Danrem 142/Tatag Sosialisasi Di Hotel Ratih Polewali : “Pertajam Target Swasembada Pangan 2017”

Danrem 142/Tatag , Kolonel Inf. Sembiring, beri materi sosialisasi penajaman swasembada Pangan di Hotel Ratih Polewali, Jumat (20/2/2015).Foto: Andi Rasyid AM
Danrem 142/Tatag , Kolonel Inf. Sembiring, beri materi sosialisasi penajaman swasembada Pangan di Hotel Ratih Polewali, Jumat (20/2/2015).Foto: Andi Rasyid AM

Polman, Sulbar (BN)- Meski pemerintah pusat Kabinet Joko Widodo-Jusuf Kalla telah mengeluarkan kebijakan melarang pemerintah daerah termasuk instansi vertikal melakukan kegiatan di hotel sebagai bentuk untuk memutus mata rantai korupsi di Indonesia yang kini melanda negeri ini. Tetapi bagi Korem 142/ Taro Ada Taro Gau (Tatag) Parepare tampaknya tidak berlaku kebijakan tersebut. Apalagi kegiatan yang dilakoni Korem 142/ Tatag Parepare itu bersama jajarannya sebagai tindak lanjut kesepakatan antara Panglima TNI dengan Kementerian Pertanian melalui suatu MOU dalam rangka meningkatkan swasembada pangan nasional yang merupakan kebijakan Presiden Joko Widodo, yakni dalam kurun waktu tiga tahun kedepan, Indonesia harus bisa berdaulat di bidang pangan. Sehingga bangsa Indonesia tidak lagi selalu tergantung pada impor beras yang sesungguhnya dapat meresahkan bangsa Indonesia sendiri yang penduduknya mayoritas berprofesi petani.

Sebagai tindak lanjut amanat Panglima TNI, Danrem 142/ Tatag Parepare, Kolonel Inf. Sembiring mengumpulkan seluruh Dandim, Babinsa dan pamen TNI dalam jajaran korem 142/ Tatag maupun penyuluh pertanian dan Gapoktan di Hotel Ratih Polewali Kabupaten Polewali Mandar provinsi Sulbar, Jumat, 20 Februari 2015 lalu untuk mempertajam peningkatan swasembada pangan nasional sesuai target TNI dalam mendorong percepatan suksesnya program swasembada pangan nasional.

Dalam kegiatan sosialisasi penajaman swasembada pangan dengan pemanfaatan pupuk organik dan pengolahan sampah dilakukan Korem 142/Tatag bersama jajarannya dengan menghadirkan Pakar Pertanian, yakni Guru Besar Fakultas Pertanian UNPAD, Prof. Dr. Ir. Tualar Simarmata, M.Sc dan pengusaha pengelola sampah menjadi pupuk organik, Jhon Pieter. Selain itu, juga hadir kadis Pertanian dan Peternakan provinsi Sulbar, Ir.H. Abduh Nontji, MM, Kadis Pertanian dan Peternakan Kabupaten Polman, Ir. Basir Halim, MMA, Kepala BP4KP, Abdul Muthalib, Penyuluh dan Gapoktan serta perwakilan dari instansi tehnis termasuk sejumlah kades dalam wilayah teretorial Korem 142/Tatag.

Menurut Kolonel Sembiring, berdasarkan data BPS (2014), ada lima negara pemasok impor beras terbesar di Indonesia tahun 2013, yakni Vietnam ( 171,3 atau 97,3), Thailand (194,6 atau 61,7), India (107,5 atau 44,3, Pakistan dan Myammar (18,5 atau 6,5). Sementara pertumbuhan penduduk dunia dalam enam tahun bertambah satu miliar, yakni tahun 1930 ( 2 M),1960 (3 M), 1975 (4 M), 1982 (5 M), 1999 ( 6 M), 2011 ( 7 M) dan tahun 2012 (8 M). Satu hal yang harus menjadi bahan renungan bagi kita bangsa Indonesia, kata Sembiring, dalam 2,1 detik satu anak meninggal dunia dan tiap menit, 29 anak meninggal dunia dan dalam setahun hampir 15 juta anak meninggal dunia disebabkan kemiskinan , kelaparan dan kesehatan yang buruk, sehingga kebijakan pemerintah untuk berdaulat dibidang pangan harus kita sukseskan. (Andira- Husain/BN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *