ISTIQOMAH DALAM KETAATAN

istiqomahSetiap waktu kaum muslimin mengisinya dengan berbagai amal ketaatan dan akan menjadi saksi di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala perbuatan yang dilakukan oleh setiap orang, baik yang berupa amalan ketaatan, maupun perbuatan maksiat. Semuanya disimpan pada catatan amalan yang akan diperlihatkan pada hari akhir nanti.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا وَمَاعَمِلَتْ مِن سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا وَيُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ وَاللهُ رَءُوفُُ بِالْعِبَادِ

“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati (pada catatan amalan) segala kebajikan dihadapkan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.” (Ali ‘Imran: 30)

Ibarat seorang pedagang yang baru selesai dari perniagaannya, tentu dia akan menghitung berapa keuntungan atau kerugiannya. Begitu pula yang semestinya dilakukan oleh orang yang beriman dengan hari akhir ketika keluar dari bulan Ramadhan. Bulan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu bagi orang yang berpuasa dan shalat tarawih karena iman dan mengharapkan balasan dari-Nya.

Orang yang mau berpikir tentu akan instrospeksi diri, atas apa yang telah dilakukan selama hidupnya. Apakah memanfaatkannya untuk bertobat dengan sebenar-benarnya atau berternak kemaksiatan yang selalu dilakukan?
Kendatipun demikian, kesempatan bagi dirinya untuk memperbaiki dan bertobat selama ajal belum sampai ke tenggorokan, kesempatan masih terbuka lebar. Meskipun, bukan berarti pula seseorang boleh menunda-nundanya. Bahkan, semestinya dia segera melakukannya. Karena, kematian bisa datang dengan tiba-tiba dalam waktu yang tidak disangka-sangka. Dan seandainya seseorang mengetahui kapan datangnya kematian, maka harus dipahami pula bahwa tobat adalah pertolongan dan taufiq dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Karena, Tidak bisa seseorang memastikan bahwa dirinya pasti akan bertobat sebelum ajal mendatanginya. Bahkan Abu Thalib, paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, pada akhir hayatnya tidak bisa bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Padahal, yang mengingatkannya adalah orang terbaik dari kalangan manusia, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberikan taufiq dan pertolongan-Nya, maka tidak akan ada seorang pun yang mampu memberikannya. Oleh karena itu, sudah seharusnya setiap orang segera bertobat dari seluruh dosanya. Sehingga dia akan mendapat ampunan dan menjadi orang yang tidak lagi memiliki dosa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ فَأُوْلاَئِكَ يَتُوبُ اللهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللهُ عَلِيمًا حَكِيمًا {17} وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْئَانَ وَلاَالَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُوْلاَئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا {18

“Sesungguhnya Allah hanyalah akan menerima tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan, karena ketidakhati-hatiannya dan kemudian mereka bertobat dengan segera, maka mereka itulah yang Allah terima tobatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan, sehingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya bertobat sekarang.’ Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi mereka itu telah Kami siapkan siksa yang pedih.” (An-Nisa`: 17-18)

Adapun orang yang telah memanfaatkan kesempatan untuk bertobat dan mengisinya dengan berbagai amal shalih, maka seharusnya dia bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memohon agar amalannya diterima serta memohon agar bisa istiqamah di atas amalan tersebut. Dan janganlah dirinya tertipu dengan banyaknya amalannya.
Dia menyangka bahwa dirinya termasuk orang-orang yang paling baik dan paling hebat. Bahkan, dia harus senantiasa memohon ampun dan beristigfar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena seseorang tidak bisa memastikan apakah amalan yang sudah dia lakukan diterima atau tidak. Seandainya diterima pun, sesungguhnya belum bisa untuk menghitung nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah ia terima.

Sebab, amalan yang dia lakukan benar-benar tidak bisa lepas dari pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka, sudah sepantasnya bagi dirinya untuk senantiasa tawadhu’ dan tidak merasa paling baik. Bahkan, semestinya dia memperbanyak menutup amalannya dengan beristigfar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena, begitulah sifat-sifat orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang sudah beramal dengan sebaik-baiknya, namun masih merasa takut kepada

Allah Subhanahu wa Ta’ala akan kekurangan dirinya dalam beramal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآءَاتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut (tidak akan diterima). (Mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (Al-Mu`minun: 60)

Ketahuilah, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kita ibadahi di bulan Ramadhan adalah yang kita ibadahi pula di luar bulan tersebut. Begitu pula rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah terputus dan berhenti dengan berlalunya bulan Ramadhan.

Maka, doa yang senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala di bulan tersebut janganlah kemudian kita tinggalkan di bulan berikutnya. Begitu pula membaca Alquran yang senantiasa kita lakukan di bulan Ramadhan, janganlah kita tinggalkan setelah berlalunya bulan tersebut.

Bahkan, ibadah puasa pun semestinya tetap kita lakukan meskipun di luar bulan tersebut. Karena, masih sangat banyak puasa-puasa sunnah yang memiliki keutamaan yang besar bagi orang-orang yang menjalankannya. Begitu pula shalat malam, adalah amalan ibadah yang semestinya tidak berhenti dengan berlalunya bulan Ramadhan, meskipun dilakukan hanya dengan beberapa rakaat saja.

Menjaganya adalah salah satu sifat wali-wali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana tersebut dalam firman-Nya,

تَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (untuk mengerjakan shalat malam) dan mereka selalu berdoa kepada Rabb-nya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menginfakkan dari sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (As-Sajdah: 16)

Di antara tanda yang menunjukkan diterimanya amalan kita adalah berlanjutnya amalan tersebut pada waktu berikutnya. Karena, amalan yang baik akan menarik amalan baik berikutnya. Maka, marilah kita senantiasa menjaga amalan-amalan kita dan janganlah kita kembali kepada perbuatan maksiat setelah kita bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ingatlah wahai saudara-saudaraku, bahwa di depan kita ada timbangan amalan yang akan menimbang amalan-amalan kita yang baik dan amalan kita yang jelek.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَمَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ {102} وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ

“Barang siapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan. Dan barang siapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.” (Al-Mu`minun: 102-103)

Orang yang mengetahui betapa besarnya rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan betapa butuhnya dia terhadap rahmat tersebut tentu akan terus berusaha untuk beramal shalih sampai ajal mendatanginya, sekecil apapun bentuknya. Selama dirinya mampu untuk melakukannya, maka dia tidak akan meremehkannya. Sebagaimana perbuatan maksiat, maka diapun akan meninggalkannya dan tidak menyepelekannya, sekecil apapun bentuknya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُم مَّالَيْسَ لَكُم بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِندَ اللهِ عَظِيمٌ

“Dan kalian ucapkan dengan mulut-mulut kalian apa yang kalian tidak berilmu tentangnya dan kalian menganggapnya sebagai suatu yang sepele saja. Padahal, hal itu di sisi Allah adalah sesuatu yang besar.” (An-Nur: 15)

Marilah kita senantiasa menjaga ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan marilah kita senantiasa memikirkan betapa cepatnya berlalunya malam dan siang. Karena, hal ini akan mengingatkan kita akan semakin dekatnya waktu perpindahan kita dari tempat beramal di alam dunia ini menuju saat pembalasan di akhirat nanti. Sehingga, akan mendorong kita untuk segera memanfaatkan kesempatan yang ada untuk beramal shalih.

Kesempatan hidup di dunia kalau tidak digunakan untuk ketaatan, maka kesempatan itu akan pergi dengan segera dan akan berakhir dengan penyesalan, serta kerugian pada hari kiamat. Adapun apabila digunakan kesempatan hidup kita di dunia dengan ketaatan, niscaya akan kita rasakan hasilnya.

Amal shalihlah sesungguhnya kekayaan yang akan kita bawa untuk hari akhir nanti. Adapun kekayaan yang berupa harta benda di dunia tidaklah bermanfaat, kecuali kalau digunakan untuk beramal di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka, apalah artinya kekayaan di dunia ini kalau akhirnya berujung dengan tidak memiliki apa-apa, bahkan mendapat siksa di akhirat nanti.

Sementara kalau kita gunakan kesempatan ini untuk beramal shalih, maka kita akan mendapatkan kebahagiaan yang tidak akan pernah berakhir. Bahkan, berlanjut dari mulai di dunia ataupun setelah kita berpindah ke alam kubur sampai ketika saat hari kebangkitan dan berikutnya akan mendapatkan kenikmatan yang selamanya di surga. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَاكَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan dia beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang sangat membahagiakan dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)

Waktu yang telah berlalu tidak akan kembali lagi. Namun, akan datang waktu-waktu berikutnya yang akan menjadi saksi atas perbuatan-perbuatan kita. Maka, bagi seorang muslim, waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Bahkan, lebih berharga dari harta yang dimilikinya. Karena, harta apabila hilang dari dirinya, maka masih ada kesempatan untuk dicari. Adapun waktu apabila telah berlalu, maka tidak akan bisa untuk didapatkan lagi.

Marilah kita manfaatkan kesempatan hidup yang sangat sebentar ini dengan sebaik-baiknya. Janganlah amalan yang telah kita bangun pada bulan-bulan yang lalu, kemudian kita robohkan lagi pada bulan berikutnya. Bahkan, semestinya kita kokohkan dengan melanjutkan amalan tersebut pada bulan-bulan berikutnya. Dan janganlah kita mendekati setan setelah kita menjauhinya pada bulan Ramadhan yang lalu. (Muhamad Jam’u)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *