Polres Luwuk Banggai Berhasil Mengungkap Kasus Pembunuhan Sadis

Luwuk Banggai, Sulteng, BINPERS.COM – Polisi Sat Reskrim Polres Luwuk Banggai berhasil mengungkap kasus pembunuhan sadis pada rekonstruksi pembunuhan di rumah korban, tepatnya di jalan Suprapto, Kelurahan Luwuk, Kecamatan Luwuk. Senin (10/4).

Polres Luwuk Banggai menggelar rekonstruksi pembunuhan sadis pasangan suami istri (pasutri) lanjut usia, Frans Paliling (78) dan Roswita Daun Lele (72) di jalan Suprapto, Kelurahan Luwuk, Kecamatan Luwuk, Senin (10/4).

Rekonstruksi awal yang disebut penyidik sebagai perencanaan pembunuhan itu, dilakukan di antara rumah tersangka KP alias KK (17) dan tersangka Antonius Paliling (48), di desa tontouan, Kecamatan Luwuk. Ada 6 adegan yang diperagakan, serta menghadirkan tiga orang, yakni tersangka Antonius Paliling dan KP alias KK, serta Andarias Paliling yang berkapasitas sebagai saksi. Lalu, rekonstruksi tahap persiapan dilakukan di rumah tersangka KP alias Kiki Paliling. Pada tahap ini, ada perbincangan antara orangtua tersangka pada 7 Maret 2017.

Ada kalimat yang dilayangkan ibu tersangka “Kiki, bagaimana bisnismu dengan om Anton.” Selain itu, ayah tersangka juga sempat menyampaikan, bahwa nanti mengambil parang yang ada di bawah tempat tidur kakeknya. Namun belum dipastikan, apakah perintah itu berhubungan dengan pembunuhan tersebut atau tidak. Selanjutnya, rekonstruksi tahap eksekusi yang dilakukan di rumah korban sebanyak 24 adegan.

Awalnya, sebelum membunuh kakek dan neneknya, Kiki Paliling datang ke rumah korban dengan mengendarai sepeda motor Honda Beat miliknya, sekira pukul 11.30 wita pada kamis (23/3) lalu. Sepeda motor diparkir di luar pagar rumah korban. Sang eksekutor menggunakan jaket biru, celana levis pendek, menggunakan tas ransel bermerek Nike berisi parang yang sudah dibawa dari rumahnya. Tersangka masuk ke halaman rumah, lalu belok kanan menuju kandang ayam. Tersangka masih memberikan makan kepada ayam peliharaan korban. Setelah itu, tersangka menuju belakang rumah dan menyimpan ransel yang berisi parang tersebut. Tersangka sempat melihat kakeknya yang sedang membersihkan halaman belakang (cabut rumput). Kemudian tersangka masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang. Saat masuk, tersangka melihat neneknya sedang memasak sayur di dapur. Tersangka langsung mengambil makanan dan mencicipi masakan neneknya. Lalu, tersangka duduk diruang makan sambil memegang hendphone-nya. Tiba-tiba muncul ayah tersangka Andarias Paliling.

“Bikin apa ngana (kiki) disini?” Tanya Andarias kepada tersangka. Beberapa saat kemudian, Andarias pergi dengan alasan ingin menjemput adik tersangka pulang sekolah. Tak berselang lama, kedua korban masuk kedalam kamar masing-masing untuk tidur siang. Begitupun dengan tantenya Albertin Paliling (43), yang selama ini tinggal serumah dengan kedua korban.

Mengetahui kakek dan neneknya tidur nyenyak, tersangka keluar mengambil parang. Kemudian, masuk kedalam rumah untuk beraksi. Sang eksekutor ini menuju ke kamar neneknya. Tepat didepan pintu, tersangka sempat berdoa memohon ampunan kepada Tuhan agar dihapuskan dosa-dosanya. Tersangka langsung masuk dan menebas leher neneknya yang sedang tidur menyamping. Tersangka keluar dan masuk lagi ke kamar kakeknya. Dengan gaya tidur yang sama, tersamgkapun menebas leher kakeknya. Usai menebas, tersangka langsung mengacak-acak isi lemari yang ada didalam kamar kakeknya, begitu pun lemari yang ada didalam kamar neneknya. Ini dilakukan sebagai alibi, bahwa pembunuhan ini bermotif perampokan.

Setelah mengacak-acak isi lemari, tersangka mencium jidat neneknya, lalu kembali ke kamar dan mencium jidat kakeknya. Tersangka langsung mengisi parang yang masih bersimbah darah itu ke dalam tas ransel. Dan langsung keluar melalui pintu belakang. Tersangka naik sepeda motor dan pergi meninggalkan rumah korban, tanpa beban. Kemudian, rekonstruksi tahap penyelesaian yang dilakukan dirumah rekan tersangka berinisial IK, yang tak jauh dari rumah tersangka di desa tontouan, kecamatan Luwuk.

Pada tahap ini diperagakan 10 adegan. Saat itu, tersangka tiba dan langsung masuk ke dalam rumah rekan sebayanya itu IK untuk meminjam kamar mandi. Tanpa diketahui IK, niat meminjam kamar mandi itu untuk mencuci parang yang masih bersimbah darah kakek dan nenek kandungnya, setelah itu tersangka keluar dan langsung pulang ke rumahnya. Kasat Reskrim Polres Luwuk Banggai, AKP Egidio F Alfamantar menyampaikan saat diwawancarai mengungkapkan, rekonstruksi kasus pembunuhan sadis ini dilakukan sebanyak 58 adegan, yang dilakukan di empat TKP.

Pertama, di antara rumah tersangka dan Anton Paliling yang disebut sebagai sesi perencanaan. Kedua, tahap persiapan dirumah tersangka. ketiga, tahap eksekusi (pembunuhan) dirumah korban. Dan keempat, dirumah rekan tersangka berinisial IK, Kasat Reskrim menyatakan, rekonstruksi ini untuk memastikan keterlibatan tersangka dalam kasus pembunuhan yang menyedot perhatian publik itu. Kata dia, rekonstruksi yang berlangsung hampir lima jam itu, belum ditemukan bukti baru. Sementara untuk tersangka pihaknya masih menetap dua tersangka, yakni, Antonius Paliling (48) yang berperan sebagai konseptor, dan KP alias KK yang berperan sebagai eksekutor.

“Kalau Andarias Paliling masih dijadikan sebagai saksi,” papar Egidio, motifnya adalah penguasaan harta warisan.

Dikatakanmya, bukti untuk menetapkan Andarias Palililing sebagai tersangka. Namun, tidak menutup kemungkinan dalam pengembangan ada penetapan tersangka baru. “Tapi, kalau petunjuk Jaksa menyatakan, bahwa Andarias harus ditetapkan sebagai tersangka,” tegasnya.

Egidio menjelaskan, pihaknya masih fokus dulu pada dua tersangka. Meski demikian, kata dia, kasus masih terus dikembangkan, baik tersangka maupun motif pembunuhan. (Verra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *