Oknum Aparat Diduga Terlibat Jaringan Narkoba Internasional

 sabuBALIKPAPAN – (BN), Tim Direktorat Reserse Narkoba (Ditreskoba) Polda Kaltim berhasil membekuk jaringan pengedar narkoba pekan lalu. Dalam operasi tersebut turut  ditangkap pula seorang oknum polisi berikut barang bukti sebanyak 25 gram sabu-sabu. Para pelaku dipastikan merupakan jaringan internasional. Terungkapnya kasus tersebut berawal dari informasi adanya seorang warga negara asing dari Tawau, Malaysia membawa narkoba menuju Samarinda. Petugas kemudian menyamar sebagai pembeli. Pada Jumat (6/3), transaksi disepakati di areal parkir Mal Lembuswana.

Sum (47), warga Kelurahan Sambutan, Samarinda datang membawa 25 gram sabu-sabu dan langsung dibekuk petugas.  Nah, dari “nyanyian” Sum diketahui dua orang sedang menunggu di mobil. Yakni, Sah (39), warga Malinau dan Ed (47), warga Lorong Habib Abdul Rahman 9100, Tawau.

Pengakuan Sum, dirinya juga menerima pesanan dari Su (27). Belakangan diketahui, Su ternyata polisi berpangkat brigpol dan bertugas di Polres Malinau. Dugaan keterlibatan oknum polisi tersebut diakui Kabid Humas Polda Kaltim Kombes Pol Fajar Setiawan. “Masih didalami, sejauh mana keterlibatan yang bersangkutan,” kata Fajar.

Menurut Fajar, saat Su ditangkap di Samarinda tidak ada barang bukti yang disita dari tangannya. Keberadaan Su di Samarinda, alasan sedang cuti dinas. “Pengakuannya cuti. Ada surat cutinya dan saya cek langsung ke Kapolres Malinau, ternyata benar,” jelasnya.

Sementara itu, peran Ed diduga sebagai kurir. Begitu pula dengan Sah. “Penelusuran jaringan ini sedang kami kembangkan, termasuk dugaan keterlibatan anggota (Su, Red.) tadi,” kata Fajar.

Selain sabu, polisi mendapati barang bukti lainnya berupa handphone milik tersangka. Dalam handphone tersebut masih terekam catatan panggilan dan pesan singkat seputar transaksi narkoba.

Sampai kemarin (10/3), Sum, Sah, dan Ed telah ditetapkan sebagai tersangka. Sedangkan Su masih berstatus saksi. Yang bersangkutan juga ditangani Bidang Propam dan Provos Polda Kaltim.

Jika Su nantinya terbukti terlibat kasus narkoba, sanksi pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH) bakal menimpanya. “Kalau sudah melanggar, tak bisa dibina lagi, arah sanksi pemecatan,” tegas Fajar mewakili Kapolda Kaltim Irjen Pol Andayono kemarin.

Menurut dia, ada tiga sanksi akan dijatuhkan untuk anggota polisi sesuai dengan perbuatannya. Masyarakat sebagai pengontrol kinerja kepolisian dapat memberikan bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan secara yuridis. Tiga sanksi itu antara lain, peradilan umum, disiplin, dan kode etik. “Arahnya bisa sampai pemberhentian dengan tidak hormat. Itu sanksi terberat,” tandasnya.

Pidana narkoba yang menjadi atensi kapolda pada anggotanya mengalami penurunan, dari 11 kasus kini menjadi delapan kasus. “Kalau sudah terbukti narkoba, tak ada toleransi. Sanksi pemecatan, ini agar tak menular ke anggota yang lain,” ungkapnya.

Sekarang, keterbukaan informasi dibutuhkan. “Kami tidak akan tutupi jika ada anggota yang bersalah,” ucapnya. Selain narkoba, pelanggaran pidana yang melibatkan petugas di lingkup Polda Kaltim seperti penipuan, penganiayaan, dan penggelapan. Ada pula tak pernah masuk kantor selama satu bulan bertutur-turut tanpa keterangan (desersi).

Karena itu, ada Bidang Propam dan Provos yang melakukan pengawasan. “Bidang ini khusus mengawasi perilaku anggota, baik berdasarkan informasi masyarakat dan penyelidikan, dibantu Inspektorat Pengawasan Daerah,” jelasnya. (akn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *