Tempat Usaha dan Gudang AH Diduga Tadah Arang Illegal untuk Ekspor

Foto: Binpers.com

Kepri Batam, BINPERS.COM – Sebuah gudang penimbunan ratusan ton arang bakau illegal siap ekspor, hasil perambahan hutan mangrove Kepri secara illegal yang diduga beroperasi belasan tahun, berada di rempang Galang Kecamatan Bulang salah satu yang berada di kampung dapur enam milik inisial AH di samping rumah tempat tinggalnya.

Hasil penelusuran, AH juga memiliki dapur pembakaran dan pelabuhan serta gudang arang tempat penampung arang siap ekspor. AH selaku pemilik usaha tersebut berani dalam melancarkan bisnis yang merusak Lingkungan dan membabat hutan mangrove yang dilindungi, diduga tak satupun aparat terkait bisa menindak. ada apa?

Tumpukan arang yang telah dipacking siap ekspor yang telah masuk kontainer dengan jumlah ratusan ton arang tersebut berasal dari hutan Mangrove selat panjang (provinsi Riau) dan pulau Moro Kepri.

Arang berasal dari pulau-pulau di sekitar kepri kemudian dimuat ke kapal-kapal yg berkapasitas 5Gt-7Gt di bawa ke Loksi pelabuhan AH dapur enam melalui pelabuhan tikus.

Hasil investigasi media binpers.com di lapangan Gudang penyimpanan arang bakau tersebut dulunya hanya satu sekarang ada dua lokasi yang berjarak dari tempat lama sebelum sampai ke kampung dapur enam tersebut juga milik AH.

AH memiliki belasan dapur yang dapat menghasilkan ratusan Ton dan memperkerjakan puluhan orang. Selain itu juga menampung kayu arang dari luar Batam salah satunya dari Selat Panjang dan Moro, menurut salah satu warga yang namanya enggan disebutkan.

“Arang yang berada di dapur di gudang yang besar serta di halaman rumahnya bukan arang sini saja ,juga didatangkan dari luar pulau Batam, Abang boleh lihat ada pelantar pembongkaran arang di belakang rumanya AH,” ujar salah seorang nara sumber.

Ketika awak media menghampiri pelabuhan milik AH terlihat kapal kayu dengan berisi arang dengan muatan satu kapal penuh diduga berisi puluhan ton, arang siap dibongkar yang datang dari luar pulau Batam dari selat panjang dan moro. Arang dari kapal dibongkar langsung dimasukan ke kontainer yang berukuran besar.

Perambahan hutan mangrove di Kepri khususnya Batam Kecamatan Sembulang diduga dikoordinir oleh pengusaha kayu Arang AH.

Perambahan hutan bakau di Kepri ini diduga arangnya telah ditadah oleh pengusaha yang berada di Batam ini salah satu yang disebut AH.

Tim media ini minta tangapan kepada Camat Galang (19/04), Amri Amis, “kita selaku camat si Galang ini hanya empat bulan, baru masalah keberadaan gudang serta usaha arang tersebut kita tidak ada mengeluarkan surat-surat untuk usahnya Arang tersebut,” ujarnya.

Dikonfirmasi Kelurahan Sembulang, melalui Seklur Sulastri, kepada media ini mengatakan, ” kita kelurahan ini tidak pernah mengeluarkan surat terkait dengan usaha arang milik Ahui,” ujarnya ( 19/04 ) kemarin.

Tim investigasi menelusuri gudang arang milik ACN yang disebut -sebut pengusaha arang terbesar di Barelang jembatan empat, tim media ini tidak bisa masuk gudangnya ditutup dipasang (gate) menurut warga, arang milik ACN didatangkan dari luar begitu juga degan milik ATN.

Keberangkatan arang agar keluar dari pelabuhan diduga kontiner tersebut mempergunakan salah satu jasa pengangakutan dari biro pengiriman ekpedisi untuk mengelabui aparat di pelabuhan Batu Ampar Batam. kok Bisa uda lama kok ?

Informasi yang dikumpul di lapangan, arang-arang bakau ini masuknya dari pulau moro dan selat panjang, dan akan diekpor ke Hongkong, Singapura, Cina. Arang-arang bakau dikirim dari selat panjang pulau moro mengunakan kapal kayu melalui laut menuju Dapur enam Galang milik Ahui serta pelabuhan tikus barelang diduga tidak mengantongi dokumen dan Fako (faktur angkutan kayu olahan) diduga pengusaha arang ini sudah membuat kesepakatan dengan pihak bea dan cukai dan dinas kehutan kota Batam.

Aktifis LSM AMPERA INDONESIA, Areon Andre SH, kepada awak media ini mengatakan hutan mangrove adalah ekosistim untuk menstabilan pemukaan pantai yang harus kita jaga semua, bukan menghabiskan demi mencari keuntungan pribagi dengan merusak alam dipingir pantai.

“Diduga pengusaha tersebut dengan berani menumpuk hasil hutan yang dilarang yang merusak hutan mangrove diduga kita sebut telah menadah hasil hutan larangan, juga berani menjual ke keluar Negri tanpa pungutan pajak yang tidak bisa masuk ke kas daerah berarti masuk kantong pribadi ya menyalahi,” ujarnya.

Dikatakannya, tidak ada larangan yang ketat yang dilakukan pihak yang bersangkutan seperti Dinas Kehutan dan Dinas Kelautan serta penegak hukum yang berada di Kepri ini. Berlangsungnya perambahan hutan Magrove ini jelas telah merusak pohon mangrove akan punah.

“Hutan bakau yang berada di setiap bibir pantai harus di jaga bukan di babat seperti yang berada di Kepri ini, hutan mangrove ini adalah paru-paru Dunia.
Kita minta kepada insatansi terkait terutama untuk wilayah Kepri dan Batam melarang menindak para pelakunya dan penampung arang tersebut yang tidak bisa dipungut PAD nya,” tandasnya. (TIM) Berasmbung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *