Peringatan Hari Kusta ke 63 Sedunia, Dipusatkan di RSUD Rehatta Kelet Jepara

Samsul (57 th) eks penderita kusta
Samsul (57 th) eks penderita kusta

Jepara, JATENG (BN) – Menurut Direktur RSUD Kelet dr. Widyo Kunto diselenggarakannya kegiatan itu adalah bergaungnya gerakan masyarakat bebas kusta ditandai dengan peran serta masyarakat untuk melakukan deteksi dini penyakit tersebut, dan atas kerjasama antara RSUD Kelet dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Perdoski (Persatuan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin) Cabang Semarang, Netherlands Leprosy Relief (NLC) dan Leprosy Care Community (LCC) Universitas Indonesia serta Kelompok Masyarakat Peduli Kusta.

Puncak acara Peringatan Hari Kusta ke 63 se dunia (World Leprosy Day) tingkat Provinsi Jawa Tengah dipusatkan di RSUD Rehatta Kelet Jepara pada Sabtu (24/1) mengambil tema “Stop Stigma dan Diskriminasi Kusta Dapat Disembuhkan”.

Secara terperinci dr. Widyo menambahkan tujuan khususnya adalah menghilangkan stigma dan diskriminasi, meningkatkan kepedulian mitra, mempromosikan pencegahan, meningkatkan dukungan politis penanggulangan dan membangun koordinasi lintas program, lintas sektor serta pemberdayaan masyarakat.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah dr. Julianto Prabowo, bahwa tidak bisa dipungkiri masih ada diskriminasi terhadap penderita kusta di lingkungan sosial masyarakat. Gubenur mengapresiasi atas kegiatan dalam rangka World Leprosy Day yang bertujuan menghapus stigma dan diskriminasi.

“Mari bekerja keras dan cerdas untuk upaya – upaya pencegahan dan pengendalian kusta”, ujar Gubernur

Rangkaian kegiatan dalam rangka World Leprosy Day meliputi kontak survey, bintek orthetic prostetic, pekan bedah rekontruksi, temu ilmiah dan sarasehan serta jalan sehat. Pada puncak acara itu diserahkan pula bantuan dari para mitra sehat berupa uang dan peralatan untuk pemberdayaan penyandang kusta, antara lain dari pengurus Perdoski Cabang Semarang dan Berlico Farma yang diserahkan oleh icon produk suplemen mantan juara tinju dunia World Championship Chris John.

Samsul (57th) eks penderita kusta telah lama berdomisili di desa Donorojo menuturkan dia dinyatakan mengidap peyakit kusta pada tahun 1975, lima tahun kemudian pada tahun 1980 penyakit Samsul dinyatakan sembuh berkat berobat secara rutin.

“Memang awal mengidap penyakit Kusta awalnya muncul penyakit kulit panu dan gatalnya bukan main, ketika di garuk akan berwarna merah. Jari-jari tangan terasa kaku, ciri-ciri lainnya penderita malas, sering tidur/ngantuk, kalau sudah demikian jari-jari tangan akan kaku atau kiting (jawa, Red). Maka fihak rehabilitasi memberdayakan eks pederita kusta dengan berbagai kegiatan seperti saya ini membuat sangkar burung, membatik, menjahit dan bertani,” tuturnya.

Kusta tidak menular, di buktikan Samsul pada tahun 1982 memperistri Wariah(50) dan sudah dikaruniai 2 anak laki-laki, ternyata dua anaknya tidak mengindap kusta.

”Namun jika pengindap kusta yang tidak mau berobat, bisa menular ke anak balita,” ungkapnya. (Indro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *