binpers.com
Investigasi Jawa Barat

Nasabah Bank Ternama di Garut Mengaku Dirugikan Ratusan Juta Rupiah

Garut, BN – Seorang wanita berinisial DK (22 tahun) yang merupakan nasabah bank milik BUMN ternama di Indonesia mengaku dirugikan uang senilai ratusan juta rupiah oleh oknum pegawai bank tersebut berinisial JN. Kejadiannya di salah satu Kantor Cabang Pembantu di kabupaten Garut, Jawa Barat, tepatnya di kecamatan Kadungora pada awal tahun 2018 lalu. Akibatnya, korban didampingi orang tuanya melaporkan ke pihak kepolisian tetapi sampai saat ini belum jelas proses hukumnya.

Kasus tersebut terungkap saat korban DK bersama kedua orang tuanya mendatangi sebuah kantor hukum di Bandung. Ia membeberkan kejadian yang menimpa dirinya secara detail perihal prilaku oknum pegawai bank ternama yang berkantor di Kadungora yang diduga kuat mempermainkan uang simpanan miliknya sebesar Rp 1 Miliar untuk didepositokan namun uang tersebut diubah menjadi tabungan dengan cara-cara yang tidak logis hingga berujung tidak jelasnya keberadaan uang tersebut.

DK menceritakan, awalnya telah mendepositokan uang senilai Rp 1 Miliar tapi oleh JN diiming-imingi agar menyimpan uangnya di Taplus karena ada program dari bank tersebut yang bisa mendapatkan hadiah sejumlah barang senilai Rp 50 juta lebih. DK pun mengikuti ajakan tersebut karena hadiah yang ia dapatkan bisa diperoleh secara langsung tanpa diundi.

Setelah sepakat, pemindahan uang pun dilakukan. Namun sesuai pengakuan DK, ternyata prosedur yang dilakukan oleh JN sebagai pegawai bank sangat tidak logis karena dalam pencairan uang dari deposito dengan menyodorkan lembaran kertas kosong untuk ditandatangani oleh DK, itu pun dilakukan di luar kantor bank.

Menurut DK, sebelumnya JN menghubunginya via telephon sambil minta KTP dengan dalih untuk pencairan uang miliknya secara bertahap. DK pun percaya kepada JN dan mendatangani kertas kosong itu di salah satu tempat yang sudah disepakati, tanpa mempertanyakan kapan cairnya. Kendati demikian DK sempat menanyakan, kenapa kosong? Namun dijawab oleh JN, “nanti diisi sama kantor,” ujar DK menirukan ucapan JN saat itu.

Saat transaksi itu, DK mengaku tanpa didampingi oleh siapa pun sebagai saksi. “Kebetulan ngga ada teman,” kata DK yang pada saat itu bertemu dengan JN di depan kantor kelurahan, dekat kostan pada pukul 05.00 sore.

Sejak ditandatangani kertas kosong tersebut yang katanya untuk pencairan, ternyata seiring berjalannya waktu yang cukup lama tak kunjung juga cair. Padahal JN menjanjikan dalam waktu dua hari sudah cair. “Ditunggu aja satu atau dua hari, nanti setelah dari Jakarta akan cair,” kata JN kepada DK.

Terkait hal itu, DK sempat memanfaatkan jasa pengacara untuk mensomasi pihak bank tempat JN bekerja, tapi tidak menghasilkan solusi yang signifikan, karena menurut pihak bank, apa yang dilakukan JN sudah sesuai prosedur. Bahkan, saat itu JN sudah tidak bekerja lagi di bank tersebut. Sementara uang milik DK belum diketahui rimbanya.

Lapor Polisi

Karena janji JN tidak ditepati juga, bahkan berlarut-larut hingga beberapa bulan dan uang miliknya semakin tidak jelas keberadaannya, akhirnya DK melaporkan ke Polisi didampingi orang tuanya.

Menurut hasil investigasi Binpers.com, diperoleh informasi dan data bahwa JN diduga kuat telah melakukan penyimpangan, baik perdata maupun pidana. Pasalnya, JN sebagai pegawai bank telah melampaui batas kewenangannya dengan menyalahgunakan uang nasabah tanpa sepengetahuan dan seijin pemiliknya.

Di tempat terpisah, ayah DK saat dikonfirmasi, Rabu (04/9/2019) mengungkapkan awal mula terjadinya pengalihan uang dari deposito senilai Rp 1 Miliar ke Taplus. Ia mengatakan, awalnya JN menawarkan program bank tempatnya menyimpan uang dengan hadiah bisa diterima di muka yang kata JN aman (tidak bermasalah).

“Pas dua hari kemudian JN minta KTP dan buku deposit, pas anak saya lagi kuliah di Unisba Bandung. Pas sore-sore pas hari Jumat, sudah ada semingguan terus dia (JN) nge-bell lagi,” ujarnya, kemudian JN meminta untuk mengisi formulir dan menandatangani.

Seminggu kemudian setelah menandatangani formulir, hadiah yang dijanjikan JN pun diterima berupa sepeda motor merek N-Max, Hand Phone, dan Mesin Cuci. Tapi dirinya merasa curiga karena buku dan bukti deposito tidak dikasihkan oleh JN. Lalu setelah dua tiga bulan dirinya mengejar JN untuk meminta buku dan depositonya. Bahkan sempat mengancam untuk membatalkan depositonya kalau buku dan bukti lembaran depositonya tidak diserahkan. Saat itu JN mengatakan, jika dibatalkan maka akan rugi sebesar Rp 75 Juta.

“Bu kalau engga jadi rugi 75 juta (rupiah),” ujar JN yang ditiru orang tua DK, lantas dijawabnya, ”engga apa-apa, dan hadiah mau diambil lagi, rugi ngga apa-apa, yang penting saya ngga enak ini ngga buku-bukunya.”

Tidak hanya sampai di situ, orang tua DK juga terus mengejar JN untuk memastikan uang miliknya yang disimpan di bank tersebut tidak bermasalah, namun JN terus berdalih meyakinkan bahwa uang tersebut aman.

“Bu aman lah aman. Karena kalau disimpan di rumah, nanti ibu kebakaran, kehilangan engga bisa (diganti, red),” ujar JN seperti ditirukan ibu korban, yang kemudian dijawabnya, “engga apa-apa, pokoknya yang penting saya mah ada buku sama bilyet. Kalau ngga gitu, saya mgga jadi.”

Setelah kejadian itu, JB berbulan-bulan tidak ada kabar lagi. Selanjutnya orang tua DK mendatangi kepala cabang bank tersebut di Kadungora berinisial BY, yang juga meyakinkan bahwa uang tersebut aman, walaupun pada akhirnya dia menyangkal ucapannya setelah JN tidak ada lagi di kantor bank tersebut. Lalu BY pun menyuruh menunggu sampai bulan 2.

“Saya setengah tahun sampai gelisah-gelisah terus,” kata ibu DK.

Dikatakan, hingga saatnya jatuh tempo, JN membawa kertas kosong untuk ditandatangani oleh DK dengan dalih untuk pengambilan uang.

Sementara itu, saat tim investigasi Binpers.com hendak menemui Kepala Kantor Kas bank tempat DK menyimpan uang berinisial AB, Kamis (5/9) kemarin, ternyata sudah dimutasi ke kantor cabang di Garut dengan posisi di bagian umum. Hal ini terungkap berdasarkan pengakuan dari KY pengganti posisi AB di kantor bank tersebut di Kadungora dengan posisi sebagai Pejabat sementara (Pjs).

KY menuturkan kalau dirinya baru menjabat sebagai Pjs di kantor tersebut sejak pertengahan Desember 2018, namun Ia mengakui mengetahui kasus yang terjadi antara DK dengan JN. Menurutnya, DK masih tercatat sebagai nasabah di kantor bank yang dipimpinnya.

“Ya dengar lah, pastilah. Khan dia nasabah saya juga,” ujar KY, seraya mengakui bahwa DK masih tercatat sebagai nasabahnya.

Lebih lanjut KY mengatakan jika aset (uang) milik DK yang masih tercatat di bank tersebut masih aman. Tapi mengenai dugaan penyalahgunaan yang dilakukan oleh JN terkait uang milik DK, KY mengatakan kalau kasus tersebut sedang diproses secara hukum di Polres Garut.

Saat ditanya, apakah yang dilakukan JN dengan menyodorkan kertas kosong untuk ditandatangani oleh DK sudah sesuai dengan prosedur dan dibenarkan sesuai aturan? KY mengakui tidak tahu, hanya kalau memang hal itu benar terjadi, KY menilai itu sudah merupakan pelanggaran.

Pososi JN, kata KY, saat mengelola uang milik DK statusnya hanya sebagai sales di kantor cabang utama Garut, jadi bebas mencari nasabah di seluruh wilayah Garut, kemudian setelah mendapat nasabah diarahkan ke kantor terdekat, salah satunya DK diarahkan ke Kantor Kas Kadungora.

KY juga mengakui mengenal JN sudah sejak lama, bahkan satu bagian saat menjadi tenaga bagian lapangan di kantor cabang utama Garut. Namun KY mengaku sudah lama tidak pernah bertemu maupun berhubungan dengan JN, sebab JN sudah mengundurkan diri (resign) dari pekerjaannya pada 1 Desember 2018.

Dengan bergulirnya dugaan kasus penyelewengan uang Rp 1 Miliar milik DK di kantor bank Kas Kadungora ini, sebagai Plt kepala kantor mengaku sepi dari nasabah. Hal ini diduga kasus ini sudah mulai diketahui oleh nasabah lainnya yang khawatir akan aset miliknya jika disimpan di bank tersebut. Fakta ini tuga terpantau oleh awak media binpers.com yang beberapa kali ke kantor bank tersebut dengan mendapati kursi nasabah yang kosong dengan petugas yang hanya 3 orang saja termasuk bagian sekuriti.

Di tempat terpisah, AB, mantan Kepala bank Kas Kadungora saat dihubungi untuk dimintai konfirmasi via pesan WhatsUpp, Senin (09/09/2019) mengatakan kalau dirinya tidak bisa ditemui awak media.

Saat ditanya, sejauhmana penanganan kasus atas nama DK, di mana saat itu dirinya menjabat sebagai kepala di kantor tersebut yang diduga kuat mengetahui bagaimana proses dugaan penyalahgunaan uang senilai Rp 1 Miliar milik DK oleh JN.

“Baik pak sejauh ini prosesnya sudah masuk di kepolisian dan kami sudah mengikuti prosesnya dan kami tidak memiliki kapasitas utk memberikan staement apa pun, dalam hal ini karena masuk ranah hukum,” tulis AB melalui chat di WhatsUpp.

“Akan tetapi kami kami tetap patuh dan koopratif terhadap proses hukum yang berjalan dan mengikutinya sesuai dengan yg ditentukan oleh aparat penegak hukum, saat ini sedang proses selanjutnya dari pihak kepolisian,” tandasnya.

Sementara itu, beberapa nasabah bank tersebut yang sempat dimintai tanggapannya mengaku belum tahu ada kasus yang melilit di kantor Kas Kadungora dengan nilai uang yang jumlahnya sangat besar. Namun setelah dikasih tahu ada kasus tersebut, nasabah yang sempat diwawancarai merasa cemas juga, khawatir kalau terjadi pada dirinya.

Hingga berita ini dimuat, dengan bukti cukup kuat yang diperoleh dari DK dan orang tuanya selaku nasabah, tim investigasi Binpers.com masih terus melakukan penelusuran terkait kasus tersebut dan akan berupaya melakukan konfirmasi terhadap pihak-pihak yang berkompeten demi keberimbangan pemberitaan. (TIM)

Related posts

BINPERS.COM