25.8 C
Bandung
July 5, 2020
binpers.com
Investigasi Jawa Barat

Oknum Petugas KUA Pamulihan Sumedang Dinilai Arogan

0Shares
Sumedang, BN – Pasangan kedua mempelai pengantin IH dan AM nyaris tak jadi menikah, pasalnya prosesi pernikahan yang sudah direncanakan keluarga calon pengantin tersebut terhalang oleh sikap arogan penghulu (petugas pencatat pernikahan) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang – Jawa Barat, Minggu (14/7/2019).

Salah seorang angggota keluarga dari mempelai pria berinisial JA, kepada Binpers.com mengatakan prosesi pernikahan antara IH dan AM rencananya akan dilakukan sesuai dengan adat setempat dan syariat islam, yakni saat pencatatan identitas calon pengantin dan penandatanganan dilakukan secara terpisah karena keduanya belum muhrim sebab belum berstatus suami isteri. Namun, penghulu tersebut bersikeras agar keduanya (calon pengantin) dihadirkan.

“Petugas KUA tersebut memaksa keduanya harus hadir untuk menandatangani,” kata JA kepada Binpers.com saat dihubungi melalui sambungan telepon seluler, Minggu (14/7).

Lebih lanjut JA mengatakan, prosesi pernikahan keduanya sudah disepakati oleh kedua pihak keluarga akan dilakukan sesuai dengan adat setempat dan syariat islam, dimana kedua mempelai dipisahkan dulu sebelum resmi menjadi suami isteri, sedangkan penandatanganan dilakukan di tempat yang berbeda walaupun masih di rumah tersebut. Tapi petugas KUA menolak rencana tersebut, bahkan mengancam tidak akan memberikan buku nikah pasangan pengantin itu. Maka ketegangan (perang argumen) pun terjadi antara pihak keluarga calon mempelai dengan penghulu yang akan menikahkannya.

“Daripada malu, akhirnya pihak keluarga calon pengantin mengalah dan menghadirkan calon pengantin perempuan,” kata JA.

Hal tersebut, lanjut JA, sangat disayangkan karena fungsi petugas adalah melayani masyarakat, sedangkan pihak keluarga berupaya menjalankan syariat agama Islam sesuai dengan yang diyakininya dan adat kebiasaan lingkungan tempat tinggalnya.

Atas kejadian tersebut, pihak calon pengantin mengaku kecewa dengan perilaku arogan yang dilakukan oleh oknum petugas KUA kecamatan Pamulihan karena dinilai tidak menghargai adat istiadat warganya dan aturan yang diajarkan oleh agama Islam yang diyakininya.

“Mungkin dia petugas masih baru, jadi belum tau aturan,” tandas JA.

Sementara itu, salah seorang warga setempat lainnya yang enggan disebutkan identitasnya mengatakan, keberanian petugas KUA Pamulihan diduga didukung oleh amil (petugas pencatat pernikahan) desa Cilembu tempat pasangan kedua mempelai menikah.

“Keun bae, leutik oge da gede kawani (biarkan saja, kecil juga keberaniannya besar),” ujar nara sumber tersebut menirukan ucapan amil desa.

Hingga berita ini diturunkan, pihak KUA kecamatan Pamulihan maupun penghulu yang menikahkan IH dan AM belum dikonfirmasi. Terkait hal itu, tim Binpers.com akan terus menindaklanjuti guna keberimbangan berita ini. (Tim)

 

0Shares

Berita Terkait :

Solidaritas Pers Persiapkan Gelar Aksi Jilid II,Tuntut Kriminalisasi Wartawan

binpers

Desa Nagrog Menuju Kawasan Tempat Wisata Alam

Istia Miralita

KPK Tangkap Bupati Indramayu

binpers
BINPERS.COM

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy