Waspadai..!!! Rentenir dan Penipuan Berkedok Koperasi Simpan Pinjam

rentenirBanggai-Sulteng (BN). Sepak terjang dan keberadaan rentenir atau lintah darat berkedok Koperasi Simpan Pinjam (KSP) kini semakin marak dan meresahkan warga Kabupaten Banggai. Salah satunya adalah Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Sinar Sejahtera yang beralamat di Jl.Baronang Kecamatan Luwuk Selatan Kabupaten Banggai yang selama ini beroperasi di wilayah pedesaan yang rata-rata warganya berpenghasilan sangatlah rendah.

“Biasanya mereka mendatangi warga di Kota dan seluruh warga Pedesaan yang tidak hanya berada di Kabupaten Banggai namun juga diduga beroperasi di seluruh Kabupaten yang berada di Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah, modusnya adalah dengan cara meminjamkan uang dengan BUNGA 20% dan pembayarannya bisa harian atau bulanan,” kata salah seorang warga bernama Mimin Rudy (35).

Mimin menambahkan, warga di Pasar Simpong sejak beberapa tahun terakhir memang telah akrab berhubungan dengan para para rentenir yang biasa mereka sebut koperasi simpan pinjam (KSP) atau bank keliling. Memang jumlah rentenir yang setiap hari berkeliling di kampungnya itu tidak sendiri. Melainkan, terdiri dari beberapa orang dengan nasabah yang berbeda-beda.

“Yah kalau dihitung-hitung ada kayaknya 5 sampai 7 orang tukang rentenir yang setiap hari keliling di kampung ini dan sekitarnya,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Dinas Koperasi Kabupaten Banggai menghimbau kepada masyarakat agar waspada jangan sampai terperdaya dengan iming-iming kemudahan yang ditawarkannya.

“Masyarakat juga harus waspada dan teliti dengan lembaga yang mengatasnamakan koperasi. Saat ini banyak yang mengaku-ngaku koperasi padahal isinya rentenir. Kalau koperasi kan pengelolaanya jelas diatur oleh undang-undang (UU) No 25/1992. Beda dengan praktek rentenir, sangat jauh dari prinsip dasar koperasi yakni kebersamaan,” kata Kepala Dinas Koperasi Kabupaten Banggai tersebut.

Meski mengaku tidak memiliki data pasti mengenai rentenir berkedok koperasi di Kabupaten Banggai , namun Dekopinda mensinyalir adanya praktek seperti itu.

“Untuk menutup ruang gerak praktek rentenir itu, Seharusnya Dekopinda bersama Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan segera melakukan verifikasi ulang legalitas 1.500 koperasi di Kabupaten Banggai dan Propinsi Sulawesi Tengah, serta memberikan pembinaan dan arahan sesuai kaidah-kaidah koperasi,” jelas Atang.

Biasanya, lanjut Atang, rentenir berkedok koperasi ini memberikan bunga diatas 20%.

“Kalau koperasi itu maksimalnya 3%. Dan itu pun atas persetujuan para anggota. Selain itu, setiap transaksi jasanya jelas. Lalu ada bagi hasil setiap tahun,” pungkasnya.

Analisa dari kasus diatas : Semakin maraknya penipuan yang berkedok koperasi, pemerintah harus memberikan sanksi pidana yang tegas terhadap pelaku – pelaku yang melibatkan penipuan yang berkedok koperasi agar tidak berimbas mencemarkan usaha koperasi lain dan juga koperasi – koperasi yang tidak memiliki hak izin dari pemerintah.

Peran masyarakat disini harus lebih waspada dan cermat serta jangan mudah tergiur dengan hal – hal yang menjanjikan jika returnya (pengembalian modal) di atas BI rate, itu pasti penipuan. Semoga penipuan yang mengatas namakan koperasi tidak terjadi lagi dan masyarakat harus lebih berhati – hati jika ingin menanamkan modalnya, dengan cara mengecek legalitas koperasi tersebut dan mengetahui apakah koperasi tersebut sudah mendapat izin resmi dari pemerintah, agar tidak ada korban yang dirugikan dan pemerintah dapat mengevaluasi kasus ini agar tidak terjadi lagi kejadian seperti itu. (Ags)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *