Mantan Kadispendasbud Kabupaten Mimika Terjerat Kasus Korupsi Insentif Guru

Kalapas kelas II B Timika Usman saat memberikan keterangan pers

Timika, BINPERS.COM – Setelah berkas kasus dugaan korupsi insentif guru tahun 2015 dinyatakan lengkap oleh kejaksaan negeri (kejari) Mimika, penyidik tindak pidana korupsi (Tipikor) Polres mimika, Rabu (16/8) lalu telah menyerahkan empat tersangka masing-masing berinisial NL yang merupakan mantan Kadispendasbud Mimika, AL yang merupakan mantan kasubag keuangan, UO yang merupakan mantan operator di Dispendasbud dan NR selaku mantan bendahara Dispendasbud, ke kejari Mimika gunah diproses lebih lanjut.

Penyerahan empat tersangka kasus korupsi insentif guru ini, didampingi oleh masing-masing penasehat hukum (PH), di mana untuk tersangka NL didampingi oleh PH Joseph Ttemorubun, SH dari kantor pengacara Eus Berkasa,SH MH and Patners. Sementara untuk tersangka AI didampingi oleh Ruben Hohakay,SH, kemudian tersangka UO didampingi oleh PH Thomas Temorubun,SH, dan tersangka NR didampingi oleh PH Zainal Sukri SH.

Keempat tersangka tersebut setelah diserahkan oleh penyidik Tipikor Polres mimika, langsung menjalani pemeriksaan oleh pihak kejari mimika dan langsung dilakukan penahanan oleh kejari Mimika.

Kepala kejaksaan negeri (kejari) Mimika Alex Sumarna,SH MH yang ditemui wartawan Rabu sore membenarkan bahwa pihaknya telah menerima empat tersangka kasus dugaan korupsi insentif guru dan barang bukti, dari pihak kepolisian dalam hal ini Polres Mimika.

“Setelah tim jaksa melakukan pemeriksaan, mereka akan buat saran dan pendapat kepada saya selaku kejari, jadi setelah pemeriksaan kepada empat tersangka, langsung tim jaksa buat semacam telaah kepada kejari” ucapnya.

Selanjutnya kata dia, berdasarkan saran dan pendapat yang disusun sebagai telaah kepada kejari mimika, kejari langsung memerintahkan agar keempat tersangka tersebut langsung dilakukan penahanan pada saat itu juga di lembaga permasyarakatan (Lapas) kelas II Timika.

Kemudian kata Alex, untuk proses persidangan sendiri direncanakan akan berlangsung di pengadilan Tipikora di Jayapura. “Sidang nanti akan dilakukan di Jayapura, dan untuk pelimpahan berkas ke pengadilan akan kita upayakan secepatnya. Bisa satu atau dua minggu, dan untuk tim JPU sudah kita bentuk ada sekitar lima sampai enam orang jaksa,” jelas Kajari.

Keempat tersangka kasus dugaan korupsi insentif guru ini, dibawa ke lapas kelas IIB Timika sekitar pukul 19.30 WIT untuk dilakukan penahanan.

Sementara itu, kepala Lapas (kalapas) kelas IIB Timika, Usman yang ditemui wartawan, kamis (17/8) kemarin di lapas kelas IIB Timika, membenarkan bahwa keempat tersangka kasus dugaan korupsi insentif guru ini telah berada di lapas kelas IIB Timika, sejak Rabu malam dan berstatus sebagai tahanan kejari Mimika.

“Kejaksaan kirim empat tersangka terkait kasus insentif guru, dua orang laki-laki dan dua orang perempuan. Dan sememtara ini mereka masih dikarantinakan, jadi kita tidak keluarkan untuk ikuti upacara pemberian remesi, ucap kalapas.

Lanjut dia, untuk proses karantina sendiri selama satu pekan dan selanjutnya akan dipindahkan di blok-blok yang ada di dalam lapas kelas IIB Timika.”selama satu minggu, setelah itu kita pindahkan ke blok untuk berbaur dengan tahanan lainnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut usman menegaskan, terkait status empat tersangka korupsi yang saat ini masih dalam proses karantina, pihaknya tidak mengijinkan pihak keluarga atau kerabat untuk membesuk.

“Dalam seminggu selama karantina itu tidak di perbolehkan besuk, tapi perlakuan terhadap mereka sama saja dengan yang kita terapkan ke warga binaan lainya. Nanti setelah di pindahkan ke blok, baru bisa di besuk”, tandasnya.

Untuk diketahui, kasus dugaan korupsi insentif guru ini mencuat setelah pada bulan desember tahun 2015 lalu, sejumlah guru melakukan aksi unjuk rasa di beberapa tempat, yakni di depan Bank Papua jalan Yos Sudarso, dan di depan SMP Negeri 2 di jalan Budiutomo Kota Timika.

Para guru melakukan aksi unjuk rasa, pasalnya mereka tidak merasa puas dengan proses pendistribusian dana insentif guru yang dibayarkan dua kali dalam setahun itu. Sehingga mereka melaporkan ke pihak kepolisian bahwa ada dugaan korupsi terhadap dana insentif guru tersebut. (msm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *