Petani Kelapa Sawit Keluhkan Anjloknya Harga TBS

IMG_2916Jambi, BN – Sejak bulan Juni 2015, harga Tandan Buah Segar ( TBS ) kelapa sawit sangat memperhatinkan. Rendahnya harga TBS yang diterima para petani Kelapa Sawit sangat dikeluhkan, sebab berimbas pada roda perekonomian khususnya petani Sawit.

Sampai berita ini diturunkan harganya berkisar hanya sekitar Rp. 600.000 s/d 650.000 /Kg. Menurut pantauan Korwil Jambi harga yang buat oleh pihak PTP. Nusantara VI pada PKS. Pinang Tinggi Rp. 910.000/Kg. Untuk petani Kelapa Sawit warga Sungai Bahar Kabupaten Muaro Jambi, PKS ini adalah kemitraan ( Bapak Angkat ) bagi Warga Sungai Bahar Jambi.

Harga pada sekarang ini Rp. 910.000/Kg harus dipotong upah panen Rp. 150./Kg, upah muat dan upah bongkar, transport. Akhirnya harga yang sampai kepada warga petani Sawit sekitar Rp. 600.000. s/d Rp. 650.000 Kg.

Kalau diperhitungkan biaya perawatan (pupuk + obat semprotan) pembasmi rumput dan anak-anak kayu, akhirnya para petani Sawit akan mendapat hasil yang sangat merugi.

PT. Perkebunan Nusantara 1 sampai Nusantara 9, adalah PT. ( PERSERO ) Perusahaan BUMN. Pulau Sumatra dan juga Pulau Kalimantan adalah petani Kelapa Sawit. Dalam hal ini bagi petani Kelapa Sawit serta perusahaan BUMN, pemerintah Pusat Menko Perekonomian, juga pada Peresiden Joko Widodo sudah saatnya menurunkan Pajak Eksport 50% dari 50.000 USD/Ton, termasuk menurunkan harga pajak Eksport CPO.

Dengan keadaan lesunya perekonomian dunia pada saat ini, saatnya juga Menko Perekonomian menjaga semua perusahaan swasta dan perusahaan BUMN, termasuk bagi petani Kelapa Sawit yang ada di Nusantara ini.

Akibat anjloknya harga TBS, juga akan berakibat kepada Bank-Bank yang ada di setiap pedesaan/Kecamatan yang ada di Nusantara ini, sebab lebih kurang petani Kelapa Sawit yang ada di setiap Kecamatan ada sekitar 50% warga petani mendapat kucuran dana Kredit dari Bank yang ada setiap Kecamatan. Contoh untuk daerah Sungai Bahar Kabupaten Muaro Jambi, Propinsi Jambi yang ada di sekitar pasar Suaka Makmur unit satu, BRI ada 3, termasuk BRI Syariah, Bank Mandiri, Bank Danamon. BRI di Desa Bunut, BRI di Unit 7, serta beberapa Bank-Bank Swasta yang ada sekitar wilayah Sungai Bahar, bahkan di setiap daerah yang ekonominya menengah kebawah.

Untuk masalah anjloknya harga TBS yang dialami petani Kelapa Sawit, warga memohon kepada Pemerintah Kabupaten, agar Pajak Bumi dan Bangunan ( PBB ) untuk tahun 2015 ini ada penurunan, jangan setiap tahun selalu naik terus.

Menurut Kades dari 3 Kecamatan Sungai Bahar yang tidak mau disebut namanya, dana pembangunan dan honor Kades serta perangkatnya untuk bulan Januari s/d bulan Juni 2015, baru cair bulan September 2015. Dana bangunan sekitar Rp. 40 juta, dan APDN dari Pusat sekitar Rp. 240 juta.

“Masyarakat menginginkan keteransparan bagi semua mulai dari semua kepala desa dan Pemkab, agar tercapainya keadilan dan kemakmuran bagi semua masyarakat Indonesia,” ungkapnya.

“Khusus bagi Pemkab Muaro Jambi, hampir semua proyek-proyek yang dikerjakan oleh Kontraktor, tidak mencantumkan jumlah besarnya biaya proyek dalam daftar papan nama proyek tersebut, bahkan ada juga tidak membuat/memancang papan nama proyek, masalah ini juga ada di lokasi Sungai Bahar Jambi,” terangnya.

Lebih lanjut, masyarakat menginginkan pihak Kepolisian juga dari pihak Kejaksaan Tinggi, meninjau lokasi proyek di Kabupaten Muaro Jambi, termasuk memeriksa Kepala Dinas Pekerjaan Umum Muaro Jambi. (JHP)

Editor Media binpers.com

Berita terkait

Leave a Comment