Hidupkan Amanah dalam Berbuat

Muh. Jam'u S.Ag
Muh. Jam’u S.Ag

Oleh. Muh. Jam’u S.Ag

Waktu terus berjalan melewati hari- hari puasa Ramadhan (1437 H – 2016 M) bulan yang suci penuh kemurnian menghidupkan nafas amanh dalam berbuat, menyadarkan kita akan tanggungjawab memelihara kedamaian serta menjadi benteng kehinaan atas diri  manusia dengan perbuatan ikhlas-istiqomah berdasarkan syariat tuntunan Baginda Nabi Muhammad SAW. 

Perlu diketahui, bahwa menjalankan amanah dan menjaganya bukanlah perkara yang bisa dilakukan semudah membalik tangan.  Sehingga kemudian terbagilah manusia menjad tiga klasifikasi yaitu:

  1. Orang–orang yang menampakkan dirinya seolah-olah menjalankan amanah. Yaitu dengan menampakkan keimanannya namun sesungguhnya mereka tidak beriman. Mereka itulah yang disebut orang–orang munafik;
  2. Orang-orang yang dengan terang-terangan menyelisihi amanah tersebut. Yaitu mereka tidak mau beriman baik secara lahir maupun batin. Mereka adalah orang-orang kafir dan musyrikin; dan
  3. Orang-orang yang menjaga amanah yaitu orang-orang yang beriman baik secara lahir maupun batin.

Dua kelompok pertama yang kita sebutkan tadi akan diazab dengan azab yang sangat pedih. Sedangkan kelompok yang ketiga yaitu mereka yang beriman secara lahir dan batin, merekalah orang-orang yang akan mendapatkan ampunan, serta rahmat dari Allah SWT.  

Menunaikan amanah ini, harus dilakukan dengan memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas dan harus dilakukan sesuai dengan petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Wajib bagi kita untuk berilmu dulu sebelum beramal.  Sedangkan cara untuk menjalankan amanah ini, adalah senantiasa menginginkan agar orang lain mendapatkan kebaikan sebagaimana kita menginginkan kebaikan itu pada diri kita.

Hak dan Tanggungjawab          

Menjalankan amanah merupakan tanggungjawab setiap  muslim, melaksanakan amanah dalam arti luas menjaga keseimbangan  hidup sebab mengabaikan tanggujawab boleh dikatakan berbuat khianat yang menimbulkan kerusakan dan krisis moral, dimana kondisi ini mengancam kerusakan bagi masyarakat kedepan.

Seorang suami bertanggung jawab atas keluarganya, dan seterusnya. Sudah semestinya bagi pemimpin rumah tangga untuk memelihara keluarganya dari hal-hal yang membahayakan mereka baik yang berkaitan dengan urusan dunia apalagi akhiratnya. Terlebih pada saat kerusakan dan kemaksiatan tersebar di mana-mana. Sebagaimana setiap orang tentu akan lebih berusaha menjaga hartanya ketika dia mendengar bahwa pencurian dan yang semisalnya tengah merajalela. Bahkan, menjaga keluarga dan anak-anaknya dari kerusakan yang ada di sekitarnya semestinya lebih diutamakan dari menjaga harta.

Karena, melalaikan kewajiban ini akan menyebabkan munculnya generasi mendatang yang akan berbuat kerusakan di muka bumi ini. Juga karena setiap orangtua tentunya tidak menginginkan dirinya masuk ke dalam surga sementara anak-anaknya diazab di api neraka. Oleh karena itu, semestinya kita berusaha menjaga amanah ini, sehingga Allah SAW menyelamatkan kita semua dari murka-Nya.

Seperti kita rasakan bahwa krisis moral menjadi pemicu kriminalitas, anarkisme, kekerasan, perampokan, pemerkosaan dan pelecehan seksual terhadap anak dibahawah umur atau perempuan dewasa, pembunuhan sadis, peredaran miras, narkoba yang dilakukan oleh masyarakat, oknum pejabat sipil maupun oknum penegak hukum, penipuan, pemerasan  korupsi, kolusi dan nepotisme menjadi tradisi  dikalangan para elit.

Perlu kita sadari, bencana yang terjadi menimpa bangsa Indonesia, seperti peristiwa banjir bandang, tanah longsor, aktivitas erupsi gunung merapi, kebakaran hutan, kekeringan, gelombang sunami, banjir rob/gelombang pasang air laut tengah terjadi di wilayah pantai laut selatan dan pantura jawa pada bulan Juni 2016 telah mengakibatkan kerugian materil bagi manusia, fasilitas umum, infrastruktur, rumah-rumah, permukiman warga hancur, korban luka berat bahkan menelan korban nyawa manusia.

Ketahuilah bahwa kemaksiatan dapat merusak negara, membutakan mata hati, menyiksa badan, menistakan umat, merusak jiwa, dan mengahancurkan masyarakat.  sesungguhnya, tanggung jawab untuk mencegah bencana dan dampak buruk perbuatan dosa terhadap individu dan masyarakat berada di pundak setiap muslim.

Setiap muslim harus meluruskan dirinya sendiri, memelihara keluarganya, mendidik anak-anaknya untuk mencintai kebajikan dan menjauhi kemungkaran, serta berusaha menurut kadar kemampuannya untuk membersihkan masyarakat dan lingkungan sekitarnya dari noda-noda dosa dan maksiat. Allah akan bertanya kepada setiap pemimpin tentang apakah ia memenuhi kewajibannya ataukah menyia-nyiakannya?

Bahwa bencana tidak akan turun kecuali karena perbuatan dosa dan tidak akan hilang kecuali dengan tobat. Karenanya, gemuruhkanlah lidah dengan istigfar, bertobatlah secara terus-menerus dengan tobat nasuha yang memenuhi syarat-syaratnya serta bebas dari penghalang keabsahannya.

Memelihara kedamaian dan kemaslahatan adalah menjadi tanggungjawab setiap orang  seseorang perlu memahami bahwa amanah itu sangat luas cakupannya, dan amanah yang diemban oleh setiap orang tidak sama satu dengan yang lainnya,  meski begitu harus sungguh-sungguh dijalankan sebab semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT nanti atas pelaksanaan amanah yang dipikulnya, baik yang berkaitan dengan kewajiban kita kepada Allah SWT, maupun kepada sesama manusia.

Sesungguhnya Allah SWT di samping menyebutkan di dalam firman-Nya perintah untuk menjalankan amanah, juga larangan bagi umat manusia untuk berbuat khianat. Allah SWT  memberitakan kepada kita dalam ayat-Nya bahwa mengkhianati amanah adalah sifat orang-orang Yahudi, yang kita dilarang untuk meniru akhlak mereka, semnatara nabi Rasulullah SAW menyebutkan bahwa mengkhianati amanah adalah sifat orang-orang munafik.

Diantara bentuk ketakwaan seorang hamba kepada Allah SWT adalah dengan menjalankan dan menjaga amanah yang dipikulnya. Baik amanah yang berkaitan dengan kewajiban kepada Allah SWT seperti shalat, puasa, membayar zakat dan yang lainnya, maupun yang berkaitan dengan kewajiban kepada sesama manusia.

Amanah Kekuasaan

Menjaga amanah adalah yang berkaitan dengan tanggung jawab terhadap orang-orang yang berada di bawah kekuasaan dan pemeliharaannya. Semakin banyak atau semakin luas lingkup kekuasaannya maka semakin besar tanggung jawabnya. Maka, seorang penguasa bertanggung jawab atas warga negaranya dan seorang pemimpin bertanggung jawab terhadap bawahannya.

Gesekan antara rakyat dan pemerintah merupakan fenomena yang sering terjadi. Penyebabnya terkadang dari pihak rakyat dan terkadang dari pihak pemerintah. Demikianlah manusia, tak ada yang sempurna. Kelalaian sering kali menghinggapinya walaupun telah berilmu tinggi dan berkedudukan mulia. Menurut Islam, hubungan yang baik antara rakyat dan pemerintah merupakan satu kemuliaan. Karena itu, gesekan yang terjadi di antara mereka pun termasuk sesuatu yang tercela dan harus segera diselesaikan.

Di antara hal penting yang harus diperhatikan oleh pemerintah agar hubungan mereka dengan rakyat senantiasa terajut dengan baik ialah berlaku adil dan memerhatikan kesejahteraan rakyatnya. Sebab, semua itu adalah amanat yang kelak dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda,“Setiap kalian adalah pemimpin, yang bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya. Seorang penguasa yang memimpin manusia (rakyat) adalah pemimpin, dan dia bertanggung jawab terhadap mereka.” HR. al-Bukhari.  ( Penulis: Pemimpin Redaksi Berita Investigasi Nasional)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *