BINPERS

Berita Investigasi Nasional

Perusahaan Tambang Nikel, Cemari Lingkungan Kawasi

Sekdes Kawasi, Jimi beserta Korwil media binpers.com ketika memantau kawasan Perusahaan Tambang Nikel di Halsel.

Bupati Halsel Harus Segera Melakukan Tindakan Persuasif Sebelum Terjadi Hal Terburuk Bagi Masyarakat

Halsel-binpers.com, Tambang nikel PT.Mega Surya Pertiwi ( PT. MSP) di pulau OBI  Halmahera Selatan  Provinsi Maluku Utara, di musim hujan limbahnya bertebaran dipesisir pantai dan pemukiman penduduk.

Limbah nikel mentah (ore) membuat laut memerah dan terlihat pemukiman warga yang begitu semrawut karena jalan umum desa Kawasi Memerah becek dan sungai yang dulunya jernih kini dengan kehadiran PT.MSP  membuat dampak buruk bagi lingkungan sekitarnya.

Tak pelak, masyarakat yang hidupnya bergantung kepada laut tertimpa masalah besar, pesisir pantai pun ikut kotor karena limbah perusahaan yang ada di areal tersebut.

“ Sekarang air laut tercemar, biota lautpun makin sulit,”ucap salah seorang warga yang enggan menyebut namanya.

Kondisi sungai yang sekarang tercermari oleh limbah tambang

Menurut salah seorang tokoh masyarakat desa Kawasi, Jimi (40th), warga yang sekaligus menjabat sebagai sekdes mengatakan bahwa dirinya beserta ratusan keluarga yang mendiami Desa Kawasi kepulauan OBI Kecamatan OBI Kabupaten  Halmahera Selatan, sekarang merasa kesulitan untuk mencari mencari sumber penghidupan, karena adanya limbah perusahaan yang mengotori laut.

Selama ini,  dia menghidupi keluarga dari hasil laut dan olahannya. Beberapa tahun belakangan, rasa gundah menghampirinya lantaran lingkungan tempat tinggal tercemar limbah tambang nikel.

Desa kediaman Jimi terkepung 3 perusahaan raksasa  yang bergerak dibidang tambang nikel. Akibat eksplorasi yang dilakukan perusahaan tersebut, tak heran hutan-hutan di Desa Kawasi gundul.

Kondisi ini, langsung berpengaruh buruk pada pesisir, terlebih penambangan nikel bersentuhan langsung dengan garis pantai. Air laut keruh, berwarna oranye bahkan kemerah-merahan.

“Jadi kalau hujan, laut merah semua. Kita angkat jaring itu semua dipenuh tanah merah,” keluhnya.

Sepekan yang lalu, Bupati Halmahera Selatan, Bahrain Kasuba mendatangi perusahaan tambang nikel tersebut, namun tidak diketahui tujuan kunjungan orang no.1 di Halsel itu, karena ketika tim wartawan media BN/binpers.com mencoba untuk mengklarifikasi ditempat dan waktu yang berbeda, beliau terkesan menghindari wawancara seraya berkata, “akan ke pulau Pogo Pogo dan Makean,” ucapnya singkat ketika di temui di Pelabuhan Habibi tanpa menjelaskan apakah dalam rangka kunjungan kerja atau “kegiatan lain”.

Sementara itu, Camat OBI Selatan ketika dikonfirmasi pada hari Kamis, (9/5/2018) di ruang kerjanya terkait kehadirannya di PT. MSP pekan lalu,  dirinya mengatakan berkunjung ke perusahaan tersebut karena memenuhi undangan untuk menghadiri rapat sengketa lahan yang ada di Akelamo.

Permasalahan limbah tambang nikel yang di sebarkan oleh PT. MSP semakin menjelma menjadi polemik yang meresahkan  bagi masyarakat.

Pada awalnya mereka menyambut baik kehadiran perusahaan tersebut, karena dijanjikan mendapatkan lapangan pekerjaan yang layak.

Seperti yang diungkapkan oleh salah satu warga yang mengatakan, masyarakat di sini (Kawasi) ada yang kerja ditambang sebagai buruh kasar, sopir truk dan operator alat berat.Namun kesejahteraan masih minim.

Dia menilai,  awal kedatangan perusahaan tambang tersebut membawa angin segar. Namun banyak yang kecewa karena ternyata perusahaan ini menggunakan peraturan sendiri dan itu tidak seperti aturan yang di berikan oleh Disnakertrans.

“Sebagian pemuda desa sangat kecewa dengan sikap perusahan yang selalu semena mena, banyak karyawan yang di berhentikan sepihak oleh perusahaan dengan alasan yang sepele, karena sebagai manusia kami juga punya hak untuk berbicara masalah dalam pekerjaan yang jika tidak pantas maka kami protes, tapi kami langsung di berhentikan,”ungkapnya.

Perusahaan tambang yang mengelilingi perkampungan kini banyak mengubah kondisi kehidupan masyarakat Kawasi.

Rudi Joronga, warga yang setia pada warisan leluhur, hidup dan mengabdi di laut.  tetap teguh berpegang pada falsafah leluhur sukunya yaitu laut adalah ombo atau raja.

Alasannya sederhana, laut telah menyediakan segala. Dia cukup menarik layar dan menjatuhkan pancing bila ingin ikan. Loncat ke laut bila hendak mandi, atau menatap semburat merah matahari untuk menghilangkan kepenatan.

Namun sekarang sudah jauh berbeda,“Dulu itu, di sini sunyi dan sejuk. Sekarang, mungkin ratusan mobil bulak  balik, ” ketusnya.

Kekesalan salah satu sesepuh adat pun muncul sehingga Pak Hamja angkat bicara secara terang terangan bercerita Kawasi kini pemandangan lazim harian adalah kendaraan roda empat,  pick-up hingga double handle lalu lalang membawa karyawan dan buruh tambang.

Rumah penduduk di sepanjang bahu jalan berwarna kuning tertutup debu polusi. Rumah warga bagian tengah hanya bisa pasrah terpapar debu sembari menutup hidung pakai baju.

“Torang warga masyarakat  hanya bingung dan sedih ?” katanya pasrah.

Dia mengenang, sebelum tambang masuk sekitar pemukiman mereka, ikan mudah didapat. Sekali menjaring, puluhan ikan beragam ukuran terjaring. Sebagian tangkapan dibawa pulang untuk konsumsi keluarga, sisanya dijual hingga dari hasil tangkap ikan ini, dia bisa sekolahkan anak-anak .

“Sejak masuk tambang di desa kami,  kita semua mencari Tangkapan ikan jadi berkurang karena pesisir laut sudah tercemar ,”katanya.

Tak hanya  tercemar limbah nikel, sedimentasi dari ore nikel tak terbendung di pesisir desa Kawasi. Pengolahan nikel dan bongkar muat di dermaga khusus atau jeti tambang membuat laut tercemar. Limbah ore nikel  membuat laut berwarna kemerahan hingga mendekati perairan laut lepas.

Di tepian pulau kini perahu nelayan berganti dengan tongkang dan takbout menepi di dermaga yang sudah di siapkan untuk ekspor impor hasil tambang.

“Apa yang terjadi di Desa Kawasi  tidak bisa dipungkiri adalah pencemaran lingkungan”  kata Ketua BPD saat dikonfirmasi tim wartawan binpers.com.

Proses pengelolaan pertambangan tak sejalan dengan aturan. Jarak tambang dengan laut sangat dekat hingga mudah mencemari laut. “Konawe Utara, memang dekat dengan bibir pantai. Abrasi itu pasti terjadi, terlebih di musim hujan,” tegasnya.

Ketua BPD  tersebut mengatakan, penyebab laut tercemar karena ada tambang di gunung. Saluran air tidak disiapkan perusahaan. Seharusnya,  saluran air dibuat sesuai ketentuan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal).

“Kan dalam dokumen amdal jelas harus ada saluran air sebelum tambang,”paparnya.

Dia menilai, Dinas Lingkungan Hidup Halsel  berperan mengkaji lebih dalam sebelum dan sesudah operasi, seperti pembuatan daerah serapan air, udara, laut dan pemukiman sekitar tambang.

Untuk mengantisipasi pencemaran laut, harus dibangun pohon pelindung dan bak penampungan air guna mengatur sirkulasi air limbah olahan nikel. Namun hal itu tidak disiapkan perusahaan hingga sekarang.

“Limbah tambang juga berpengaruh bagi ekosistem laut karena mengandung logam berat, tak sesuai lagi dengan kondisi lingkungan sebelumnya. Populasi ikan menurun dan hilang,” katanya soal kualitas air di Blok pada 2013-2018 memperlihatkan, logam berat mencemari lingkungan antara lain nikel, merkuri dan kandungan minyak pada solar dan bensin.

“Ini berbahaya dan beracun dalam jumlah besar atau dalam bentuk tertentu,” kata BPD.

Logam berdampak negatif terhadap ekosistem laut Mandiodo. Dua jenis sumber makanan ikan, yaitu bentos dan plankton rawan tercemar kadar logam.

Dari hasil penelitian, bentos dan plankton tercemar membuat ikan pergi meninggalkan habitat awal. Kondisi ini mengakibatkan populasi ikan berkurang dan berimigrasi ke tempat baru. Ada juga ikan memilih tetap tinggal dengan mengkonsumsi makanan tercemar logam berat.

“Pencemaran lingkungan Desa Kawasi di wilayah ini lebih pada sedimentasi bawah laut akibat ore nikel, hingga konsentrasi ikan begitu gaduh dan tidak menerima kondisi lingkungan,” ucapnya.

Bisa dikatakan ikan berkurang atau bahkan hilang sama sekali. pencemaran lingkungan logam berat terus menerus mengakibatkan kesehatan ikan terganggu. Logam berat, seperti nikel atau merkuri mengendap pada tubuh ikan dan kala dikonsumsi bisa jadi penyakit.

Hal senada pun kembali di utarakan oleh Jimi, sekdes yang baru menjabat ini mengungkapkan semuanya tidak sesuai tata kelola pertambangan oleh perusahaan pemegang IUP di Halmahera Selatan dan mengisyaratkan ada pelanggaran.

“Ada manajemen pertambangan yang baik dari Dinas Lingkungan Hidup namun tak dijalankan,” tegasnya.

Efek negatif pertambangan tak hanya merusak lingkungan tetapi berdampak sosial kepada masyarakat. Dia mencontohkan, penyimpanan ore nikel di fasilitas umum pemukiman warga. Ada SD di kelilingi ore nikel di desa kawasi padahal  Fasilitas ini harus jauh dari ore nikel yang mengandung unsur kimia berbahaya.

Berdasarkan pantauan tim wartawan binpers.com memang banyak masalah lingkungan terjadi, seperti pencemaran pesisir pantai dan reklamasi bekas tambang yang tidak berjalan.

Hal ini harus segera ditangani oleh pemerintahan daerah setempat, terutama Bapak Bupati yang sudah seyogyanya memberikan solusi terbaiknya terhadap PT. MSP sebelum terjadi dampak yang lebih buruk bagi masyarakat.

Hingga berita ini di terbitkan, tim Investigasi masih terus melakukan penelusuran dengan mencoba berkomunikasi dengan instansi terkait terutama orang no. 1 di Halsel ini. Namun hingga saat ini bapak Bupati Halsel masih belum dapat dihubungi karena kesibukannya yang luar biasa. (M. Said laporan dari Halsel Maluku Utara)

3 thoughts on “Perusahaan Tambang Nikel, Cemari Lingkungan Kawasi

  1. Polemik dengan hadirnya tambang di desa kawasi hingga kini memberikan dampak buruk bagi masyarakat, semoga pihak yang berwewenang yang mengawasi proses pertambangan lebih serius bekerja dan meninjau laporan berkala proses tambang dari perusahan secara bijaksana dan jujur.
    Merdeka…!!!

  2. Minim nya penerangan, bahkan tdk ada sama sekali… Padahal desa yg pnya hasil tambang melimpah ruah… Sangat di sayangkan kn, warga tinggal dgn keadaan gelap gulita, sedang kn d tambang, terang benderang…

  3. perlunya menteri Lingkungan hidup merelesasikan aktipitas yang sebenarnya sebagai pengawas tunggal tentang lingkungan hidup dan tidak pilih tebang terhadap perusahaan yang sengaja membuang Limbah begitu sahaja ,sehingga masyarakat Kawasi dan sekitar sangat dirugikan atas perbuatan perusahaan tersebut ” m,erdeka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *