PPO Matim Tindak Tegas Guru Komite Pelaku Pelecehan Seksual

Frederika Soch, Kadis PPO Matim
Frederika Soch, Kadis PPO Matim

BORONG-NTT (BN). Kasus pelecehan seksual anak di bawah umur oleh seorang guru Komite berinisial SA terhadap tiga orang siswi di bawah umur yang berinisial SS, ED, dan NR yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) Negeri Lengko Tana, di Kampung Wae Tanah kelurahan Ulung Baras kecamatan Sambi Rampas, kabupaten Manggarai Timur (Matim) Nusa Tenggara Timur, diberhentikan dari guru penerima dana BOSDA. Pernyataan ini disampaikan oleh Kepala dinas pendidikan pemuda dan olahraga (PPO) kabupaten Matim, Frederika Soch, ketika ditemui wartawan di Kantor Bupati Matim, Selasa (7/4).

Soch membenarkan adanya kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang oknum guru tersebut. Soch menjelaskan, dari dinas PPO sudah turun ke sekolah untuk mencari tahu kebenaran, informasi yang diperoleh dari orang tua dan para guru menjelaskan bahwa guru yang bersangkutan sudah berulang kali melakukan hal tersebut.

“Guru Komite SA sering melakukan pelecehan seksual terhadap siswi, hanya baru kasus ini saja yang diketahui oleh orang tua murid,”katanya.

Soch mengatakan akibat perbuatannya, SA diberhentikan dari guru penerima dana BOSDA sementara untuk status K2 pihaknya sudah melaporkan kepada sekretaris daerah (Sekda) Matim Matheus Ola Beda dan juga kepada BKD Matim untuk diproses.

Soch menyakinkan, bahwa yang jelas nantinya tidak akan diproses K2 nya karena SA telah melanggar dan melakukan tidakan amoral berupa melakukan pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur yang juga sebagai siswanya sendiri.

“Saya berhentikan dari guru penerima dana BOSDA!” tegasnya.

Menurut dia, SA benar-benar terbukti melakukan pelecehan seksual terhadap tiga orang siswi di sekolah itu dan kasus tersebut sudah ditangani oleh aparat kepolisian di Polsek Sambi Rampas.

Soch berjanji akan menindak tegas guru dan pengawas yang melakukan tindakan amoral serta para guru yang melakukan perjudian sebab guru yang melakukan tindakan amoral dan perjudian adalah tindakan yang menghancurkan kualitas pendidikan.

Soch berharap kepada aparat kepolisian yang menangani kasus itu untuk menjatuhkan hukuman sesuai dengan aturan yang berlaku. Sebab proses pendidikan yang berkualitas ditentukan oleh petugas pendidikan, seperti guru dan pengawas sekolah.

Soch mengatakan seorang pendidik seharusnya menjadi teladan bagi para siswa, perbuatannya harus benar-benar menyenangkan bagi semua orang yang ada disekitarnya. ” Tingka laku para guru yang melakukan pelecehan seksual, main judi dan sering meninggalkan tugas untuk mengajar di sekolah karena berbagai urusan keluarga akan ditindak tegas,” ujarnya

Soch mengatakan untuk memudahkan pemantauan di sekolah-sekolah pihaknya sudah memberikan nomor kontak kepada masyarakat untuk menyampaikan informasi kepada dinas PPO kalau ada guru yang sering tinggalkan tugas di sekolah.

“Selama dua bulan saya menjabat kepala dinas PPO, begitu banyak informasi dari masyarakat yang disampaikan ke dinas PPO. Saya berharap kepada seluruh eleman masyarakat supaya jangan takut menyampaikan informasi sehingga kalau ada kejanggalan yang dilakukan para guru, segera lapor ke kami dan kami langsung mengambil tindakan,”Jelas Soch. (Yos Syukur)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *