binpers.com
Opini Sumsel

Jangan Memusuhi, Lihatlah Sejarah Pers Secara Utuh

Perkembangan pers di Indonesia saat ini terus berkembang dengan pesat. Indonesia saat ini melahirkan banyak bibit-bibit pers baru yang hadir saat ini. Dengan banyaknya pers baru yang kini muncul dan banyak komunitas pers hampir di seluruh Indonesia. Tapi kini pemberangusan, penghancuran secara ekonomi dan pemenjaraan jurnalis, itulah pola-pola tradisional negara represif yang mencoba membungkam pers dan mengekang kebebasan berpendapat.

Bahkan ada bahaya lain, yang tidak mudah terlihat, terutama didukung struktur viral jaringan internet. Orang-orang, dan makin sering juga mesin-mesin, menyebarkan kabar bohong, rekaman video atau foto yang difabrikasi atau sengaja dipalsukan, dengan tujuan untuk memanipulasi.

Sejarah mencatat dimulai pada saat memasuki abad ke-20, tepatnya pada tahun 1903 dimana pada saat itu Koran sedang mengahat. Banyak pemberitaan mengenai politik dan perbedaan paham antara pemerintah dan masyarakat. Akibatnya beberapa kota besar di kawasan Hindia Belanda menjadi kota yang berpemerintahan otonom sehingga ada para petinggi pemerintah yang mendapatkan  jaminan hak onschenbaarheid (tidak bisa dituntut).

Tidak sedikit Koran yang ada pada abad 20 menyajikan ruangan surat pembaca yang menampung “curhat atau aspirasi” tentang berbagai hal dari para pembacanya.

Dunia pers semakin mengahat ketika terbitnya “Medan Prijaji” pada tahun 1903, sebuah surat kabar pertama yang dikelola kaum pribumi. Pada saat itu pemerintah Belanda menyebutnya Inheemsche Pers (Pers Bumiputra). Dimana R.M. Tirtoadisuryo menjadi pemimpin redaksinya yang disambut hangat oleh masyarakat bangsa Indonesia, Tidak lama kemudian Tjokroaminoto dari “Serikat Islam” telah menerbitkan harian Oetoesan Hindia.

Nama Samaun (Golongan kiri) muncul dengan korannya dengan nama cukup revolusioner yakni Api, Halilintar dan Nyala. Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantara juga telah mengeluarkan Koran dengan nama Guntur Bergerak dan Hindia Bergerak. Sementara itu Padangsidempuan, Parada Harahap membuat harian benih Merdeka dan Sinar Merdeka pada tahun 1918 dan 1922. Dan Bung Karno juga memimpin harian Suara Rakyat Indonesia dan Sinar Merdeka pada tahuun 1926.

Kondisi pers Indonesia setelah proklamasi, jauh berbeda dibanding masa penjajahan Belanda dan Jepang. Namun seiring berjalanya waktu memasuki tahun 1948 situasi dan kondisi Negara RI mulai diwarnai oleh suasana perpecahan. Dimasa itu terdapat dua golongan yang saling bertentangan. Yaitu Golongan Kanan (Front Nasional) dan Golongan Kiri (PKI Muso). Puncak konflik antara keduanya ditandai oleh meletusnya pemberontakan peristiwa Madiun yang didalangi oleh PKI Muso.

Peristiwa ini sempat mengguncang pemerintah. Setelah itu pembredelan pertama terjadi yang dilakukan pemerintah terhadap kelompok kiri seperti Patriot, Buruh dan Suara Ibu Kota. FDR juga membungkang Api Rakjat dari kepentingan Front Nasional.  Militer juga membredel Suara Rakjat Tahun 1946, pemerintah dan pers merintis hubungan dengan munculnya peraturan yang tercantum Dewan Pertahahan Negara Nomor 11 Tahun 1946  mengatur soal percetakan, pengumuman, dan penerbitan.

Kemudian diadakan juga beberapa perubahan aturan yang tercantum dalam Wetboek Van Strafrecht (UU bikinan belanda). Pada siding Komite Nasional Pusat Pleno VI Yogya tanggal 7 Desember 1949 diusulkan UUD pasal 19 mengenai setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat.

Namun pada masa era orde baru majalah sendi terjerat delik pers tahun 1972. Lalu sinar harapan dilarang terbit seminggu. Pada peristiwa Malari, 12 penerbit pers dibredel melalui pencabutan izin terbit. Pada tahun 1978 surat kabar dibekukan lewat telepon yakni Kompas, Sinar Harapan, Merdeka, Pelita, The Indonesia Times, Sinar Pagi dan Pos Sore.

Tahun 1982, majalah tempo ditutup sementara waktu ketika menulis kerusuhan kampanya dilapangan benteng. Koran jurnal Ekuin dilarang terbit Maret 1983 karena menyiarkan patokan harga ekspor. Majalah Ekspo pada januari 1984 yang memuat seratur milyader Indonesia. Serta majalah Topik pada februari 1984 karena menulis mencari golongan miskin. Koran sinar harapan juga dilarang terbit pada 9 Oktober 1986 dan Koran Prioritas, Tabloid Monitor, Majalah Senang pada 21 Juni 1994 ketika pemerintah membunuh Tempo, Editor dan Detik.

Pembredelan Tempo, Editor dan Detik menimbulkan perlawan masyarakat. ratusan wartawan bergabung dengan mahasiswa dan aktivis NGO melakukan demonstrasi pada hari-hari setelah pembredelan. Reaksi keras pada saat itu ditujukan kepada PWI. Karena PWI satu-satunya organisasi wartawan yang tidak memprotes pembredelan tersebut.  Merasa tidak puas atas sikap PWI terbentuklah AJI pada 7 Agustus 1994 sebagai wujud sikap “menolak wadah tunggal wartawan” dan sebagai organisasi alternative bagi wartawan. Pers periode 1994-1997 hanya berharap tetap selamat hingga pemilu 1997, yang kemudian ditandai dengan aksi mahasiswa dengan tuntutan reformasi.

Menpen Junus Josfiah merevisi ketentuan perizinan dan mencabut ketentuan wadah tunggal organisasi wartawan. Lebih dari 1600 SIUPP dikeluarkan periode Mei 1998 hingga Agustus 1999. UU Nomor 40 Tahun 1999 akhirnya disahkan dimana didalamnya disebutkan bahwa perlunya dibentuk Dewan Pers yang independen sebagai upaya mengembangkan kemerdekaan pers. dan AJI yang dianggap illegal pada awalnya mulai diakui.

Ekses kebabasan pers tak hanya memberikan ruang kemudahan bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi secara akurat, tapi juga menimbulkan masalah dengan jurnalisme ala kadarnya dan kurang menghargai etika. Pers harus mampu mengontrol sendiri lewat kode etik wartawan Indonesia.

Menjadi jurnalis berarti, selalu bersedia mempertanyakan keyakinan sendiri atau keyakinan kelompok kolega. Bahkan ketika kita merasa sesuatu sudah cukup pasti, kita harus bersedia mempertanyakan fakta-faktanya lagi.  Cermatlah menjadi seorang pers. waspadalah terhadap apa yang ingin ditulis dan disampaikan. Jangan sampai tulisan yang telah dibuat menjadi boomerang bagi anda sendiri. Walaupun pers telah memiliki kebabasan, tetaplah menjadi pers yang cermat dan pintar dalam memberikan informasi.

Related posts

BINPERS.COM