Aliansi Indonesia Persempit Ruang Gerak Pengguna Narkoba

Ketua Umum Aliansi Indonesia, H. Jhoni Lubis
Ketua Umum Aliansi Indonesia, H. Jhoni Lubis

Wawancara Ekslusif  Dengan Ketua Umum Aliansi Indonesia,  H. Jhoni Lubis

Jakarta-BN, Di sela sela pelaksanaan sosialisasi Bahaya Penyalahgunaan Narkoba dan pemberdayaan potensi masyarakat anti narkoba bagi anggota Lembaga Aliansi Indonesia yang diselenggarakan Pusat Pencegahan Badan Narkotika Nasional bekerjasama dengan Lembaga Aliansi Indonesia, kami sempat mewawancarai Ketua Umum Aliansi Indonesia H. Jhoni Lubis, yang hadir dalam acara tersebut. Berikut petikan wawancaranya:

Apa yang melatarbelakangi diselenggarakannya sosialiasi ini?

Faktor terberat yang berpengaruh pada generasi pemuda saat ini adalah faktor lingkungan, salah satunya aspek narkoba. Ini peringatan dini kepada stake Holder terutama Anggota dan keluarga besar Aliansi Indonesia seluruh Indonesia untuk menghindari narkoba, karena akan berpengaruh pada generasi penerus Banga dalam pendidikan, proses belajar dan proses kehidupan berikutnya. Maka kalau ingin sukses belajar, jauhi penggunaan narkoba dan hal hal yang mengarah kepada penyalahgunaan narkoba. Alasan itulah yang melatarbelakangi diselenggarakan sosialisasi ini.

Apa saja yang telah dilakukan Aliansi Indonesia untuk mendukung program anti Narkoba?

Aliansi Indonesia telah melakukan berbagai hal, yang dikelola oleh Bidang Intelijen Investigasi dan Advokasi, meliputi sosialisasi peraturan, sidak, kerjasama dengan BNN, polisi, serta nantinya ada surat keterangan bebas narkoba untuk anggota, serta menekankan bahwa Aliansi Indonesia adalah Lembaga yang bersih dari penyalahgunaan narkoba. Dimana kami secara periodik berkoordinasi untuk melakukan sidak, tes urine dan kerjasama dengan BNN untuk sosialisasi narkoba kepada anggota.

Bagaimana pendapat Ketum atas sikap pemerintah terhadap para pengedar narkoba?

Dalam konteks ini pemerintah perlu meningkatkan sosialisasi akan kesadaran semua pihak yang menjadi pembuat, pengedar dan penjual narkoba. Bahkan disinyalir terdapat aparat, dokter yang terlibat dalam proses itu. Sungguh ironi, dimana mereka yang seharusnya memberi contoh, justru terlibat sebagai pengedar narkoba. Hal ini sebenarnya terkait dengan kondisi keuangan bangsa saat ini yang semakin sulit, sehingga peluang memperoleh tambahan dana lebih banyak, jika tidak sanggup menghadapi kondisi yang sulit, banyak anggota masyarakat yang terjebak dalam perdagangan narkoba. Namun jika dipikir kembali, apa nikmatnya hidup di dunia, jika dapat uang dari jual narkoba? Apa sih sebenarnya tujuan hidup ini, jika membuat kerusakan dan kesengsaraan orang lain? Betapa terkutuknya mereka yang telah merusak moral generasi muda.

Apa harapan Aliansi Indonesia kedepan?

Jhoni Lubis : Minimal kita semua berusaha untuk mempersempit ruang gerak pengguna narkoba dimanapun, di masyarakat, di Lembaga, kampus bahkan tempat lainnya. Masalahnya masyarakat masih sangat minim kesadarannya untuk bersama sama memberantas narkoba. Dan itu tugas kita, pemerintah, Lembaga, Perguruan tinggi, institusi pendidikan yang lain serta peran masyarakat dan keluarga pada khususnya. Di lain pihak aparat dan pemerintah harus bisa melindungi pihak-pihak yang melaporkan adanya transaksi narkoba. Tentu ini adalah efek dari perekonomian kita yang masih sangat lemah, dan gejala umum di negara-negara berkembang, yang tingkat perekonomian masyarakatnya belum merata. Sehingga penjualan narkoba menjadi tumbuh pesat. Kedepan, marilah kita bersama-sama menjaga lingkungan terdekat kita untuk perkembangan anak dan generasi pelanjut kita lebih baik. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *