Diduga Sebagian Dana Hibah LAMR 2015 Bengkalis Raib Ditangan Bendahara

Setda Burhanudin (Ketua  LAMR) bersama Yuli Hartati Bendarahara LAMR  Bengkalis
Setda Burhanudin (Ketua LAMR) bersama Yuli Hartati Bendarahara LAMR Bengkalis

BENGKALISBN,  Seakan tidak takut  dengan hukum, Bendahara Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Bengkalis, Yuli Hartati cs berulah. Kali ini kegiatan pengadaan alat-alat kelengkapan kantor Lembaga Adat Melayu Riau Kabupaten Bengkalis yang bersumber dana hibah Bengkalis tahun 2015 tidak kunjung dikerjakan.

Padahal, per 31 Desember 2015 sudah hampir dua bulan setelah berlalu. Namun, pengadaan kelengkapan alat-alat kantor Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR)  Kabupaten Bengkalis yang tak  jauh dari rumah dinas Sekda  Bengkalis itu, hingga tahun 2016 ini masih dikerjakan. Itupun, pengadaan kelengkapan alat-alat LAMR Bengkalis itu mulai terlaksana, setelah kongkalikong yang diduga terjadi diketahui oleh aktivis LSM dan salah satu media.

Kuat dugaan, pengadaan alat kelengkapan gedung LAMR Bengkalis menimbulkan kesalahan secara administrasi keuangan dan kegiatan tersebut diduga telah terjadi kongkalikong atau korupsi. Karena  anggaran dana hibah secara keseluruhannya sebesar Rp3,5 miliar telah dibayar/ dicairkan sebelum masa tahun anggaran 2015 lalu berakhir.

“Memang secara administrasi kita mengaku salah pak. Karena kita menggunakan dana hibah tahun 2015. Tapi ini kita lakukan hanya semata tidak ingin melihat gedung LAMR Bengkalis kosong begitu saja. Dan kita berharap setelah alat kelengkapan itu ada, kita bisa melakukan kegiatan di LAMR Kabupaten Bengkalis,” kata Bendahara LAMR Bengkalis, Yuli Hartati, kepada salah satu media  belum lama ini.

“Semuanya SPJ yang kami buat tentang kegiatan pengadaan perlengkapan alat-alat gedung LAM itu tahun 2015 kemaren, diketahui dan ditandatangani oleh pak Sekda (Burhanuddin). Karena dia (Sekda-red) ketua harian LAMR Kabupaten Bengkalis,” kata Yuli.

“ Itu memang saya akui kata Yuli, semua alat-alat LAMR itu, Saya yang belikan dari pihak ke tiga di Toko Gelenjer jalan Teuku Umar Bengkalis. Kalau soal kegiatannya baru tahun 2016 ini kami kerjakan, dan uangnya sudah duluan kami cairkan, tak ada masalah. Karena pak Sekda (Burhanuddin) sendiri tahu dan setuju untuk mencairkan dana itu sebelum tahun 2015 kemarin habis,” ujar Yuli.

Diterangkan Yuli, pada tahun 2015 kemarin, dana hibah untuk LAMR se-Kabupaten Bengkalis, ada sebesar Rp 3 miliar. Dana Hibah tersebut untuk pengadaan perlengkapan alat-alat kantor LAMR yang berada di jalan Pramuka Bengkalis senilai Rp1,5 miliar.

“Dan itu semuanya, saya yang cairkan atas persetujuan pak Sekda selaku ketua harian LAMR,” sebut Yuli .

Demikian juga bantuan dana hibah untuk LAMR yang ada di seluruh kecamatan di Kabupaten Bengkalis, Yuli juga yang membayar kepada mereka pengurus LAMR di masing-masing kecamatan se-kabupaten Bengkalis.

“ Tapi bantuan dana hibah ke LAMR kecamatan se-Kabupaten Bengkalis, berupa uang saya berikan. Karena yang menentukan hibah uang untuk kecamatan itu masing-masing, pak Sekda. Dan itu semuanya saya bayarkan ke masing-masing pengurus LAMR di depalan (8) kecamatan se-Kabupaten Bengkalis sebesar Rp120 juta sampai Rp150 juta per kecamatannya,” terang Yuli lagi.

Berdasarkan hasil pantauan tim investigasi pada gedung kantor LAMR Kabupaten Bengkalis di Jl. Pramuka Bengkalis, Minggu (14/02/2016) sore, kain gorden yang sebelumnya dijelaskan Bendahara LAMR Bengkalis, Yuli Hartati, kepada Wartawan sudah ada di gedung kantor LAMR, ternyata belum ada atau nihil sama sekali.

Demikian juga meja dan kursi serta pengadaan peralatan lainnya di gedung kantor LAMR Kabupaten Bengkalis belum seutuhnya dilaksanakan.

“Meja dan kursi yang baru ini, sekitar satu minggu lalu dibawa ke sini pak, kalau meja dan kursi yang ada sekarang, sudah lama ada disini,” ungkap salah seorang dari penjagaan gedung kantor LAMR kepada Wartawan.

Seminggu yang lalu, ada lima buah meja yang baru dipasang oleh tiga orang yang mengaku karyawan toko dari jalan Teuku Umar Bengkalis. Tapi meja yang dibuat itu ada 5 buah, dan satu lagi meja yang belum mereka pasang. Sampah bekas kerja saat ke lima buah meja ini dikerjakan mereka, itu semuanya dibiarkan begitu saja, kata penjaga gedung kantor LAMR Bengkalis.

“Saya ada dengar memang pak. dana untuk peralatan-peralatan gedung LAMR Bengkalis ini tahun 2015 lalu, ada. Tapi uangnya dibagi-bagi duluan sama pengurus pengadaan alat-alatnya. Makanya saya juga heran, kok tiba-tiba saja minggu kemaren itu ke lima meja ini dibawa kesini ditambah beberapa buah kursi lipat dan kursi karet itu,” kata penjaga LAMR.

Dikatakannya, kalau kain gorden maupun karpet, memang tak ada. Tentu kalau sudah ada barang itu (kain gorden dan karpet-red), sudah terpasang kan pak? tanya dia.

Selain kursi dan lima buah meja yang dibawa seminggu lalu itu kesini, ada lagi lemari dua unit dan 1 unit AC yang dibawa mereka. Paling-paling harga barang yang dibawa minggu kemaren itu kesini, sebesar Rp150 juta tak sampai, tambah salah petugas Satpol PP ini kepada Wartawan.

Munculnya permasalahan penyimpangan dana hibah dalam pengadaan perlengkapan gedung LAMR Kabupaten Bengkalis ini, karena kurangnya pengawasan dari pihak Pemda setempat. Sehingga pengurus atau pelaksana seperti bendahara LAMR-nya, dengan segampangnya melakukan kecurangan untuk mengerjakan kegiatan yang asal jadi. Apalagi, kalau pengelolaan keuangannya sudah mendapat restu dari Sekda Bengkalis.*** [iwn-bks]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *