Cyanide dan Bahan Kimia Berbahaya Dijual Bebas di Seruyan Tengah?

LIRA: Aparat dinilai lakukan Ppmbiaran terhadap jual beli Cyanide dan Bahan Kimia Berbahaya lainnya kepada masyarakat penambang ilegal”

KALTENG (SERUYAN), BINPERS.COM – Aktivitas jual beli Bahan Kimia Berbahaya yang diduga kuat tidak mengantongi ijin di Wilayah Hukum Polres Seruyan masih marak terjadi. Hal ini patut ditelusuri, ditelisik dan dipertanyakan.

Informasi yang berhasil dihimpun oleh Wartawan Berita Investigasi Nasional (BINPERS.COM) setelah melakukan Investigasi dan penelusuran lapangan ke lokasi penambangan ilegal di Desa Ayawan yang lebih dikenal dengan Wilayah Ungkap, Kecamatan Seruyan Tengah atau Rantau Pulut Kabupaten Seruyan Provinsi Kalimantan Tengah pada hari Kamis tanggal 23 Nopember 2017 sekira jam 12.47 Wib. yang lalu, telah ditemukan Racun atau barang berbahaya berupa zat Kimia Racun Pembunuh masal. Zat tersebut sangat berbahaya jika terkontaminasi dengan manusia serta mahluk hidup lainnya berupa Cyanide, Carbon dll, namun dipergunakan secara bebas oleh para penambang ilegal di wilayah itu.

Barang tersebut ditemukan di lokasi Penambangan yakni di dalam pondok salah seorang penambang berinisial HER (40). Ketika ditanya awak media untuk apa barang itu dan dari mana barang tersebut diperoleh atau dibeli, ia menjawab, “Barang ini untuk usaha emas, dan barang ini kami beli dari Desa Batu Agung B3 di Toko milik Mat Plores,” Ujar HER.

“Barang ini selain untuk keperluan kami sendiri, kami juga menjualnya secara eceran kepada kawan-kawan penambang disini, barang ini kami beli dari Mat Plores 1 Galon kecil semacam ini seharga kurang lebih lima juta rupiah,” Jelas HER sambil menunjuk barangnya.

Berdasarkan informasi dari HER ini, kembali awak media kembangkan dan berusaha untuk menelusurinya. Alhasil, pada hari Rabu tanggal 27 Desember 2017 awak media berhasil menemukan alamat Toko yang menjual Barang Berbahaya itu, namun sayangnya belum berhasil menemui pemilik toko itu, hanya bisa bertemu dengan salah seorang Karyawan toko seorang laki-laki yang mengaku sebagai saudara dari MP (pemilik took, red) dan dijelaskan olehnya bahwa MP sedang berada di luar Kota sehingga tidak bisa dihubungi.

Saat ditanya terkait penjualan bahan kimia berbahaya yang dimaksud, karyawan ini tidak berani memberikan penjelasan kepada awak media dengan alasan takut disalahkan, ”Saya tidak berani memberikan penjelasan itu pa, karena saya takut kalo disalahkan bos,” katanya.

Saat berada di Toko bagian belakang yang boleh dikatakan gudang persediaan barang milik MP dimana wartawan media ini dipersilahkan masuk namun kamera tersembunyi milik wartawan sempat mengambil momen gambar barang apa saja yang ada didalam gudang tersebut yang saat itu sengaja wartawan tidak menanyakan dan menunjuk barang yang dicurigai dimaksud. (Catatan: Dokumen foto-foto tersebut disimpan di tim redaksi sebagai bukti)

Sebelum meninggalkan Desa Batu Agung, wartawan berhasil menemui Kapospol setempat yang kebetulan tidak begitu jauh jaraknya dari Toko milik MP untuk konfirmasi dan mempertanyakan terkait dengan penemuan masalah ini. Walaupun sempat menunggu beberapa menit Kaposponya sedang melakukan Patroli Pengamanan Natal tahun 2017 dan pengamanan menyambut tahun baru 2018.

Kapospol Batu Agung BRIPKA Muhtahid ketika ditanyakan permasalahan ini juga tidak berani memberikan penjelasan dengan alasan sama dengan Karyawan Toko tadi. Menurutnya, bukan ranahnya dan takut disalahkan Pimpinannya dalam hal ini Kapolsek Seruyan Tengah selaku atasannya.

sempat dikonfirmasi melalui Hand Phon, namun Kapolsek sedang berada di luar entah dimana, saat itu belum sempat ditanyakan. Intinya, tidak bisa ditemui di Kantornya, belum bisa memberikan penjelasan secara rinci terkait permasalahan ini, dan meminta waktu di lain waktu agar bisa bertemu secara langsung kepada awak media.

Perasaan kesal dan kecewa timbul di benak awak media (wartawan) saat itu, pasalnya kapasitas seorang Kapospol yang diduga kuat tau persis dengan masalah ini beralibi tidak tau dan tidak berani memberikan penjelasan apa-apa kepada awak media.

Ditengah perjalanan pulang Wartawan media ini sempat membuat konsep berita yang menggambarkan kronologis isi berita yang rencananya akan diterbitkan. Konsep itu dikirim Wartawan melalui Whats upp (WA) menuju Kapolsek Seruyan Tengah, agar segala permasalahan itu bisa ditanggapi atau dijawab Kapolsek dengan harapan agar berita itu berimbang tidak mengandung berita fitnah, berita Hoax, dan lain-lain.

Jawaban dari Kapolsek melalui WA pun diperoleh wartawan ini sesuai jam di HP menunjukan jam 21.25 Wib dengan jawaban sebagai berikut, ”tolong bang kalau bisa dipending dulu,” demikian jawaban Kapolsek.

Komunikasi terus saja dilakukan wartawan ini kepada Kapolsek agar ada kepastian. Pihak wartawan meminta kapan dan kapan pertemuan itu bisa dilakukan.

Upaya wartawan tidak surut untuk bisa ketemu Mat Plores, dan Kapolsek Seruyan Tengah, akhirnya kru wartawan kembali berangkat dari Sampit menuju Desa Batu Agung pada hari Jum’at 29 Desember 2017, namun Mat Plores tidak mau ditemui dan terkesan menghindar dari wartawan padahal ia ada di tempat. Melalui Perwakilannya atau Karyawan dari MP yang mengaku saudara MP, Wartawanpun ditemui. Pihaknya telah membenarkan Informasi itu dan mengatakan minta berdamai dengan maksud memberikan sejumlah uang damai kepada wartawan, tetapi tawaran damai dari perwakilan MP itu akhirnya tidak ditanggapi dan langsung ditolak oleh Wartawan media ini dan langsung pergi meninggalkan Toko tersebut. Selanjutnya Wartawan langsung menuju Kantor Polsek Seruyan Tengah untuk menemui Kapolsek guna melakukan konfirmasi, namun ternyata Kapolseknya juga tidak bisa ditemui dan terkesan menghindar dari wartawan.

Di tempat terpisah, menurut Gubernur Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Kalimantan Tengah Hairil ketika dikonfirmasi terkait dengan permasalahan ini, pihaknya menduga ada pembiaran yang dilakukan oleh oknum penegak hukum atau Polisi di Wilayah Hukum Kabupaten Seruyan terhadap aktivitas transaksi jual beli Bahan Kimia Berbahaya yang diduga tanpa ijin berupa Cyanide, Carbon dll, kepada para penambang emas ilegal di wilayah tersebut.

Dikatakan oleh Hairil, pembiaran ini sebagai suatu perbuatan yang patut kita sayangkan karena sesungguhnya Polisi yang bertugas di wilayah itu harus mencegah atau menghentikan transaksi ini, tidak sebaliknya. Diduga kuat oknum ini melakukan pembiaran dan terkesan melindungi, hal ini patut untuk ditelisik, ditelusuri dan patut untuk dipertanyakan, ada apa ?

“Boleh dikatakan Polisi melakukan pembiaran terhadap jual beli barang berbahaya semacam ini, karena faktanya jelas Kantor Polisi tidak begitu jauh dari Toko yang menjual zat Kimia berbahaya ini kepada masyarakat penambang,” jelas Hairil.

Sampai berita ini kami terbitkan Polres Seruyan dan Polda Kalteng belum bisa ditemui untuk dikonfirmasi. (Misnato)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *