BINPERS

Berita Investigasi Nasional

KISAH PILU: Demi Menghidupi Anak Yatim Piatu, Ibu Iet Berjualan Telur Asin

Bandung, BINPERS.COM – Disela-sela keseharian dalam menghidupi 5 anak yatim Ibu Iet (63 tahun) yang tinggal di kampung Jajawai RT.02 RW 01 Desa Cileunyi wetan Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat, selama ini ibu dirinya berjualan telur asin ke daerah-daerah dengan jalan kaki.

Pekerjaan jualan telur telah digeluti selama 30 tahun, dalam kesehariannya mendapatkankan bati (keuntungan) dari hasil penjualan sekitar Rp. 30000.

“Hasil penjualan uangnya disetorkan kepada majikan,” ujarnya, kepada awak media binpers.com, Kamis (9/06/2017)

Hari, bulan, tahun Ibu Iet terus berjuang mencari nafkah untuk menghidupi 5 anak yatim serta penghasilannya disisihkan untuk membayar utang yang selama ini ia harus tanggung kepada tetangganya sebesar Rp. 16.000.000 (enambelas juta rupiah).

Kapada awak media, di sela-sela keletihannya saat berjualan keliling ia menyampaikan keluhannya, “Ema embung menta menta, lewih hade jualan telur asin nyaeta ajang mere dahar anak yatim jeng mayar hutang (Saya tidak mau meminta-minta, lebih baik jualan telur asin untuk memberi makan anak yatim dan untuk membayar hutang),” ujarnya dengan rasa haru.

Lamun bisa mah ema hayang ngiluaan acara anu di indosiar lamun menang ajang mayar hutang jeung dahar barudak, tapi ema teu apal daftar na kudu kamana? (Kalau bisa, saya ingin ikut di program Televisi Indosiar, kalau berhasil ia akan gunakan untuk membayar hutang dan memberi makan anak yatim, tapi tak tau bagaimana caranya,” tambahnya.

Perihnya kehidupan ia rasakan, hal ini diperparah dengan jatah raskin dari pemerintah yang harus ia beli juga dari ketua RT setempat seharga Rp 2.000 per kilogram.

Jaba ayeuna mah Beas raskin ge ema meli perkilo di RT na 2000 (apalagi sekarang beras raskin juga harus dibeli ke pak RT seharga Rp 2.000),” tandasnya.

Di tempat lain, Gandi, petugas PKH (Program Keluarga Harapan) dari kabupaten Bandung menyampaikan rasa prihatin terhadap nasib yang dialami oleh Ibu Iet terkait beras raskin yang harus dibelinya dari ketua RT setempat.

“Seharusnya pemerintah desa membebaskan pembelian beras raskin kepada ibu Iet, kan dari pihak Bulognya Rp 1000 (seribu rupiah),” katanya.

Lebih lanjut ia berharap agar pemerintah lebih memperhatikan nasib rakyatnya, sebagaimana diatur dalam pasal 34 Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang menyebutkan bahwa “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”.

“Semoga pemerintah lebih bisa melihat ke masyarakat yang benar-benar memerlukan uluran tangan,” pungkasnya. (Yopi/Lucky)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *