BINPERS

Berita Investigasi Nasional

Perlawanan TNI Di Perang Proxy (Proxy War)

Oleh : Daeng Supriyanto

Perang tidak melulu didefinisikan sebagai bertemunya dua pasukan secara fisik di medan laga. Di dunia moderen saat ini, perang bisa dilakukan melalui banyak cara. Salah satunya adalah melalui infiltrasi pemikiran dan ide. Ini adalah ciri kehidupan moderen dimana heterogenitas ideologi bisa bertemu dalam satu teritorial. Perang bisa berawal dari tidak ditemuinya kata sepakat antar dua pemikiran dan ideologi yang dicampur dengan kepentingan ekonomi dan politik.

Indonesia secara tidak sadar sedang perang proxy war karena saat ini sendi-sendi agama dan golongan sedang dibenturkan oleh pihak-pihak tertentu yang sedang mencari keuntungan terhadap pelemahaan kondisi bangsa Indonesia. Sebelumnya kita perlu tahu apa sebenarnya yang dimaksud dengan proxy war mungkin sebagian dari kita belum ada yang mengetahuinya, untuk itu saya perlu jelaskan terlebih dahulu, jadi proxy war adalah suatu perang yang terjadi ketika lawan kekuatan menggunakan pihak ketiga sebagai pengganti berkelahi satu sama lain secara langsung. Jadi paham ya, ini ibarat si A mau berkelahi dengan si B, tetapi si A ini pakai joki pihak C untuk berkelahi dengan si B.

Dan jenis perang inilah saat ini sedang dialami Indonesia. Ada pihak-pihak yang berusaha “memerangi” Indonesia menggunakan pihak ketiga. Cara ini beda tipis dengan startegi devide et impera yang dulu digunakan Belanda saat menjajah Indonesia.

Dampaknya hampir sama, Indonesia menjadi lemah dan akhirnya mudah dikuasai. Motifnya juga hampir sama seperti di masa kolonial, ya ekonomi (penguasaan sumber daya alam)
Contoh yang paling jelas dari proxy war adalah lepasnya Timor Timur dari Indonesia (tahun 1999). Ada apa di balik upaya melepaskan Timor Timur dari Indonesia? Ternyata ada yang menginginkan ladang minyak Greater Sunrise di Celah Timur. Sebuah buku tentang isu itu ditulis oleh orang Australia yang menjadi penasihat (mantan Presiden Timor Leste dan mantan pemimpin pemberontak Fretilin) Xanana Gusmao.

Proxy war lain yang telah dimainkan adalah serangkaian demonstrasi besar yang menentang 20 perusahaan kelapa sawit milik Indonesia di Sumatera pada tahun 2013, yang pada akhirnya banyak perusahaan kelapa sawit lalu ditutup (akibat demo itu), lalu dijual kepada pihak asing. Anehnya, demonstrasi tiba-tiba saja berhenti setelah perusahaan-perusahaan itu dikuasai pihak asing.

Perang proxy juga sedang berlangusng dengan target generasi muda. Ia menyebutkan sekitar 21 kasus kampus-kampus di berbagai universitas yang dirusak oleh mahasiswanya sendiri dalam tiga tahun terakhir.

Cara lain menarget generasi muda adalah dengan narkoba, peredaran narkoba di kalangan generasi muda adalah bentuk proxy war dengan tujuan melemahkan generasi muda. seperti Perang Candu yang dulu dilancarkan Inggris untuk melemahkan generasi muda China (HongKong) di jaman kolonial.

perang proxi dapat dilakukan pihak asing terhadap Indonesia dalam berbagai bentuk yaitu dengan menjadikan Indonesia sebagai pasar produk pihak asing, menghambat pembangunan dan pengembangan kualitas sumber daya manusia Indonesia agar kalah bersaing dalam era pasar bebas dunia.

Selain itu juga, merekrut generasi muda Indonesia lewat indoktrinasi, disertai fasilitas pendidikan dan materi, agar mau jadi agen negara asing. Tujuannya, agar kalau mereka jadi pemimpin bangsa Indonesia di kemudian hari, mereka akan bisa dikendalikan oleh pemerintah negara asing tersebut.

Serangan negara asing akan melakukan investasi besar-besaran di bidang industri strategis, agar menguasai sektor industri strategis di Indonesia. Seperti: sektor migas, pertambangan, listrik, komunikasi, satelit, alat utama sistem persenjataan militer RI, saham bluechip, dan lain-lain.

Dan pihak asing berusaha menciptakan pakta pasar bebas regional dan dunia, agar produk lokal Indonesia menjadi tertekan dan hancur. Pihak asing melakukan penetrasi, penyusupan, suap, kolusi dengan pihak anggota legislatif Indonesia, agar produk hukum strategisnya akan menguntungkan pihak asing, menciptakan kelompok teroris di Indonesia, agar dengan dalih untuk memerangi terorisme dunia, pihak asing dapat leluasa melakukan intimidasi dan campur tangan masuk ke Indonesia.

Serta , membeli dan menguasai media massa, baik cetak maupun elektronik, untuk membentuk opini publik yang menguntungkan pihak asing. Mereka menguasai industri teknologi komunikasi tingkat tinggi, seperti satelit komunikasi dan satelit mata mata, agar dapat menyadap dan memonitor seluruh percakapan pejabat penting Indonesia, juga lokasi kekuatan militer Indonesia, serta kekayaan tambang Indonesia dan memecah belah dan menghancurkan generasi muda Indonesia dengan narkoba, pergaulan seks bebas, budaya konsumtif, dan bermalas malasan.

Tetapi esensi perang proksi bukan terletak pada modusnya, yang bisa sangat beragam, tetapi pada penggunaan pihak ketiga. Si aktor utama justru tersembunyi atau tidak turun tangan langsung dalam menyerang Indonesia.

Proxy war harus dilawan. Tidak ada pilihan lain. Kita tentu tidak mau dibodoh-bodohi dan ditipu terus sama pihak asing. Tidak bisa tidak, seluruh elemen bangsa, terutama generasi muda, harus pintar dan selalu berpikir logis, memiliki kesadaran akan bahaya yang mengancam. Cukup sudah nenek moyang kita dulu yang “diadu domba” oleh pihak asing!

Semoga saja, dengan pemahaman yang lebih baik tentang perang proksi, masyarakat Indonesia dan TNI sebagai aparat pertahanan-keamanan bisa lebih cerdas dalam membaca situasi. Dengan demikian, mereka tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh taktik dan strategi pihak luar, yang mungkin berniat mengganggu atau merusak Negara Kesatuan RI. SELAMAT HUT TNI Ke-72

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *