Pembangunan di Nunukan Belum Merata

nunukan2Nunukan-BN, Realisasi pembangunan di Kabupaten Nunukan dinilai belum merata karena diantara semua daerah dalam wilayah Kabupaten Nunukan sebagian daerah atau wilayah terlihat begitu pesat berkembang, sementara daerah atau wilayah lain masih tersendat terkesan terabaikan oleh pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pusat.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Nunukan, Anto Bolokot mengatakan meski pada kenyataannya daerah yang nyaris diabaikan tersebut berkelimpahan sumber daya alam yang dikelola oleh pemerintah daerah melalui kerja sama dengan pihak ketiga, dalam hal ini perusahaan swasta ataupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) yang akan digunakan untuk membangun daerah ini.

Hasil rerses Anto Bolokot yang dilakukan beberapa waktu lalu menyimpulkan bahwa pembangunan di Kabupaten Nunukan belum merata, masih lebih fokus di Pulau Nunukan sebagai ibu kota Kabupaten. Seharusnya daerah lain khususnya daerah pedalaman juga turut dibangun karena daerah itulah yang sumber daya alamnya dikeruk untuk menopang pendapatan asli daerah, yang kemudian digunakan untuk membangun daerah ini. Masih ada rentang kesenjangan antar wilayah yang perlu diperhatikan dalam proses pembangunan di Kabupaten Nunukan.

“ Kalau mau jujur, daerah pedalaman yang masuk dalam daerah pemilihan tiga, masih tertinggal meskipun memiliki sejumlah potensi alam yang sedang dikelola oleh pemerintah daerah melalui kerjasama dengan perusahaan swasta ataupun BUMN, dan sedang dinikmati oleh sebagian masyarakat Kabupaten Nunukan. Lihat saja kecamatan Sembakung, yang adalah kecamatan tertua diantara kecamatan lain sebagai hasil pemekaran kecamatan, masih tertinggal dari sentuhan pembangunan walaupun memilki sejumlah potensi alam yang menjadi tulang punggung pendapatan asli daerah, misalnya pertambangan, perkebunan, pertanian, peternakan dan potensi hutan seperti kayu dan lain – lain,” beber Anto.

Masalah lainnya yang perlu digarisbawahi yaitu tentang pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) Sebaung, yang konstruksi jaringan bawah lautnya menyeberangi aliran sungai Simenggaris, tapi justru Simenggaris masih berada dalam kegelapan, namun yang menikmati manfaat kehadiran PLTG Sebaung adalah Nunukan dan Sebatik.

Potensi sumber energi listrik di Sebaung menjadi wujud implementasi program Perbatasan terang benderang,yang dicanangkan pemerintah Kabupaten Nunukan tapi sayangnya yang menikmatinya justru wilayah yang tidak memiliki potensi sumber energi. Sebaliknya wilayah atau daerah pemilik sumber energi masih dicengkram kegelapan, ini memberi kesan seakan akan perbatasan hanya di Nunukan dan Sebatik saja, sedangkan kawasan Simenggaris yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia untuk wilayah daratan malah kegelapan.

“Bukan masalah penerangan saja,tapi persoalan ketertinggalan daerah pemilihan tiga cukup kompleks misalnya infrastruktur, jalan, jembatan ataupun fasilitas publik bahkan pendidikan dan kesehatan semuanya perluh diperhatikan dan dibenahi demi kesejahteraan masyarakat,”komentar politisi partai Golkar ini.

Anto juga menegaskan bahwa semua persoalan yang selama ini menimpa masyarakat pedalaman sudah sering disuarakan, bukan baru sekarang tapi oleh wakil rakyat yang sudah purna bakti juga selalu diperjuangkan namun jarang mendapat respons dari pemerintah daerah sehingga derap pembangunan di daerah pemilihan tiga masih jalan di tempat.

Diharapkan untuk periode ini dan ke depannya dapat diperhatikan sehingga masyarakat di pedalaman tidak merasa dianaktirikan dalam pembangunan yang akibatnya menimbulkan rasa pesimis mereka untuk mendapatkan kesejahteraan di negeri sendiri.

Tapi bila kondisinya terus begini, ketergantungan hidup pada negara tetangga juga terus berlanjut dan pada waktunya akan merasa jenuh hidup di negeri sendiri sehingga yang paling membahayakan adalah lunturnya kepercayaan terhadap pemerintah yang akhirnya terjadi aksi eksodus WNI ke negara tetangga seperti yang pernah terjadi beberapa waktu lalu yang tentunya akan menjatuhkan wibawa NKRI dimata dunia karena tidak cakap mengurus warganegaranya.

Sebenarnya masyarakat di pedalaman tidak terlalu memaksakan pembangunan yang instant dan kompleks, namun biar bertahap tapi setidaknya ada perubahan dan perkembangan yang signifikan sehingga tidak merasa diketepikan dalam proses pembangunan di Kabupaten Nunukan,dan sebaliknya mereka akan merasakan hikmah kemerdekaan yang sebenarnya.

Ini bukan tuntutan, tapi sekeping harapan dari anak – anak bangsa yang berada di tapal batas negeri. Meskipun mereka dalam lingkaran daerah terpencil dan tertinggal tapi mereka mengemban peran yang tidak terukur nilainya, karena dipundak mereka, harga diri bangsa dipertaruhkan, di jiwa merekalah rasa cinta negeri ini disemaikan, dan di hati mereka rasa Nasionalisme dibenamkan, digenggaman mereka MERAH PUTIH berkibar megah dari suara mereka jua akan terdengar pekik”MERDEKA !”meski itu jauh di ujung negeri.(vincent)

Editor Media binpers.com

Berita terkait

Leave a Comment