BINPERS

Berita Investigasi Nasional

Infrastruktur Jalan Sungai Bahar Hancur, Masyarakat Menjerit Harga Sawit Tertekan

Muaro Jambi-BN, Infrastruktur Jalan Sungai Bahar  Sungai Bahar kabupaten Muaro Jambi. Propinsi Jambi Rusak Parah, akibatnya jalan Propinsi dan juga jalan Kabupaten rusak parah, terdapat Mobil Tronton Fuso yang berbuatan Kayu, CPO dan Buah Melintas.

Masyarakat Sungai bahar yang umumnya hidup dari perekonomian Kelapa Sawit tertekan dengan Monopoli harga yang tidak menentu. Harga Kelapa Sawit yang sedikit menanjak di Bulan 12 Tahun 2017 di level harga Perusahan di Sungai Bahar sampai ke Jambi mencapai Rp 1.900 sekarang menjadi Rp1.650 , ini berarti di duga kuat adanya Spekulasi harga, karena imbas ke Petani juga terasa di tambah dengan keadaan jalan Poros Sungai Bahar dari simpang PTPN 6 Bunut sampai ke Unit 22 Transmigrasi.

Akibat kerusakan jalan yang sangat parah, pada tanggal 15 November 2017, Gubernur Zumi Zola dan Pj.Bupati Kailani meninjau jalan yang rusak parah tersebut.

Gubernur memerintahkan kepada PJ.Bupati Kailani agar menyurati kepada Perusahaan Mobil Tronton pengangkut kayu dan juga kepada Pengusaha mobil Puso pengangkut Buah Kelapa Sawit/Tandan Buah Segar  ( TBS ) ( Berita BN  Edisi 127/11).

Nampaknya himbauan tersebut di duga kuat dilanggar dan adanya penyalahgunaan  wewenang Lembaga Aparatur  Negara di Propinsi Jambi, Dikarenakan  mobil besar Fuso masih melintasi.

Timbul pertanyaan bagi masyarakat Sungai Bahar ?,apakah benar memang ada Surat larangan dikeluarkan oleh PJ.Bupati Muaro Jambi terhadap Pengusaha Mobil Tronton dan Mobil puso tersebut.? Atau Pengusaha Mobil yang dilarang tersebut tidak mengindahkan Surat  Larangan Mobil Teronton dan Puso yang melebihi tonase dari 25 ton  sampai 45 ton oleh PJ. Bupati  Muaro Jambi Kailani waktu masih menjabat.

Masyarakat meminta penegak Hukum untuk menangkap mobil-mobil Fuso yang melintas dan menangkap bagi penyalahguna wewenang, karena dikhawatirkan menjadi Imbas Perekonomian Petani Sawit umumnya dari Unit 1 sampai Unit 22 dan Petani-petani yang berpenghasilan Kelapa Sawit. (Korwil/ Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *