Sidang Dugaan Korupsi Rumah Suku Duane Kundur Karimun Kepri

Kepri (Karimun)-BN, Pekerjaan rumah warga suku Duane yang tidak siap  dikerjakan  oleh pelaksa berujung keranah hukum,Irwan selaku pelaksana,pembangunan rumah suku duane sekaligus ASN di kantor kelurahan Tanjungbatu sebagai tersangka.

Terkait Pembangunan 75 unit type 36 Perumahan Kuale Makmur di atas lahan seluas 1,2 hektar yang terletak di Paya Togok Kelurahan Tanjung Batu Kota Kecamatan Kundur dengan menggunakan dana sharing PT Timah Unit Kundur dan Pemkab Karimun sebesar Rp 1,875.000.000,per unitnya di bandrol sebesar Rp 25.000.000,- yang di kerjakan secara gotong royong sampai saat ini terbengkalai.

Dalam sidang dugaan tindak pidana korupsi tersebut ,dalam pembangunan rumah untuk warga suku asli Duane di Pulau Kundur yang ditangani Kantor Cabang Kejaksaan Negeri Tanjungbatu dengan terdakwa Irwan sudah berjalan pada Selasa (11/7) dengan pembacaan dakwaan di PN Tipikor Tanjungpinang.

Hasil sidang perdana tersebut, terdakwqa Irwan dan kuasa hukumnya tidak mengajukan eksepsi. Sehingga, sidang akan dilanjutkan pada Kamis (20/7) pekan depan dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi.

Jumlah saksi yang akan dihadirkan pada sidang kedua sebanyak 13 orang. Termasuk Indra Gunawan saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Kesbangpol, yang merupakan mantan kepala dinas sosial,kepada wartawan , Jumat (14/7).

Proses pengembangan penyidikan, Filpan, menyatakan bahwa berdasarkan bukti-bukti yang berhasil disita dari Kantor Dinsos beberapa waktu lalu dan juga keterangan, maka sampai saat ini kasus dugaan tindak pidana korupsi pembangunan rumah untuk warga suku Duane Pulau Kundur murni hanya dilakukan terdakwa Irwan sendiri.

Pencairan dana sudah sesuai dengan proses yang berlaku. Karena, dana yang digunakan adalah dana hibah. Kemudian, keterangan Indra Gunawan yang dibuktikan dengan adanya dalam bentuk surat sebagai bentuk teguran dan pengawasan juga ditemukan.

Termasuk juga pencairan dana hibah sudah sesuai aturan. Yakni, mentransfer ke dalam rekening yayasan. Hanya saja, oleh terdakwa diambil dari rekening yayasan dan kemudian dimasukkan ke dalam rekening pribadi. Sehingga, kasus ini untuk sementara hanya dilakukan oleh terdakwa sendiri,” paparnya.

Namun, kata Filpan, jika di dalam persidangan ada fakta baru, maka pihaknya akan membuka penyelidikan lagi. Yang jelas, dalam kasus ini terdakwa Irwan dijerat dengan dakwaan alternatif. Yakni, pasal 2 dan pasal 3 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana dirubah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemeberantasan Tipikor. Dalam kasus ini kerugian negara berdasarkan hasil perhitungan BPKP sebesar Rp260 juta .(Kim Seng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *