Jaringan Mafia TKI “Merajalela” di Kota Bitung

mafia TKI BitungSULUT-BIN, Upaya pemerintah memberantas lintas perdagangan tenaga kerja Indonesia (TKI) ternyata masih menemui banyak kendala, karena seiring sikap tegas pemberantasan jaringan mafia tenaga kerja Indonesia maka modus operandi penyelundupan semakin canggih dan mengikuti perkembangan teknologi.

Seperti yang terjadi di Sulawesi Utara yang melibatkan salah satu warga negara Indonesia yang ber-KTP kota Bitung bisa mendapatkan visa bekerja ke luar negeri dengan merubah kartu keluarga dan masuk dalam daftar keluarga lain di daerah kabupaten Halmahera Utara provinsi Maluku Utara.

Hasil investigasi tim binpers.com mengungkapkan bahwa kontrak kerja TKI ini juga menyalahi prosedur karena tidak memenuhi semua kesepakatan awal. Temuan di lapangan menyatakan bahwa agen atau orang yang bertanggung jawab memberangkatkan para TKI adalah ilegal dan tidak terdaftar pada dinas tenaga kerja kota Bitung, sementara oknum yang bertanggung jawab terhadap tenaga kerja ini bertempat tinggal di kota Bitung.

Pemberangkatan TKI yang berjumlah 43 orang tersebut, berangkat tanggal 09 juni 2012, tenaga kerja illegal ini dilakukan oleh oknum inisial IC, yang beralamatkan Kakenturan 1 (satu) RT 03 lingkungan 1 (satu) kota Bitung provinsi Sulawesi Utar. Jaringan ini sudah beroperasi kurang lebih sepuluh tahun dan beroperasi sampai ke Halmahera Utara di daerah Tobelo, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan serta Jawa. Keberangkatan mereka via bandar udara Samratulangi.

Tim mendapatkan informasi bahwa hotel Vina dekat bandara Samratulangi merupakan tempat menginap para TKI sebelum mereka diberangkatkan, dengan tujuan Manado – Singapura – Bombay – Alisababa (Ethovia) – Brazivile (Congo).

Menurut beberapa sumber aktifis LSM, kegiatan ini bukan tidak mungkin melibatkan aparat pemerintah, karena pengiriman ini dilakukan hampir setiap bulan dengan jumlah yang banyak tanpa melalui Depnaker dengan tujuan negara Kongo dan semua fasilitas material disediakan oleh agen perusahaan asal Congo.

“Sipam T.P Congo bernama edwin sedangkan manager dipercayakan kepada suami inisial IC (Ince),” ungkapnya.
Menurut keterangan nara sumber bahwa visa yang mereka miliki hanya visa berkunjung selama 3 (tiga) bulan,” sedangkan kehadiran kami di Congo untuk bekerja dan tidak ada kontrak kerja dengan janji-janji akan dibuat di Singapura,” ujar nara sumber yang merupakan salah satu calon TKI.

Tetapi sampai di negara congo pun, kata dia, kontrak kerja tidak ada tapi hanya pembicaraan secara lisan.
Menurut ketua divisi tindak pidana LKSI Sulut, Chandrika Mulyabakti, bahwa kejadian ini sangat perlu disikapi oleh pemerintah daerah dan pusat terutama pihak dirjen imigrasi karena kasus ini termasuk pelanggaran berat yang mengeksploitasi manusia antar negara.

“Dan kami mengharapkan kapolda Sulut untuk turun tangan dan sigap mengambil tindakan, kalau perlu kami akan bantu dengan pergerakan tim LKSI yang setiap saat dengan tangan terbuka membantu pergerakan aparat yang berwajib,” tandasnya. [TIM] BERSAMBUNG…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *