisnya, mengapa air yang dialirkan dari Perusahaan Air Minum (PAM) dari jarak desa ke tempat Embun 3 kilometer ke pemukiman warga itu masih saja tetap dikonsumsi oleh warga setempat? padahal sudah tahu jika itu sudah tidak layak dan terbukti sangat kotor dan bau.

Untuk informasih lebih lanjut  wartawan binpers.com coba menemui penjaga atau pegawai PAM yang ditugaskan untuk menjaga tempat tersebut.

Kepada wartawan penjaga yang tak mau menyebut namanya itu menjelaskan bahwa air ini dari 2016 tidak dibersihkan, dan lumutnya sudah sangat  banyak  tumbuh, makannya setiap musim panas pecek dan gelembung busa yang naik ke permukaan.

Bukan hanya itu, di seputaran Embun ditumbuhi rumput serta semak belukar, untuk pagar saja sudah tua dan patah, maka itu penjaga pun sangat kahwatir ketika warga yang sering mengejar babi hutan, “Takutnya nanti bakal jatuh ke dalam bak air minum yang terbuka,” ucapnya.

Perusahaan Air Minum (PAM), umumnya memproduksi air dengan kualitas air minum, bukan air bersih. Saat air baku sudah selesai melalui seluruh proses pengolahan di Instalasi Pengolahan Air (IPA), air tersebut sudah dapat diminum langsung tanpa harus dididihkan terlebih dahulu. Namun PAM umumnya hanya bisa memberikan jaminan saat air tersebut diminum di areal IPA.

Bila sudah Didisitribusikan ke pelanggan, perusahaan air minum tidak dapat lagi memberikan pelayanan yang baik bahwa air tersebut dapat diminum langsung tanpa dimasak terlebih dahulu.

Karena sesuai hasil temuan di lapangan, ada desa yang kebiasaannya minum air tanpa dimasak dahulu, akibatnya sering terkenat penyakit diare.

Mengapa demikian? Beberapa waktu lalu, wartawan media ini sempat berbincang dengan beberapa karyawan yang bekerja di Perusahan Air bersih di Bandung. Sekedar informasi, perusahaan tersebut bertanggung jawab mengolah dan mendistribusikan air bersih dan setiap 3 bulan ada perawatawan namun Ini tidak seperti yang ada di Kayoa.

Air yang dikonsumsi masyarakat 5 desa kini sangat kotor dan bau, tetap saja mereka pakai karena kebutuhan dan banyak yang kaget setelah menonton Video yang penulis tunjukan.

Ada salah satu warga yang mengatakan, “Ini sama dengan aer empang bukan aer minum. Kalau aer minum dorang pasti rawat bikin Rumah (Atap) dan pagarnya di perbaiki bukan seperti ini,”tutupnya

Penjaga yang berkomentar, mengapa air yang dialirkan dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) ke pelanggan umumnya hanya memiliki kualitas sebagai air bersih, bukan air minum? Padahal jelas-jelas namanya PDAM – perusahaan air minum– bukan air bersih.

Perusahaan Air Minum (PAM), umumnya, sehingga bila dipaksakan dikonsumsi tanpa dimasak terlebih dahulu akan berakibat kurang baik. Untuk itu seharusnya lebih bagusnya pihak yang memgelola harus banyak sosialisasi.

“Maaf pak wartawan saya ini cuman jaga saja, yang kelola itu dari Balai ,saya PNS yang serba bingung dengan keadaan dan kondisi saat ini. Jujur setiap kali mau ambil minyak saya harus dengan rekan berusaha melewati sungai karena jauh, tidak bisa pikul, saya harap kalua misalnya boleh, tolong adakan motor Viar agar saya dan teman tidak usah pikul, kasihan terlalu jauh dan untuk tambahan kalau boleh tolong perbaiki tempat  mesin dinamo dan jembatan agar saat pengangkutan BBM ke tempat mesin kami tidak sulit.” Ujar sang penjaga ke wartawan.

Kades sendiri mengatakan, jangankan sosialisasi, untuk perbaikan saja tidak pernah. “Seharusnya ada pemeliharaan agar menghindari hal-hal yang tidak dinginkan, sesuai yang dilihat kini sudah banyak keluhan warga,” tutur kades Guraping.(MS)

0Shares

Berita Terkait :

Pertamina Intergrated Balongan Indramayu Jawa Barat Mulai Salurkan B 30 Ke Wilayah III Cirebon

Rizky Pratama

Bupati Halsel, Bahrain Kasuba bersama Pengurus GMKI Bacan

binpers

Komitmen Pemda Halsel dalam Capaian Perekaman e-KTP Terbukti Serius

binpers
BINPERS.COM

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy