Sekkab Luwuk Banggai Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Lahan Dvor Bandara

sekabLuwuk Banggai (Sulteng)-BN,  Setahun lebih lamanya kasus pembebasan lahan untuk kepentingan pembangunan DVOR/DME bolak balik dari polisi dan kejaksaan. Namun pada bulan November 2016, sejak AKBP Benni Baehaki menjabat Kapolres Luwuk Banggai, kasus tersebut mengalami kemajuan signifikan dengan ditetapkannya Sekkab Luwuk Banggai Syahrial Labelo sebagai tersangka.

Penetapan Syahrial sebagai tersangka dalam kasus yang dilaporkan Imran Usman itu setelah dirinya menjalani pemeriksaan selama beberapa jam, Senin (7/11/2016). Kasat Reskrim, Polres Luwuk Banggai, AKP. Egidio F Alfamantar saat dikonfirmasi terkait penetapan tersangka Syahrial Labelo, membenarkan hal tersebut, Selasa (8/11).

“Penetapan sebagai tersangka itu dilakukan penyidik, setelah pemeriksaan terhadap majelis kehormatan notaris (MKN) dilakukan. Nanti sesudah P21 (pelimpahan ke kejari) baru kita jelaskan semua. Biar lengkap keterangannya,” ungkap AKP Egidio.

Walaupun singkat, Keterangan Kasat Reskrim Polres Luwuk Banggai itu, memberi sinyal bahwa kasus yang sudah digulir beberapa lama di Polres Luwuk Banggai itu akan segera dilimpahkan ke Kejari Luwuk Banggai untuk Proses hukum lebih lanjut.

Seperti yang telah diketahui, perkara yang sempat menyeret sejumlah pejabat teras Pemda Luwuk Banggai sebagai saksi tersebut bermula dari pengadaan lahan untuk pembangunan alat navigasi Bandara Syukuran Aminudin Amir.

Lahan milik Imran Usman, dibeli tim 9 bentukan pemda Luwuk Banggai yang diketuai Sekkab Luwuk Banggai Syahrial Labelo. Dalam negosiasi itu, pemerintah kemudian menetapkan harga beli yang belum disepakati pemilik lahan. Padahal, lahan sudah dikuasai dan bangunan alat navigasi sudah berdiri di atas lahan Imran Usman. Tanpa sepengetahuan Imran, terjadi pertemuan antara tim pengadaan lahan dan Hasanudin Datu Adam, Selaku pihak yang dikuasakan Imran Usman sebagai perwakilan dalam pengurusan Administrasi lahan.

Pemda kemudian membayarkan Rp 973 juta ke Hasanuddin. Dari jumlah itu, ia kemudian mentransfer ke rekening Imran Usman senilai 50 juta secara diam-diam. Setelah mengetahui lahannya telah dibayarkan tanpa persetujuannya, Imran Usman mengecek bukti transfer. Lalu membuat laporan penipuan di Polres Luwuk Banggai, serta menyerahkan sejumlah uang yang di transfer terlapor.

Melihat keterangan dan kesaksian dari sejumlah pihak dalam pembebasan lahan serta pembayarannya yang sedikit aneh, penyidik kemudian berkoordinasi dengan Kejaksaan Negeri Luwuk Banggai, hingga kemudian berkas perkara penipuan beralih ke tindak pidana korupsi. Penyidik akhirnya menetapkan dua nama sebagai tersangka, yakni Hasanuddin Datu Adam dan Isnaeini Larekeng yang saat itu sebagai kabag pertanahan Setda Luwuk Banggai. Dan saat ini, Polres Luwuk Banggai kembali menetapkan satu tersangka lainnya, yakni Sekkab Luwuk Banggai Syahrial Labelo. (VT/WRC Sulteng).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *