Makkah dan Madina di Mata Drs. MS. H. Samanlino

Drs. MS. H. Samanlino

POLMAN (SULBAR), BINPERS.COM – Labbaik Allahumma labbaik (aku datang memenuhi panggilanmu ya Allah). Walalaupun pelaksanaan ibadah haji telah berlalu tetapi tetap meninggalkan kisah nyata dan berkesan, bahkan tidak pernah terlupakan suka duka bagi muslim yang baru saja melaksanakannya selama berada di tanah suci Mekkah dan Madina, seperti dialami seorang Pensiunan PNS, Drs. MS. H. Samanlino, salah seorang jamaah haji asal kelurahan Darma kecamatan Polewali Kabupaten Polewali Mandar provinsi Sulbar dengan kloter 27 Sulbar campuran Polewali Mandar dan Mamuju Utara dengan jumlah 455 orang TPHI, DR.KH. Andi Amrullah Akil dan ketua Kloter 27, Drs, Saifuddin serta petugas kesehatan.

Menurut H. Samanlino ketika bincang-bincang Jurnalis BIN Pers.com, Andi Rasyid Mordani di kediamannya, Jumat (6/10-2017), sejak dirinya bersama istri tercintanya dan anaknya serta 455 jamaah haji dari Polman dan Mamuju Utara, yang masuk dalam kloter 27 Sulbar, Indonesia berangkat meninggalkan tanah kelahirannya, Polewali Mandar menuju bandara Internasional Hasanuddin hingga bandara King Abdul Azis Jeddah untuk memenuhi panggilan Ilahi untuk menyempurnakan Islamnya di tanah suci Mekkah dalam perjalanannya berjalan lancar dan sukses, bahkan selama berada di tanah suci Mekkah dan Madinah dalam menunaikan ibadah haji memang sulit terlupakan sepanjang masa betapa indahnya ketika kita memenuhi panggilan ilahi untuk menunaikan ibadah haji sebagai penyempurnaan sebagai muslim.

H. Samanlino lebih jauh mengisahkan, satu hal yang paling istimewah selama perjalanan menunaikan ibadah haji, bahwa sejak hidupnya tidak pernah menyaksikan lautan manusia yang jumlahnya jutaan dengan satu komando kalimat “ Allahu Akbar” Allah Maha Besar bersatu dengan niat suci dan ikhlas dalam menunaikan panggilan ilahi untuk menunaikan ibadah haji sebagai bukti kebesaran dan kekuasaan Yang Maha Kuasa yang tak ada tarahnya. “ Saya sadar betul, bahwa nikmat diberikan dari Allah SWT berupa harta benda selama ini tidak ada artinya dan semua kita tinggalkan pada saatnya kecuali nilai ibadah dan amal baik kita lakukan. Selain itu, pelayanan, makanan, air disediakan di Makkah dan Madina semuanya serba ada “, kenang H.Samanilo dengan sedikit terharu.

Menjawab Jurnalis media ini tentang kendala yang dialami selama di tanah suci Mekkah. Menurut H.Samanlino tetap ada tetapi semuanya teratasi dengan baik berkat perlindungan dan pertolongan dari Allah SWT. Namun satu hal yang pernah menimpah dirinya dan menjadi edukasi bagi dirinya sendiri, ketika dirinya menuju suatu tempat dan jalan harus dilalui umumnya kaum perempuang dan tidak ada jalan lain kecuali harus melewati jalan itu dan salah seorang jamaah haji asal Indonesia menegur dengan kalimat bahwa anda tidak bisa masuk dikawasan itu karena bukan muhrim sehingga dirinya secara sepontan menjawab kepada Ibu itu, bahwa tolong ibu jangan ngomel-ngomel karena kita ini banyak oang antri harus lewat di jalan itu. Tetapi dengan kekuasaan Allah SWT memberikan cobaan kepada dirinya dan tidak bisa lagi melihat maptab sehingga dirinya bertobat saat itu dan akhirnya dengan atas izin dan kekuasaan dari Allah SWT dirinya diperlihatkan maptab. Selain itu, kata H.Samanlino, ketika dirinya berada dalam suatu masjid, dan mengambil Al-Qur’an untuk mengaji dan sementara Al Qur’an itu dirinya meletakkan didepannya, dilantai seperti kebiasaan kekika berada di negeri kita sambil mencari kacamat didalam tas, namun tiba-tiba ditegur dalam bahasa arab oleh salah seorang jamaah mungkin dari negara Pakistan bahwa tidak boleh menyimpan Al-Qur’an disembarang tempat atau sejajar dengan panta sehingga dirinya langsung mengambil dan meletakkan dipangkuannya. Teguran jamaah asal negara Pakistan itu, dapat dimaknai bahwa betapa sakralnya kitab suci Al Qur’an sebagai pedoman hidup bagi umat muslim dan wajib dijaga, diamalkan serta dipeliharan dengan baik.

“ Betapa pentingnya kitab suci Al- Qur’an sebagai rujukan hukum Islam yang diterapkan di tanah suci Makkah Mukarramah dan tidak pernah tergeser dengan perkembangan zaman, berbeda di negeri kita (Indonesia), UUD 1945 telah diamandemen untuk mengikuti perkembangan zaman sehingga mengalami degredasi perubahan akibat perkembangan zaman”, ujar H.Samanlino.

Seperti diketahaui, rombongan kloter 27 Sulbar berangkat dari Makkah ke Madinah persis 1 Muharram 1439 Hijiriah, sama waktunya ketika Nabi Muhammad SAW hijrah dari Makkah ke Madinah juga 1 Muharram, hanya saja Nabi Muhammad SAW berjalan kaki dengan menempuh jarak sekitar 500 kilometer sementara kita menggunakan kendaraan darat hanya enam jam perjalanan dari Makkah ke Madina. Kemudian bersama rombongan kloter 27 meninggalkan Madina dan kembali ke tanah air tepat 10 Muharram 1439 Hijiriah, bahkan paling berkesan lagi saat berada di masjid Jabalnur karena diatasnya adan Gua Akhirat termasuk makanan dan air Samzam tidak pernah berkurang, padahal jutaan manusia mengambilnya tetapi tidak pernah habis, lagi pula warga disana setiap saat mengatarkan air dan buah kurma secara gratis dan mereka anggap merupak momen untuk berbuat amal karena barang kita sumbangkan tidak berkurang tetapi justru bertambah, kata H.Samanlino menirukan ucapan warga Saudi Arabia. Dari 455 itu, salah seorang diantaranya meninggal dunia karena jatuh di kamar mandi dan sakit perut dan sempat dirawat dirumah sakit beberapa hari atas nama H.Hamal dan satu sakit sementara dirawat dirumah sakit Mina, demikian H.Samanlino. (Andira Mordani)

Editor Media binpers.com

Berita terkait

Leave a Comment