Suryadi Hamzah Bantah Lakukan Perampasan dan Penggelapan

Tidak ada yang dirampas dan digelapkan dalam kasus ini

Penyerahan Kunci beserta mobil yang disaksikan langsung oleh anggota Polres,LSM dan Media
Penyerahan Kunci beserta mobil yang disaksikan langsung oleh anggota Polres,LSM dan Media

MEMPAWAH (BN). Suryadi Hamzah yang akrab dipanggil Adi, membantah dan menyesalkan apa yang dikatakan LSM Front Pembela Kedaulatan Rakyat, Sudianto disalah satu media harian di Kalimantan (RK) yang dinilai terkesan asal bicara. Hal ini akan berdampak negatif, seperti telah dikutip oleh Ketua LSM Garda Bangsa Kalbar Maman Suratman yang merasa kecewa terhadap penegakan hukum.

“ Semestinya sebagai ketua lembaga, dia tidak asal bicara saja. Akan lebih baik lagi apabila sesebelum mempulikasikannya beliau mencari data maupun informasi tentang kebenaran yang berdasarkan fakta bukan beropini, seharusnya beliau mengetahui titik permasalahan kasus tersebut barulah bicara kepada publik. Kalau hanya mencari sensasi saja, justru publik menilai kurang profesional. Hal ini sangat riskan dimana dalam kasus ini menuduh saya telah melakukan perampasan, pengerusakkan dan penggelapan mobil milik Lim Syon Syin alias Efendi yang akrab dipanggil Ashin salah satu warga Desa Semudun. Bahkan, dia menegaskan mobil tersebut telah saya serahkan ke Mapolres Pontianak sejak tanggal 13 Desember 2014 lalu, dengan cara baik-baik saya minta kepada Ali supirnya Ashin tidak ada dengan paksaan maupun kekerasan, bahkan Ali sebelumnya saya bawa kerumah, saya terangkan bahwa saya ada masalah hukum dengan Ashin saya tunggu Ashin untuk bicara baik-baik tetapi dia tidak datang, bahkan dia membuat laporan ke Mapolres Mempawah, sedang mobil tersebut sudah saya serahkan ke Mapolres Mempawah sebagai barang bukti atas laporan pihak kami di Polsek Sungai Kunyit agar dapat segera diproses oleh pihak Polsek,” Ungkap Suryadi Hamzah alias Adi.

Ketika dikonfirmasi tim wartawan Berita Investigasi Nasional Kamis (9/4) Pagi, Adi panggilan akrab Suryadi Hamzah, menceritakan kronologis kejadian tersebut. Yakni bermula ketika dirinya menyerahkan 42 batang kayu persegi ukuran 5x10x220 cm kepada Efendi untuk diketam. Kayu itu dibelinya dari H. A Hamid, dan rencananya akan digunakan untuk membuat kusen pesanan pelanggannya.

Namun, ketika dirinya hendak mengambil kayu tersebut ternyata sudah diketam, hasil ketaman tersebut tidak sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Adi pun merasa dirugikan lantaran kayu hasil ketaman itu tidak sesuai dan tidak bisa dipergunakan untuk membuat kUsen. Tak pelak, Adi pun meminta agar Efendi (Ashin) agar mengganti rugi akibat kelalaiannya tersebut. Namun, Efendi menolak memberikan ganti rugi dan tidak mau bertanggungjawab atas kerusakan kayu tersebut.

Adi pun mengambil langkah hukum dengan melaporkan permasalahan ini ke Aparatur Desa dan Kapolsek Sungai Kunyit. Dengan harapan mendapatkan mediasi hingga masalah tersebut dapat diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Namun, upaya tersebut gagal dan tidak membuahkan jalan keluar. Bahkan tanpa sepengetahuan dirinya, Efendi justru mengangkut dan menyerahkan kayu sebanyak 42 batang ke Polsek Sungai Kunyit.

Selang beberapa waktu kemudian, Adi mendapatkan mobil angkutan milik Efendi sebuah Pick Up KB 8888 BC sedang mengantarkan batako tak jauh dari rumahnya. Kemudian Adi pun membicarakan permasalahan itu kepada supir mobil. Setelah memahami duduk perkara, si sopir pun diminta untuk meninggalkan mobil beserta kuncinya kepada Adi.

Saat pengambilan kunci mobil tersebut disaksikan langsung oleh ketua RT setempat dan tidak ada unsur paksaan. Bahkan, si supir sebelumnya sempat saya ajak kerumah untuk minum kopi dan saya belikan rokok serta uang untuk biaya ojek pulang ke tempat kerjanya. Saya berpesan agar Efendi datang kerumah untuk mengambil mobilnya sekaligus menyelesaikan permasalahan ganti rugi kayu tersebut,” terang Adi.

Namun, Efendi tak kunjung datang menemui dirinya. Keesokan harinya, Adi lantas menyerahkan mobil tersebut ke Mapolres Pontianak. Sebagai buktinya, Adi melampirkan surat serahterima penitipan barang bukti mobil ke Mapolres Pontianak dengan nomor: 89/SL/DPW-LP2TRI/XII/2014 tertanggal 13 Desember 2014. Dan ketika itu ditangani oleh anggota kepolisian, Syafari.

Namun, sambung Adi, selang sebulan kemudian barulah pihak kepolisian melampirkan surat tanda penerimaan barang bukti berupa satu unit mobil pick up KB 8888 BC dan kunci kontak mobil pada tanggal 9 Februari 2015. Surat tersebut ditandatangani penyidik, AIPTU Pranoto dan disaksikan oleh Budi S Gautama dan Ibrahim.

“Makanya saya tidak bisa menerima tuduhan sebagai pelaku perampasan dan penggelapan mobil tersebut. Tidak ada yang dirampas dan digelapkan dalam kasus ini. Mobil itu saya ambil secara baik-baik dan tidak ada kekerasan. Bahkan, mobilnya sudah diserahkan ke polisi,” tegasnya.

Adi berharap permasalahan tersebut dapat segera diselesaikan sesuai prosedur dan ketentuan hukum yang berlaku. Sebagai warga negara yang baik, dirinya sangat patuh dan taat terhadap proses hukum yang saat ini sedang berlangsung.

“Kita hanya menuntut keadilan dan proses hukum berjalan dengan baik. Jangan ada kepentingan oknum tertentu atau pihak-pihak yang ditunggangi untuk mencederai nilai-nilai keadilan itu sendiri,” tegasnya (H.A-Awie)

Editor Media binpers.com

Berita terkait

Leave a Comment