BINPERS

Berita Investigasi Nasional

Proyek Gedung Rawat Inap RSUD Sultan Imanuddin Diduga Tanpa IMB

Berpotensi merugikan daerah dari sektor PAD, Pekerja tidak dilengkapi K3

Kalteng-Binpers.com,  Proyek Pembangunan Gedung Rawat Inap berlantai 5 Rumah Sakit Umum Daerah ( RSUD) Sultan Imanuddin Pangkalan Bun  Kabupaten Kotawaringin Barat Provinsi Kalimantan Tengah, diduga kuat bermasalah dan hal ini perlu ditelisik dan dipertanyakan.

Informasi yang berhasil dihimpun oleh wartawan Berita Investigasi Nsional/ binpers.com.com setelah turun kelapangan telah ditemukan beberapa kejanggalan dalam pelaksanaan pengerjaan proyek dimaksud.

Seperti yang nampak pada gambar, terpampang papan  proyek pembangunan Gedung Rawat inap informasinya dibangun  5 lantai dengan menggunakan dana dari DAK Kesehatan tahun 2018 sebesar Rp.24.930.000.000,- ( Dua puluh empat miliar sembilan ratus tiga puluh juta rupiah) untuk tahap 1, yang dilaksanakan selama 240 hari Kalender mulai tanggal 27 Maret 2018 diperkirakan selesai pada tanggal 21 Nopember 2018 yang akan datang, sebagai pelaksana pembangunan ini adalah PT.GRIYA FARTUNA BUUN dengan Nomor Kontrak RS/S.18.03.91.III.2 tanggal 27 Maret 2018.

Ada beberapa hal yang perlu dipertanyakan bahwa pada papan proyek dana yang diperlukan untuk membangun gedung ini tertera sebesar Rp.24 Miliar sekian  namun yang tertera pada LPSE sebesar 25 miliar sekian  mana yang benar, jika itu berubah maka perubahannya seperti apa dan apa penyebab perubahannya.

Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dilokasi itu tidak terlihat, diduga kuat tidak ada IMB nya, Buruh Bangunan yang mengerjakan proyek ini tidak semuanya  dilengkapi K3, tidak pakai sepatu Helm dan peralatan keselamatan lainnya.

Lalu Material bahan bangunan yang dipergunakan apakah sudah standar dan sudah layak digunakan seperti jenis dan ukuran besinya untuk menahan beban bangunan dengan kapasitas berlantai 5, tidak kalah pentingnya pasir yang dipergunakan kelihatannya menggunakan pasir sungai ini sangat perlu juga untuk dipertanyakan.

Jika beberapa hal tersebut diatas menyalahi aturan dipandang perlu Keprofesionalan Pelaksana Proyek ini harus dipertanyakan, fakta dilapangan terbukti bahwa beberapa persyaratan yang semestinya harus dilengkapi terlebih dahulu baru proyek ini bisa dikerjakan, tapi kelihatannya hal ini terkesan  diabaikan oleh Pelaksana,  dalam hal ini PT.GRIYA FARTUNA BUUN, proyek itu dikerjakan sebelum persyaratan dilengkapai seperti IMB belum ada.

Pihak Kontraktor melalui Teguh Prasetyo ketika dikonfirmasi di Lokasi bangunan, 11 Juli 2018 mengatakan bahwa IMB memang belum ada masih dalam proses, terkait masalah penerapan K3 terhadap pekerja bangunan,  pihaknya sudah melengkapi namun pekerja sendiri yang tidak mentaatinya,” Kami sudah menganjurkan pak namun ada sebagian buruh yang ngeyel tidak mau memakainya,” Ujar Teguh.

Terpisah menurut Pihak Kuasa Pengguna Angaran melalui Kabid Sarana Dan Prasarana RSUD Sultan Imanuddin  “KARDIANTO”, ketika dikonfirmasi dirungan kerjanya pada 11 Juli 2018 siang membenarkan bahwa Proyek ini belum memiliki IMB dan masih dalam proses,  hal ini pihaknya mengaku salah, Terkait cat bangunan gedung IGD yang tidak sempurna luntur dan terkoyak pihaknya juga membenarkan dan mengatakan bahwa sudah dicat kembali, terkait dengan adanya keretakan dibeberapa titik pihaknya enggan menjawab seakan-akan tidak tahu.

Menurut warga yang namanya tidak mau dipublikasikan, Pemenang proyek besar dirumah sakit ini patut dicurigai, pasalnya selalu dimenangkan oleh Kontraktor yang sama, kasihan juga nasip kontraktor yang lain  tidak diberikan kesempatan, mereka menduga adanya permainan busuk dipihak pelaksana lelang proyek.

Menurut HAIRIL, Gubernur Lembaga Swadaya Masyarakat Lumbung Informasi Rakyat (LSM-LIRA) Kalimantan Tengah, Pihaknya dalam waktu dekat akan turun kelapangan untuk melakukan Investigasi  memastikan kebenaran informasi ini.

” Dalam waktu dekat Tim LIRA  akan  kami turunkan ke lokasi untuk memastikan kebenaran Informasi ini, Jika terbukti ada indikasi menyalahi ketentuan  dan  aturan yang semestinya harus dipatuhi oleh pihak Kontraktor dan pihak Kuasa Pengguna Anggaran, maka kami akan  melakukan kajian lebih lanjut untuk melakukan pelaporan kepihak yang berwajib, apalagi bila ada indikasi merugikan keuangan negara,” tegas Hairil.

Sampai berita ini kami terbitkan pihak Direktur RSUD Sultan Imanuddin dan Direktur PT. Griya Fartuna Bun belum bisa dikonfirmasi karena masih diluar kota. (Misnato)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *