Kabag Ops Polres Cirebon Diduga Picu Pelecehan Antar Wartawan

Kabupaten Cirebon (Jabar) – Miris, pelecehan terhadap jurnalis kembali terjadi. Kali ini menimpa seorang wartawan wanita pada saat terjadi aksi mogok para sopir angkot (angkutan kota), Kota Cirebon, yang menolak keberadaan taxi online di Wilayah Kota tersebut. Aksi mogok diwarnai kesalahfahaman sesama awak media di depan pintu masuk ruang rapat Griya Sawala DPRD Kota Cirebon, Selasa (5/9). Demikan dikutif media online detikkasus.com.

Padahal, semula aksi massa tersebut berlangsung aman dan tertib. Peristiwa memalukan itu terjadi sesaat ketika para sopir angkot yang diwakili koordinator seluruh angkot dipimpin oleh sekretaris Organda Kota Cirebon, Karsono, usai melakukan audiensi dengan Ketua DPRD Kota Cirebon, Edi Suripno dan Kepala Dinas Perhubungan serta unsur terkait lainnya termasuk beberapa anggota dewan dari komisi I dan Komisi II Kota Cirebon.

Saat itu, setelah sekretaris Organda, Karsono, menyampaikan hasil audiensinya di depan para peserta aksi mogok masal, sebagian peserta aksi menilai hasil audiensi tersebut kurang memuaskan sehingga sebagian dari mereka kemudian melakukan orasi.

Dan saat itu pula, tiba-tiba muncul Ketua HPPI (Himpunan Profesi Pengemudi Indonesia) Wilayah Cirebon, Hj.Rd Ayu Suhartini SE.MM., menenangkan peserta aksi. Mereka langsung menyambut dan mengelu-elukan Ketua HPPI tersebut.

“Saya selaku ketua HPPI Wilayah Cirebon meminta saudara-saudara membubarkan diri dan setiap permasalahan yang ada hendaknya disampaikan ke saya selaku ketua. Saya yang akan menyampaikan ke pihak-pihak terkait termasuk Walikota dan Anggota Dewan. Saya meminta sekali lagi untuk membubarkan diri dan tetap melayani masyarakat pengguna angkutan Kota, kasihan mereka, terutama anak sekolah dan ibu-ibu yang memerlukan sarana angkutan. Apalagi saudara-saudara melakukan aksi mogok ini tanpa sepengetahuan Saya selaku Ketua HPPI,” ujar Hj.Rd.Ayu Suhartini SE,.MM., yang juga menjabat sebagai Kepala Perwakilan Media Jejak Kasus Jawa Barat ini.

Namun di tengah upaya Ketua HPPI ini menenangkan massa yang sebagian merupakan anggota HPPI itu, muncul Kabag Ops (Kepala Bagian Operasi) Polres Kota Cirebon, Kompol Purnama menanyakan tujuan dan kapasitas Ayu Suhartini ditengah aksi tersebut. Spontan, Ayu langsung menjelaskan keberadaan dirinya dalam aksi tersebut.

Menurut Ayu, kedatangan dirinya ke tempat tersebut sangat spontan setelah dihubungi secara mendadak oleh salah seorang kordinator aksi, sehingga dirinya lupa dan tidak sempat mencopot ID Card PERS yang Menempel di bajunya.

“Saya baru saja melakukan kegiatan sosial di wilayah utara Cirebon. Saat hendak pulang Saya dihubungi kordinator aksi untuk datang ke lokasi demo, jadi boro-boro ingat kartu Pers yang ada di baju Saya, ini hanya spontanitas,” jelas Ayu Kepada Awak media di kantornya.

Media Jejak Kasus Dilecehkan, Ayu Ancam Ambil Langkah Hukum

Diduga, bermula dari ucapan Kabag Ops itulah pemicu turut campurnya Wartawan dari media lain yang terpancing ikut mencecar pertanyaan kepada Ketua HPPI, Ayu Suahrtini.

Beruntung, suasana yang sempat memanas itu berhasil dikendalikan petugas. Bahkan, berkat kesigapan berbagai pihak, aksi yang sempat diwarnai saling dorong itu berhasil diredam, Kedua belah pihak akhirnya sepakat berdamai.

Namun, Ketua HPPI Wilayah Cirebon Hj.Rd. Ayu Suhartini SE.MM, menyayangkan munculnya pemberitaan disalah satu media online Cirebon, CP, yang menyudutkan dirinya sebagai Ketua Perwakilan Jejak Kasus Jawa Barat dan menganggap Media Jejak Kasus sebagai media abal-abal.

“Saya selaku kepala Perwakilan Jejak Kasus Jawa barat mewakili semua perwakilan media Jejak Kasus se Indonesia merasa dilecehkan atas pemberitaan yang menyudutkan media Jejak Kasus. Salah satunya yang mengatakan media Kami abal-abal padahal jelas media Jejak Kasus sudah terdaftar di dewan pers pada tahun 2014, meski saat ini masih proses mengirim data ulang namun legalitas perijinan Jejak Kasus resmi PT dan tentang Pers. Dan lucunya mereka mempersoalkan atribut pers yang Saya pakai. Untuk itu Saya akan melakukan langkah-langkah hukum terkait masalah ini,“ jelas Ayu Suhartini.

Dijelaskan, upaya hukum yang akan ditempuh tersebut mengingat perlakuan mereka (Wartawan yang mencecar Ayu) yang dinilai arogan karena menyuruh Ayu bersujud dikaki mereka sembari mentertawakan penjelasan yang disampaikan Ayu.

”Saya tegaskan, Saya datang ketempat tersebut atas nama ketua HPPI, bukan atas nama Wartawan. Dan Saya juga tidak pernah menyebutkan kapasitas Saya sebagai Wartawan ditempat itu, tapi penjelasan saya tidak didengarkan. Mereka justru mentertawakan saya dan menyuruh saya bersujud meminta maaf dan menyuruh saya mencopot uniform Jejak Kasus. Padahal tidak ada undang-undang yang melarang pemakaian atribut dan uniform media. Ini sungguh keterlaluan, sikap mereka sungguh sangat arogan. Padahal Mereka yang mentertawakan Saya juga statusnya masih sebatas kontributor,“ tegas Ayu.

Secara terpisah, salah seorang pegawai Pemerintah Kota Cirebon, Supandi, SH menyayangkan peristiwa tersebut. Dia meminta semua pihak menjungjung tinggi Profesionalisme dan mengedepankan etika, terlebih kejadian ini menimpa Ketua HPPI yang seorang Perempuan.

“Saat melihat kejadian ini di rekaman salah seorang wartawan, saya merasa miris dengan sikap yang ditunjukkan beberapa oknum, khusus Kabag Ops Polses Kota Cirebon. Sebagai Perwira mestinya dapat menganalisa dengan cermat dan mengambil tindakan yang terukur bukan malah memicu kekacauan dilokasi demo,” pungkas Supandi SH, di ruang kerjanya belum lama ini. (tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *