PANGKOOPSAU II Kunjungi Lanud Timika

image005Timika, Papua ( BN) – Panglima Komando Operasi TNI Angkatan Udara (PANGKOOPSAU) II Marsekal Muda (MARSDA) TNI Dody Trysunu pada Rabu (2/9) yang lalu tiba dari Meraoke di bandara nasional Mozez Kilangin Timika, Papua dengan penerbangan khusus menggunakan pesawat TNI AU POLRI 737.

Rombongan disambut oleh Danlanud Timika Letkol Pnb. Henri Ahmad Badawi didampingi ibu-ibu PIA, ketua cabang PIA Ardhya Garini Lanud Timika, Ny. Triyana Kusuma Astutik, Sekda kab. Mimika Ausilius You, S.Pd, MM, Dandim 1710 Mimika Letkol Andi Kusworo, Danlanal Timika Letkol (P) Victor Siagian, Danbrigif 20/Ijk, Kol. Inf. Endro Satoto, Wakapolres Mimika Kompol Adi Wirasto Nugroho,SIK beserta petinggi TNI dan Polri lainnya di bandara Mozes Kilangin Timika, Papua.

Kepada wartawan ketika dikonfirmasi terkait rangkaian kunjungan kerjanya, Dody mengatakan bahwa kedatangannya dalam rangka kunjungan kerja dan melihat secara langsung kesatuan Lanud Timika yang mana merupakan salah satu jajarannya dalam mendukung tugas−tugas operasi, baik operasi penerbangan maupun operasi−operasi lainnya serta melihat berbagai kendala dan hambatan yang ditemui di Lanud Timika sehingga bisa membantu memecahkan atau mencari solusi atas kendala ataupun masalah yang dihadapi agar semunya dapat berjalan dengan lancar. Sebab menurutnya Lanud Timika merupakan salah satu kekuatan pemukul terhadap berbagai ancaman potensial pertahanan udara yang datang dari luar Indonesia, juga untuk menyokong dan melindungi objek vital militer Indonesia khusus wilayah bahagian Timur dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berpusat di Makassar.

“Konsep angkatan udara itu adalah tidak selalu menempatkan kekuatan pada setiap pangkalan udara yang ada namun apabila dibutuhkan oleh Lanud Induk, maka Lanud pendukung seperti Lanud Timika ini akan kita perlengkapi dengan memperkuat sistim alutsista jika ada ancaman−ancaman potensial. Intinya kita akan memperkuat setiap pangkalan udara yang ada,“ jelasnya.

Pangkoopsau mengatakan bahwa untuk Alutsista di Papua secara ideal memang masih kurang, namun sejauh ini sesuai kebutuhan pelaksanaan tugas operasi masih dirasakan cukup. Adanya fasilitas radar di Lanud Biak, Timika dan Merauke, serta di wilayah Saumlaki, dirasakan telah mampu meng−cover wilayah Indonesia Timur sehingga kalau ada pelanggaran penerbangan atau penerbangan gelap maka sudah bisa terdeteksi. Sedangkan untuk kesiapan Alutsista bisa digerakan sesuai konteks jika diperlukan.

“Kesiapan Lanud sebagai benteng pertahanan udara khususnya di wilayah Papua sudah cukup baik. Untuk alutsista kita bisa gerakan di sini (di Timika) dalam konteks seperti momentary atau penggelaran sementara atau sesaat saja sifatnya,” ucap sang Jendral Bintang dua tersebut yang menurutnya baru pertama kali berkunjung ke Lanud Timika namun beberapa kali telah menginjakan kaki di Timika pada tahun 1990−an sebelum adanya Lanud.

Ditanyai mengenai peningkatan status Lanud Timika menjadi lebih besar, menurutnya sampai saat ini, belum ada wacana peningkatan. “Status Lanud Timika masih tipe C, karena ini adalah Lanud untuk mendukung kegiatan operasi saja, bukan sebagai Lanud Induk,” ujarnya.

Mengenai kendala−kendala yang dihadapi LANUD Timika saat ini di dalam menjalankan tugas pokok mendukung kegiatan−kegiatan rutin operasi penerbangan dan lainnya, ia berjanji segera menindaklanjuti hal tersebut.

Menurutnya hal menonjol dan penting untuk segera ditanggulangi di Lanud Timika yaitu mengatasi kekurangan personil sehingga akan dilakukan penambahan personil secara bertahap ke depannya.

Terkait potensi kecelakaan udara khususnya untuk medan menantang seperti di daerah Papua ini, semua Lanud diwajibkan untuk selalu memiliki budaya safety.

“Prinsipnya harus safety, mulai dari perencanaan penerbangan persiapan penerbangan, hingga pelaksanaan penerbangan, selalu kita tekankan itu di semua Lanud untuk mencegah terjadinya hal−hal yang tidak diinginkan. Kondisi pesawat harus siap dalam mendukung kegiatan operasi, kalau ada yang kurang maka dilarang untuk menerbangkan pesawat itu. Harus dicek dan dibenahi dulu baru boleh terbang,“ pungkasnya.

Sementara itu Danlanud Timika Letkol (PNB) Henri Ahmad Badawi saat dikonfirmasi mengatakan kepada pihak media bahwa,” kekurangan−kekurangan yang ada di Lanud Timika seperti jumlah personil Lanud Timika yang saat ini hanya 83 orang yang jauh dari ideal dan seharusnya wilayah Lanud Timika memiliki personil 143 orang, ujarnya.

Kekurangan lain Lanud Timika tidak mempunyai pangkalan dan tempat parkir area sendiri dan juga tidak mempunyai ground power yang merupakan alat pertama untuk pendukung operasi penerbangan untuk itu Danlanud mengatakan bahwa, “Semoga apa yang menjadi kekurangan tersebut yang telah di sampaikan dapat dipenuhi di kemudian hari nanti,’’ ujar Danlanud. (smm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *