Banyaknya Sub Agen Illegal menjadi Kelangkaan gas elpiji 3 Kg dan harganya menjadi Rp 22.000,-

BN-Palu, Kelangkaan elpiji kemasan 3 kg yang terjadi di berbagai daerah, termasuk kota Palu terutama Kecamatan Palu Timur membuat masyarakat ketar-ketir, apalagi kelangkaan juga menyebabkan harga hingga Rp 22.000 per tabung dan gas elpiji berwarna hijau melon ini di pasaran sangat spekulatif, banyak yang menaikkan harga gas Rp 22.000 per tabungnya.

Michael dan Muchlis warga kota Palu Timur menyayangkan  kelangkaan gas melon kurun 5 bulan terakhir di kota Palu. Adanya oknum illegal sub agen yang nakal dengan menimbun gas elpiji, membuat distribusi elpiji di masyarakat menjadi terpengaruh.

“Kenyataannya yang ada agen besar dan Sopir sampai kepada banyaknya sub agennya yang illegal berupa banyaknya kios juga menjual gas elpiji 3 kg dimana juga sudah bermain dibelakang dengan para konco konconya,”ujarnya (Senin  8/03/2017)

Hal senada juga dilontarkan oleh Rizal warga Tondo, menurutnya kelangkaan gas elpiji 3 kg dan mahalnya di sejumlah wilayah di Kota Palu terutama Palu Timur sudah terjadi sejak November 2016.

“Di wilayah kami saja harga gas elpiji 3 kg sampai Rp 22.000/tabung dan Kelangkaan Gas Elpiji 3 kg di sub illegal agen yaitu banyaknya kios kios yang menjual hal tsb dan yang bukan ditunjuk menjadi Sub Agen ,padahal harga elpiji 3 kg sebelumnya saat normal hanya Rp 16.000 /tabung,”tandasnya.

Terkait kelangkaan gas elpiji 3 kg tersebut, Sales Executive Pertamina Retail Sulawesi Tengah Fandy Ivan Nugroho justru membantah  dan tegas mengatakan bahwa ketersediaan Gas Elpiji di daerah ini aman. Pernyataan ini sekaligus menjawab rumor yang menuding Pertamina telah menaikkan harga jual secara diam-diam dan secara sengaja membatasi penjualan gas melon tersebut.

“Stok selama ini mencukupi dan kami pastikan masyarakat tidak perlu resah khususnya untuk elpiji 3kg kita pastikan distribusi elpijinya dalam kondisi yang mencukupi,”tegasnya.

Dirinya menduga tingginya harga dan kelangkaan gas elpiji 3 kg di masyarakat terjadi akibat permainan sejumlah Agen besar bersama sopirnya dan banyak illegal Sub Agen yang menahan dan mempermainkan stok dan harganta. Oleh karena itu, Pertamina menurutnya enggan dijadikan sasaran tembak terkait kelangkaan gas elpiji yang saat ini terjadi di masyarakat di kota Palu.

“Rupanya di lapangan terjadi komunikasi yang kurang baik antara pihak agen dan pihak pangkalan, akibatnya ada salah satu dari dua pihak tersebut menimbun elpiji yang seharusnya di suplai ke masyarakat,sehingga suplai elpiji yang seharusnya diperuntukan kepada warga Kota Palu kini banyak beredar di beberapa wilayah, di Kabupaten Mamuju Utara Sulawesi Barat dan gorontalo,”ungkapnya.

Saat ini pemprop bersama pihak terkait diminta betul betul serius dan harus terus mengontrol dan pendistribusian elpiji ke masyarakat khususnya dari pangkalan ke agen, untuk mencegah terjadinya kelangkaan. (ags/tim)

Editor Media binpers.com

Berita terkait

Leave a Comment