Puting Beliung Porak-porandakan 63 Rumah Warga Polewali Mandar

POLMAN, SULBAR (BINPERS.COM) – Sedikitnya 63 rumah miiwarga di dua kelurahan dalam wilayah kecamatan Polewali Kabupaten Polewali Mandar provinsi Sulbar, Minggu tanggal 22 Oktober 2017, sekitar pukul 20.30 wita diporak-porandakan angin Putting Beliung dan mengalami kerusakan cukup parah. Informasi dihimpung JUrnalis BIN Pers.com di tempat kejadian perkara (TKP), angin puting beliung porak-poradakan puluhan rumah warga disertai hujan deras hingga atap rumah para korban terbang terbawa liutan angin puting beliung mencapai 10 meter. Seperti di kompleks perumahan Lantora kelurahan Lantora, berjumlah tujuh rumah, atap terbuat dari seng terbawa anging hingga pertengahan persawahan. Demikian pula di lingkungan Kalawa kelurahan Lantora kecamatan Polewali, angin puting beliung juga porak-porandakan rumah warga yang jumlahnya mencapai 63 unit, seng kebanyakan terbang terbawa angin puyu ( puting beliung) hingga lima meter, bahkan roboh rata dengan tanah, apalagi umumnya rumah warga itu sudah tua dan termakan usia sehingga pada saat dihantam badai puting beliung, tentu saja roboh dan mengalami rusak berat.

“ Jumlah rumah di kecamatan Polewali terkena angin puting beliung sebanyak 63 uni, terdiri dari perumahan Jari dua Lantora lingkungan Lantora sebanyak 7 unit, lingkungan Kalawa kelurahan Lantora sebanyak 45 unit sementara di lingkungan Wattang kelurahan Wattang kecamatan Polewali sebanyak 5 unit rumat dan khusus kios pedagang kaki lima pasar baru Polewali sebanyak 16 unit terkena puting beliung “, kata Camat Polewali, Taufik A.Palancongi dan dibenarkan Tim BPBD Kabupaten Polewali Mandar, Bugiman disela-sela penerimaan dan pengumpulan data para korban bencana alam, Senin (23/10-2017).

Agus Salam, salah seorang korban puting beliung dilingkunan Wattang kelurahan Wattang kecamatanPolewali kepada Jurnalis BINPERS.COM, Senin (23/10-2017) disela-sela menata kembali rumahnya, menceritakan kronologis peristiwa bencana alam putting beliung itu, pada malam nas, itu, sebelum terjadi musiba, dirinya setelah pulang dari masjid salah Isyah dan bersama keluarganya (istri dan anaknya serta kerabatnya) asyik ngobrol diruang tamu, namun tiba-tiba kencang angin kemudian hujan, bahkan membuat dirinya kaget setelah beberapa saat kemudian, bunyu gemuruh dan getaran mulai terasa dan tiba-tiba atap rumahnya berputar naik dan semua perekat pakunya berikut balok penyanggah atap seng lepas dan roboh ketanah dengan sekejap kondisi rumahnya pada malam itu, tembus peglihatan ke angkasa dan seluruh badan rumah mulai basah terkena air hujan, sementara dirinya bersama keluarganya mencari perlindungan disudut rumahnya dengan mengucapkan kalimat “ Allahu Akbar ” berkali-kali hingga badai berlalu meski kondisi ruangan rumahnya berantakan akibat musibah malam nas tersebut. Seperti diketahui, Agus Salam, yang sehari-harinya aktivis LSM dan baru saja direhab rumahnya melalui program BSPS tahun 2017 tetapi kini kondisi atas rumahnya memprihatinkan lantaran badai puting beliung beraksi tanpa kompromi.

Lain halnya dialami, lelaki Ahmad ditemani istrinya, warga Blok G. I kompleks BTN/Perumahan Lantora kecamatan Polewali, kepada Jurnalis BIN Pers.com mengisahkan, sebelum peristiwa itu terjadi, anak simatawayangnya, gelisah dan menganis terus dan tidak bisa tidur malam itu sehingga bersama istrinya terpaksa meninggalkan rumahnya dan memilih bermalam di rumah sanak keluragnya di luar kompleks Perumahan Lantora dan hingga peristiwa nas itu terjadi, dirinya dan keluarganya tidak berada di tempat dan kemungkinannya sebagai isyarat tetapi dirinya tidak mampu membaca tanda-tanda tersebut, kata Nyonya Ahmad.

“ Saya tidak menyaksikan rumahnya semua atas rumahnya roboh walaupun menggunakan rangka baja ringan tetapi tidak kuat menahan kerasnya aksi puting beliung tanpa komporomi malam itu” ungkap Ahmad didampingi istri tercintanya di TKP. Dalam peristiwa bencana alam tersebut, tidak ada korban jiwa dan korban materi dan diperkirakan ratusan juta rupiah sementara bantuan logistic untuk korban, baik dari pemkab Polman melalui Wakil Bupati Polman, HM.Natsir Rahmat maupun bantuan lainnya terus mengalir, bahkan Badan Penaggulangan Bencana Daerah ( BPBD) Polman telah membagikan tenda biru kepada korban. Hanya saja, sebagian besar warga korban bencana anging puting beliung lebih menginginkan bantuan infrastruktur logistik berupa atap dan dana ketimbang sembako seperti lazimnya ketika ada bencana alam meninpa warga. “ Kami hanya butuh dana kontan dan seng atau balok kayu untuk perbaikan atap rumah serta komponen lainnya yang sudah rusak.” ujar para korban. (Andi Rasyid Mordani)

Editor Media binpers.com

Berita terkait

Leave a Comment