Pemerintah Diminta Agar Jangan Sekedar Janji

” Terkait Ambruknya Cross Way  Tahun 2012 Silam “

Ilustrasi
Ilustrasi

Manggarai-NTT (BN). Peluang meraup Rupiah bisa muncul dimana dan kapan saja, seperti yang dilakukan warga desa Compang Ndejing desa Bea Ngencung Kabupaten Manggarai Timur. Tinggi  dan derasnya arus air kali wae Musur menjadi sumber rezeki bagi mereka.

Kali Wae Musur yang melintang di antara Desa Compang Ndejing Kecamatan Borong dan Desa Bea Ngencung, Kecamatan Rana Mese menjadi peluang bagi warga desa Compang Ndejing menjadi ojek dadakan dikali tersebut.

Ketiadaan jembatan penyeberangan dikali tersebut menyebabkan beberapa  warga setempat membuat jasa ‘pikul motor’. Ongkos pikul per motor dibandrol seharga Rp 10.000-20 ribu per unit. Setiap motor dipikul empat orang dengan menggunakan bambu, atau kayu.  Warga setempat terpaksa menggunakan jasa pemikul motor, lantaran derasnya aliran air di jalan tersebut dengan ketinggian air yang mencapai 1 meter. Derasnya aliran air membuat  para pengendara tidak bisa mengendarai sepeda motornya, karena takut mogok dan rusak karena air masuk kedalam mesin.

Sejak ambruknya Cross Way pada Tahun 2012 silam,  jalur transportasi  dari arah Bea Ngencung ke Compang Ndejing maupun Sebaliknya tidak pernah diperhatikan, baik angkutan umum maupun angkutan pedesaan hanya bisa melayani penumpang sampai dipinggir kali pada musim hujan, dan pengendara motor sendiri harus menggunakan jasa pemikul motor. Selanjutnya, para penumpang terpaksa berjalan kaki sampai didesa Bea Ngencung dan desa lain di sebelah kali Wae Musur.

Seperti yang dilakukan oleh Febri dan Lasa warga asal Bea Ngencung. Mereka bekerja mulai Pukul 08.30 WITA sampai pukul 17.00 WITA. Bermodalkan kayu gamal dan Lemantoro atau bambu dijadikan alat untuk memikul sepeda motor yang hendak menyeberangi kali tersebut dengan tarif motor bebek Rp.10.000 dan motor besar mencapai Rp.20.000 untuk sekali antar sampai dipinggir kali.

Lasa mengatakan, para ojek dadakan mengaku sengaja memanfaatkan kondisi ini untuk mendapatkan tambahan rejeki sekaligus membantu pengendara yang melintas dikali Wae Musur,

dengan menggunakan peralatan seadanya dan menyusun batu-batu besar secara rapi didalam kali, beberapa warga  asal Desa Bea Ngencung membantu warga yang hendak melintasi jalur ini, dari Jalur Borong, ibukota Matim ke arah Kecamatan Satar Mese Kabupaten Manggarai atau jalur antara desa tersebut. Febri dan Lasa bersama lima teman lainnya dapat mengangkut kurang lebih 20 -30 Motor setiap harinya.

” Setiap harinya jumlah uang yang dikumpulkan dari hasil kerja kerasnya sebesar Rp. 200.000-Rp. 300.000 Uang tersebut dibagi rata, tiap orang hampir mendapat Rp 50.000 setiap harinya,”kata Febri.

Paulus  Dami salah satu warga yang melintas dikali Wae Musur mengatakan dengan adanya ojek-ojek dadakan ini cukup membantu, walaupun ongkos terbilang mahal.

“Namun, mau bagaimana lagi, daripada motor rusak akibat air masuk kedalam mesin,” ujar Paulus.

Paulus mengatakan jalur ini pernah dibangun Jembatan oleh Pemerintah Matim, karena arus air cukup deras dan tidak kuatnya jembatan yang dibangun pada tahun 2012 akhirnya jembatan yang dibangun ambruk. Setelah rusak pemerintah tidak membangunya kembali dan membiarkan begitu saja sehinga warga yang berada disebelah kali Wae Musur harus berjalan kaki memikul beban bila ingin menjual hasil perkebunan ke Kota Borong.

Dia juga meminta kepada DPRD supaya jangan hanya omong janji manis untuk berjuang pembanguan jembatan dan jalan tersebut, tetapi harus dibuktikan. (Yos Syukur)

Editor Media binpers.com

Berita terkait

Leave a Comment