binpers.com
Lintas Daerah Nasional Sumsel

Kabut Asap Di Palembang Masuk Level Berbahaya

PALEMBANG –(BN) Kualitas udara di kota Palembang sekarang ini, tidak sehat atau menuju level berbahaya karena dicemari asap dari kebakaran hutan dan lahan mencapai level hingga di atas 250 mikrogram/m3.

Sesuai kategori Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), jika kualitas udara berapa pada level 0-50 mikrogram/m3 dalam kondisi baik, sedangkan pada level 50-150 sedang, 150-250 tidak sehat, 250-350 sangat tidak sehat, dan pada level lebih dari 350 mikrogram/m3 berbahaya.

Berdasarkan fakta tersebut, pemerintah pusat dan daerah harus bertindak cepat menangani ancaman bahaya asap karhutla tersebut di Palembang.

Catatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan kondisi asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat ini di Sumatera Selatan, terutama Palembang, mencapai titik terekstrem.

BMKG sebut sumber dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Tanggal 14 Oktober 2019 tercatat beberapa titik panas di wilayah sebelah Tenggara Kota Palembang dengan tingkat kepercayaan di atas 80% yang berkontribusi asap ke wilayah Kota Palembang yakni pada wilayah Banyu Asin 1, Pampangan, Tulung Selapan, Pedamaran, Pemulutan, Cengal, Pematang Panggang dan Mesuji.

Total titik panas dengan tingkat kepercayaan di atas 80% untuk wilayah Sumsel sebanyak 260 titik, titik panas terbanyak pada wilayah Kabupaten OKI 139 titik panas dan Kabupaten Banyu Asin 67 titik panas.

Catatan BMKG Sumsel yang dikirimkan Kasi Observasi dan Informasi Sta. Met. Kelas II Palembang Bambang Beny Setiaji menyatakan kondisi terekstrem selama berlangsungnya Karhutbunla dengan indikasi kuantitas dan jarak pandang yang terjadi. Intensitas Asap (Smoke) umumnya meningkat pada pagi hari (04.00-08.00 WIB) dan sore hari (16.00-20.00 WIB) dikarenakan labilitas udara yang stabil (tidak ada massa udara naik) pada waktu-waktu tersebut.

Badai Tropis Hagibis di Laut Cina Selatan melemah dan masih adanya pusat tekanan rendah di wilayah tersebut mengakibatkan adanya aliran massa udara ke arah pusat tekanan rendah tersebut dari wilayah Indonesia.

Hal ini mengakibatkan tetap menurunnya potensi dan intensitas hujan di wilayah Sumsel tiga hari ke depan (18-20 Oktober 2019).

BMKG pun memprediksi kondisi hujan akibat faktor awan konvektif akan tetap berpotensi di wilayah bagian barat Sumsel karena kelembapan udara lapisan atas cukup memadai untuk pertumbuhan awan. (mas)

Related posts

BINPERS.COM