BINPERS

Berita Investigasi Nasional

Diduga Perusahaan Perkebunan Terlibat Kasus Kebakaran Hutan Sumatera

kebakaran hutanPalembang, (BN) – Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki hutan yang luas, dengan total luas kawasan hutan 98.5600.000 ha atau 52,4% dari total luas wilayah Indonesia. Hal tersebut yang menjadikan hutan Indonesia juga disebut-sebut sebagai salah satu paru-paru dunia. Memiliki hutan yang luas, banyak rakyat Indonesia yang menggantungkan hidup dari hutan, baik itu dari hasil hutan alami (flora dan fauna) maupun dari pembukaan lahan hutan.

Namun ternyata, angka tersebut bukan merupakan luas awal dari total luas kawasan hutan yang dimiliki Indonesia, karena sebenarnya hutan Indonesia mengalami laju deforestansi (penebangan hutan) yang cukup tinggi, yaitu 610.375,92 ha per tahun. Salah satu cara deforestansi yang dilakukan oleh masyarakat di Indonesia adalah dengan cara membakar hutan.

Berdasarkan pantauan dilapangan salah satu faktor alam yang menyebabkan terjadinya kebakaran hutan adalah cuaca yang terik pada musim kemarau. Kejadian ini yang termasuk sering terjadi dihutan Indonesia khususnya pada periode April hingga September. Cuaca yang terik menyebabkan pohon-pohon menjadi kering terutama ilalang, ranting dan dedaunan dan ini sangat mudah sekali terbakar.

Faktor alam lainnya yang menjadi sebab hutan kita terbakar adalah sambaran petir. Peristiwa ini lebih sering terjadi pada periode awal-awal musim penghujan tiba. Hutan yang kering akibat musim kemarau yang sangat panjang akan mudah sekali terbakar jika tersambar petir. Dan ini merupakan salah satu penyebab utamanya selain kecerobohan manusia dan pembakaran.

Penyebab kebakaran hutan di Indonesia tidak hanya karena faktor alam saja, melainkan juga karena faktor kelalaian atau kecerobohan manusia. Menurut catatan, beberapa hutan terbakar karena kelalaian manusia contohnya adalah lupa untuk mematikan api unggun ketika berkemah atau membuang puntung rokok sembarangan (disekitar hutan).

Penyebab lainnya yang membuat hutan kita terbakar adalah alih fungsi lahan. Ini dilakukan oleh banyak perusahaan yang membakar hutan untuk membuat pabrik, hal ini dilakukan karena berbiaya jauh lebih murah dibandingkan menggunakan alat berat. Ini juga dilakukan masyarakat sekitar untuk membuka lahan pertanian dengan cara membakar hutan.

Pemerhati Lingkungan hidup Sumatera selatan, Marlina menyatakan bahwa kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh dua factor utama. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah faktor ketidaksengajaan (kelalaian) dan faktor kesengajaan. Faktor kelalaian ini contohnya seperti kelalaian petani yang membakar sisa jerami di sawah dan baranya terbawa angin hingga ke hutan, dan peserta perkemahan di hutan yang lupa memadamkan bara api unggun. Sementara faktor kesengajaan pembakaran hutan oleh masyarakat adalah untuk membuka lahan baru yang digunakan untuk berbagai keperluan seperti perumahan, pertaniana dan industry atau pertambangan. Faktor kesengajaan ini merupakan faktor terbesar yang membuat teradinya kebakaran hutan di Indonesia.

“ faktor kesengajaan pembakaran hutan di salah satu kawasan hutan Indonesia yaitu hutan di pulau Sumatera yang menjadi tren dewasa ini didominasi oleh keperluan untuk membuka lahan hutan tanaman industri dan perkebunan kelapa sawit. Pembakaran hutan ini dilakukan oleh pihak tertentu karena belum adanya upaya pencegahan maupun pemberian sanksi dari pemerintah sejak tahun 1998, sehingga pembakaran hutan menjadi salah satu pilihan yang cepat dan efektif (bagi pihak yang membakar hutan) sebagai upaya membuka lahan”, tegas ilin.

Faktor antara lain adanya investor yang ingin membuka lahan perkebunan kelapa sawit di kawasan hutan Indonesia dank arena kondisi ekonomi masyarakat Indonesia yang masih banyak berada pada level rendah terutama yang hidup di daerah tepi hutan dan pedalaman. Investor dapat dengan mudah memperkejakan masyarakat sekitar untuk membuka lahan hutan dengan membakar, dan masyarakat mendapat imbalan atas apa yang dikerjakan.

Ilin juga mengungkapkan bahwa lembaga pengawas standar ramah lingkungan perusahaan-perusahaan kelapa sawit RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) harus bertanggung jawab terbakarnya hutan di Pulau Sumatera dan mengakibatkan kabut asap yang sangat parah di pulau tersebut hingga ke Singapura dan Malaysia.

Menurutnya, berdasarkan identifikasi beberapa anggota RSPO diduga menjadi penyebab kebakaran hutan di Sumatera tersebut. ilin menuding bahwa hasil temuan ini mengindikasikan bahwa RSPO telah gagal untuk memonitor anggotanya untuk tidak membakar hutan dan lahan. Dia juga mengkritik RSPO tidak mencegah terjadinya deforestasi dan alihfungsi lahan gambut.

Lebih jauh Ilin menjelaskan, pembabatan hutan yang dilakukan selama beberapa dekade oleh pihak perusahan tersebut dan pengeringan lahan gambutlah yang menyebabkan kebakaran baru-baru ini.

“RSPO dibentuk lebih dari satu dekade lalu untuk mengatasi kebakaran hutan, namun mereka gagal untuk mencegah anggota-anggota mereka menciptakan kondisi yang menyebabkan kebakaran, dan melihat dampak dari operasi yang dilakukan perusahan-perusahaan tersebut di lapangan. Ini saatnya bagi perusahaan-perusahaan kelapa sawit untuk meningkatkan standar yang lebih tinggi dibandingkan RSPO.”ungkap ilin.

“Pengeringan dalam skala besar dan pembabatan hutan gambut oleh pihak perkebunan menyebabkan kondisi munculnya api dan berkembang menjadi bencana seperti kita saksikan bulan ini. Terlepas dari status publik RSPO sebagai pendorong keberlanjutan, namun nyatanya mereka masih tidak mampu melarang anggota-anggota mereka menebang hutan dan membangun di atas lahan gambut. Hingga hal ini berhasil diubah, maka akan terus menempel cap dalam operasi minyak kelapa sawit yang kotor yang akan menyebabkan lagi kebakaran di masa mendatang.” tegas Ilin.

Selain Perkebunan Kelapa sawit ilin juga mempermasalahkan titik api yang muncul di konsesi milik Asia Pulp and Paper (APP). Sudah dilaporkan bahwa sektor bisnis kelapa sawit berkontribusi sekitar 20% dalam kebakaran tersebut.

“Bagaimanapun, pada puncak kebakaran hutan terpantau ada 9000 titik api dan 80% diantaranya ada diluar perkebunan kelapa sawit. Perkebunan di sektor bisnis bubur kertas teridentifikasi memiliki lebih banyak titik api dibandingkan perkebunan kelapa sawit.

Dipaparkan juga bahwa ada pelaku-pelaku lain dan berbagai isu yang terkait kabut asap ini. Misalnya, pada saat berbagai pihak menyalahkan para petani kecil dan pengembang industri perkebunan, berdasarkan hasil investigasi dilapangan ada sebuah kategori baru pengguna lahan, yaitu mid-level entrepreneurs yang kemungkinan juga terlibat dalam kebakaran hutan ini.

Orang-orang ini mengambil alih lahan lewat cara-cara informal di level pedesaan, dan secara efektif menyingkirkan sistem tata guna lahan pemerintah. Mereka membawa sendiri buruh mereka untuk membuka lahan untuk perkebunan kelapa sawit, tak peduli status hukum lahan tersebut dan tidak menggunakan izin-izin yang disyaratkan.

Di level yang lebih tinggi, opini yang berkembang terkait isu kabut asap ini adalah gagalnya Pemerintah Indonesia untuk memelihara dan membuka data yang akurat tentang kepemilikan konsesi, upaya yang kompleks dalam mengontrol api dan penegakan hukum bagi para pelaku. Dan membakar di luar wilayah konsesi secara efektif telah membuka kesempatan untuk ekspansi konsesi tahap selanjutnya. Masih belum jelas sampai saat ini apakah pemerintah sudah melakukan monitoring dan memberlakukan sistem yang jelas untuk memastikan bahwa orang-orang yang menyulut kebakaran tidak akan mendapat keuntungan dari aktivitas ilegal mereka.”
Padahal dampak yang akan ditimbulkan akibat dari kebakaran hutan adalah menyebakan polusi dan pencemaran udara. Gas emisi yang berupa karbon terlepas ke udara, dan ini bisa membahayakan manusia dan bahkan bisa menyebabkan kematian.

Dampak lain yang sering dirasakan manusia akibat terbakarnya hutan Indonesia adalah kesulitan untuk bernapas bahkan hingga terkena penyakit saluran pernapasan (ISPA), Hutan yang terbakar akan melepaskan gas karbon monoksida ke atmosfer. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa gas karbon monoksida merupakan penyebab pemanasan global.

Terbakarnya hutan menyebabkan persediaan oksigen manjadi menipis. Dalam hutan terdapat banyak pohon yang menghasilkan oksiden, kalau hutan terbakar tentu tidak ada oksigen, Hutan merupakan “rumah” bagi flora dan fauna, jika hutan terbakar mereka tentu tidak punya “rumah” lagi. Ini merupakan salah satu penyebab kelangkaan beberapa flora fauna Indonesia.

Kebakaran hutan menyebakan suhu udara menjadi panas, dan ini berpegaruh kepada kota-kota yang disekitarnya. Dan hal tersebut akan membuat hidup kita menjadi tidak nyaman, Hutan yang terbakar juga membuat potensi pendapatan dari hasil hutan menjadi berkurang, padahal hasil hutan bisa mendatangkan pendapatan yang terbilang besar.

Untuk sebagian masyarakat, hasil hutan adalah sumber mata pencaharian mereka. Jika hutan terbakar, maka tentulah mereka tidak akan mendapatkan penghasilan. Peristiwa terbakarnya hutan akan membuat negara mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Tentu uang ini akan jauh lebih bermanfaat jika digunakan untuk kesejahteraan warga.

Kebakaran hutan membuat image Indonesia dimata internasional menjadi buruk, Indonesia dianggap sebagai negara yang tidak “becus” dalam mengelola lingkungannya.

Pada akhirnya, kendati banyak pihak masih terus berusaha mencari siapa dalang dibalik kebakaran hutan yang menyebabkan kabut asap ini, namun resiko munculnya api di hutan sumatera masih belum berkurang. Diprediksi bahwa musim kebakaran yang parah seperti yang baru saja kita saksikan masih akan berulang.

Kebakaran hutan di Indonesia adalah bagian dari masalah yang sangat panjang dan tidak terselesaikan, satu masalah yang harus dicari solusinya secara terkoordinasi dan komprehensif untuk mereduksi api dan kabut asap ini.

Prinsip yang biasa dilakukan dalam upaya pemadaman kebarakan hutan adalah dengan mengisolasi oksigen dari nyala api. Pencegahan kekeringan lahan gambut melalui pengaturan zona dalam pemanfaatan lahan dengan memaksimalkan sumber daya yang ada di pemerintah dan desa juga hal yang paling penting dilakukan.

Selanjutnya mempersatukan sumber daya baik di pemerintah maupun masyarakat sekitar dalam upaya rehabilitasi lahan, Peningkatan produksi hasil bumi dan peternakan di area tempat tinggal masyarakat demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Penguatan kelembagaan Masyarakat Peduli Api (MPA) yang dilakukan dengan cara melibatkan masyarakat secara optimal dalam upaya pencegahan kebakaran hutan serta yang terakhir yang dapat dilakukan pemerintah adalah mendirikan koperasi sebagai salah satu upaya minngkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar area hutan. (mas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *