Diduga Makelari Bedah Rumah, Oknum Dihakimi Warga

Ket foto: Keno (45) salah seorang penerima bedah rumah yang menjadi korban

PASANGKAYU, Sulbar (binpers.com) – Diduga Makelari Bedah Rumah, Masdar (38) Warga Desa Sarude dihakimi warga, di Desa Maponu, Kecamatan Sarjo, Kabupaten Mamuju Utara, sabtu (16/9/2017). Diduga kejadian ini berawal dari kegeraman masyarakat di Desa Maponu dengan ulah Makelar (Masdar-red) yang diduga menjadi perantara pihak toko dan masyarakat dalam program bantuan stimulan bedah rumah oleh Kemendes PDTT. Sehingga, puluhan warga yang merasa tidak terimah melakukan protes, karena diduga kuat oknum melakukan sejumlah penipuan, pemalsuan tanda tangan dan mark up (menaikkan harga barang). Salah seorang warga desa Maponu, Keno (45), yang menjadi korban penipuan oleh oknum makelar tersebut, mengatakan bahwa perbuatan makelar (Masdar-red) tidak bisa ditolerir karena sudah meresahkan puluhan warga. “Saya mendapat bantuan rp. 15.000.000, tetapi jumlah bahan yang saya terima nilainya baru berkisar rp. 8.443.000 sehingga masih kesisahan sekitar rp. 6.000.000, namun menurut Masdar uang saya sudah habis” ungkap Keno kepada binpers.com, Sabtu (16/9/2017).

Foto: catatan pengambilan bahan warga (Keno)

Menurutnya, ada yang aneh dengan posisi Masdar dalam hal ini, karena dia bukanlah fasilitator yang ditugaskan untuk mengawasi bedah rumah ini sehingga tidak jelas asal usulnya.

“Setahu kami yang ditugaskan sebagai fasilitator adalah Muhlis (Warga Sarudu) tetapi yang mengherankan dia (Masdar-red) menjadi perantara antara pihak toko dan masyarakat, jangan jangan mereka ada kerjasama” ketusnya.

Sehingga lanjutnya, diharapkan pihak atau Dinas terkait bisa segera menyelesaikan persoalan ini agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Harapan kami secepatnya uang kesisahan itu diselesaikan pak, karena ini sudah jelas jelas kami ditipu agar dia memperoleh keuntungan besar” pintanya.

Di tempat yang sama, Amido (warga desa Maponu) yang juga menjadi korban, menambahkan bahwa telah terjadi pembayaran dobel dalam pengadaan batako, koseng pintu dan jendela.

“Contohnya dalam pengadaan batako, si Masdar memberikan semen sebanyak 14 sak (untuk bantuan yang rp. 15.000.000), setelah batako kami cetak sendiri, dengan pasir sendiri, malah batako tersebut dihargai rp. 2.500 perbijinya, lalu jumlah tersebut dipotongkan di jumlah nilai uang kami yang di toko, sehingga secara tidak langsung kami membayar dobel, sudah bayar semen, pasir gratis, kerja gratis, bayar batako lagi, ini kan sudah keterlaluan,” ungkapnya.

Selain itu tambahnya, persoalan pintu dan jendela demikian pula, bagi warga yang sudah memilikinya semestinya digantikan dengan bahan lain atau diuangkan, namun yang terjadi tidak demikian.

“Dia justru tetap memotong dari jumlah uang kami yang ditoko seharga pintu atau jendela tersebut, seolah olah pintu dan jendela itu miliknya” jelasnya.

Lanjut Kata Amido, berbeda dengan Kepala Dusun selaku ketua kelompok, dia (kadus-red) masih menerima uang kesisahan sebesar rp. 5.000.000 padahal rumahnya pun sudah rampung dikerja.

“Kami semua berharap pemerintah daerah segera turun tangan menangani persoalan ini, kasihan kami warga kecil dibodoh-bodohi” tutupnya.

Sementara itu, di tempat terpisah, pihak-pihak terkait, oknum terduga, fasilitator dan dinas perumahan sampai berita ini diorbitkan belum dapat dikonfirmasi, meskipun sudah dihubungi via handphone di nomor +62812416209xx dan +62853965645xx namun masih berada di luar jangkauan.***Nadir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *