binpers.com
Investigasi Jawa Barat

BNI Garut Diduga Pelihara Maling Berkedok Marketing

Garut, BN – Seorang nasabah BNI di Garut, Jawa Barat, berinisial DK mengaku dirugikan hingga ratusan juta rupiah dengan iming-iming hadiah langsung tanpa diundi berupa barang yang nilainya hanya puluhan juta rupiah. Namun, iming-iming hadiah yang dilakukan oknum marketing berinisial JN itu diduga hanya siasat busuk agar bisa menguasai uang milik DK dengan mengalihkan uang dari deposito ke Taplus yang pembuatan ATM dan penggunaannya dilakukan sepihak oleh JN, sehingga dengan leluasa menguras uang tabungan tanpa sepengetahuan pemiliknya, DK.

Kasus tersebut sudah dilaporkan ke Polres Garut, namun korban dan orang tuanya mengaku sampai saat ini belum jelas proses hukumnya.

Kejadiannya berawal saat DK yang memiliki deposito senilai Rp 1 Miliar di BNI di Kantor Kas Kadungora Kab. Garut dibujuk oleh marketing bank BNI Cabang Garut berinisial JN, agar memperpanjang simpanan tabungan depositonya.

Dengan berbagai cara, JN berhasil memperpanjang tabungan deposito milik DK namun dialihkan menjadi Taplus dengan tidak ada peresetujuan dari DK.

“Itu pemindahan tabungan sepihak oleh JN sebagai karyawan bank BNI tanpa sepengetahuan pihak DK atau kedua orang tuanya,” ujar Haji ET, orang tua DK, Rabu (18/9/2019).

Dikatakan, setelah disodori kertas kosong yang ditandatangani oleh DK tanpa sepengetahuan orang tuanya, maka oleh oknum (JN) tersebut dibuatkanlah ATM yang juga tidak diketahui oleh pihak korban.

“DK itu tidak pernah tahu dibuatkan ATM dan tidak pernah menandatangani pembuatan ATM. Itu semua ulah oknum yang bersangkutan,” tegas Haji ET.

Lanjut Haji ET mengatakan, maka setelah jadi ATM dan ATM-nya dikuasai oleh JN. Maka oknum tersebut dengan sangat leluasa mengambil uang milik nasabah melalui ATM yang diatasnamakan DK tersebut sampai ludes.

“Anehnya pada saat pengambilan uang dengan ATM sampai nilai nominalnya lebih dari Rp 200 juta pun tidak ada pengawasan dari pihak BNI,” tuturnya.

Ironisnya, kata Haji ET, selama 1 tahun DK masih percaya bahwa uangnya sebesar Rp 1 miliar itu aman di BNI sebagai tabungan deposito karena setiap bulannya menerima jeda deposito yang dimasukkan dalam buku tabungannya.

“Baru disadari uang yang disimpan di deposito tersebut sudah habis ludes pada saat jatuh tempo berakhir. Pada saat ditanyakan ke si JN oknum karyawan yang mengurus tabungan DK tersebut dijanjikan akan segera dicairkan. Maka ditransferlah oleh si JK ke rekening orang tua DK sebesar 300 juta rupiah. Pada saat ditanyakan kenapa hanya 300 juta rupiah? Jawab si JN, pencairannya bertahap,” bebernya.

Ternyata, ujar Haji ET, sampai sekarang pun sampai dilaporkan ke pihak kepolisian tidak pernah menerima pencairan uang deposito tersebut. Beberapa kali pihak DK dan orang tuanya mendatangi pihak BNI tetapi pihak BNI sepertinya tidak bertanggung jawab.

“Beberapa kali melakukan musyawarah dengan janji akan segera mencairkan uang yang 700 juta itu pun hanya janji-janji belaka. Sampai pernah otang tua si JN menjanjikan akan menyerahkan rumah di Jln. Sumbersari sebagai bentuk mengembalikan uang yang 700 juta, ternyata rumah tersebut dalam pengawasan pihak bank lain dan ditempeli tulisan, disita,” ujar Haji ET kesal.

Haji ET mengakui, dari memperpanjang deposito banyak keanehan, seperti tidak diberikannya resi atau bukti kepemilikan deposito. Setiap ditanyakan ke pihak BNI atau oknum pegawai bank tersebut jawabannya aman tersimpan di BNI.

Hingga berita ini dimuat, tim media Berita Investigasi Nasional (Binpers.com) sudah melakukan konfirmasi kepada pihak BNI Kantor Kas Kadungora beberapa waktu lalu. Saat itu, Kiki selaku Pejabat Sementara Kepala Kantor Kas mengatakan bahwa oknum marketing berinisial JN sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya. Sedangkan Kepala Kantor Kas BNI Kadungora berinisial AB sudah pindah tugas di kantor cabang utama di Garut. Kiki juga mengakui kalau DK masih nasabahnya.

Terkait kasus ini, Kiki mengaku besar sekali pengaruhnya terhadap nasabah lainnya, karena diduga merasa khawatir uang yang disimpannya tidak aman seperti yang dialami oleh DK.

Pantauan di lokasi, kantor Kas BNI cabang Kadungora memang terlihat sepi nasabah, tidak seperti kantor-kantor bank lainnya. Sedangkan petugas bank hanya tiga orang saja yang terdiri dari Kepala kantor, bagian administrasi, dan perugas skuriti.

Di tempat terpisah, AB, mantan Kepala bank Kas Kadungora saat dihubungi untuk dimintai konfirmasi via pesan WhatsApp, Senin (09/09/2019) mengatakan kalau dirinya tidak bisa ditemui awak media.
Saat ditanya, sejauhmana penanganan kasus atas nama DK, di mana saat itu dirinya menjabat sebagai kepala di kantor tersebut yang diduga kuat mengetahui bagaimana proses dugaan penyalahgunaan uang senilai Rp 1 Miliar milik DK oleh JN.

“Baik pak sejauh ini prosesnya sudah masuk di kepolisian dan kami sudah mengikuti prosesnya dan kami tidak memiliki kapasitas utk memberikan staement apa pun, dalam hal ini karena masuk ranah hukum,” tulis AB melalui chat di WhatsApp.

“Akan tetapi kami kami tetap patuh dan koopratif terhadap proses hukum yang berjalan dan mengikutinya sesuai dengan yg ditentukan oleh aparat penegak hukum, saat ini sedang proses selanjutnya dari pihak kepolisian,” tandasnya.(TIM)

Related posts

BINPERS.COM