Jalan di Banggai Kondisinya Rusak Berat, Masyarakat Hanya Bisa Pasrah

Jalan poros AsaanPagimana, Sulteng (BN) – Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Begitulah nasib penduduk Desa terpencil yang berada di wilayah pedalaman. Ssebagai sample, 6 (enam) Desa pedalaman di kecamatan Pagimana Kab. Banggai Sulteng yaitu Desa Pinapuan, Nain, Asaan, Ampera, Dongkalan, Bulu, dan Desa Baloa Doda.

Dari 6 desa tersebut ada Desa yang berada lebih jauh di pedalaman sekitar 70 km dari ibu kota kecamatan Pagimana, yakni Desa Baloa Doda. Di huni oleh sekitar 124 KK dengan penduduk berjumlah 600 jiwa. Perjalanan ditempuh melalui jalan kaki menelusuri jalan setapaka ke ibukota kecamatan Pagimana selama 2 hari atau 55 km. Merupakan salah satu ikon penduduk asli kab. Banggai dimana desa tsb sudah sudah ada sebelum zaman penjajahan Portugis, Belanda dan Jepang. Oleh penjajah Belanda desa tersebut diberi nama Lingketeng. Nama Lingketeng berasal dari bahasa Belanda “Long Citten” yang berarti “Desa Jauh/pedalaman. Sejak kemerdekaan RI sampai sekarang Desa Baloa Doda kec. Pagimana terisolasi karena tidak ada akses jalan yang dapat dilalui kendraan.

Sebagai icon suku asli Kabupaten Banggai yakni LOINANG dengan bahasa sehari-harinya adalah bahasa SALUAN, sepertinya penduduk Desa tersebut belum sepenuhnya menikmati perkembangan zaman dibanding desa-desa lain di Kec.Pagimana yang terdiri dari 31 Desa dan 3 Kelurahan.

Dari jarak 70 km, sudah ada jalan Desa sepanjang 15 km dari ibu kota kecamatan sampai Desa Bulu. Ditambah Jalan Desa dari poros Asaan ke Desa Ampera sepanjang 3 km dan ke Desa Dongkalan sepanjang 2 km. 6 Desa tersebut merupakan desa penghasil komoditi pertanian,perkebunan dan hasil hutan seperti Kemiri, Cacao, Kelapa, Cengkeh, Durian, kelapa, rotan dan damar. Komoditi perkebunan andalan adalah Cacao, Kemiri dan kelapa.

Namun apa daya, ternyata nasib berkata lain karena jalan rusak parah bagai kubangan badak dilumpur alas.
Kondisi jalan yang parah ini bukan tidak diketahui oleh pemerintah setempat, justru sering dilewati baik dalam rangka kunjungan kerja pemda kab.Banggai maupun kunjungan kerja DPRD. Tetapi kunjungan tetap kunjungan, kepeduliannya selalu berkutat pada hasil Nihil. Padahal rakyat tidak butuh data atau retorika politik, rakyat butuh fakta.

Pernah dilakukan perbaikan/pengaspalan jalan pada tahun 2012 sekitar 10 km menggunakan material batu picah (aspal halua, red) namun tidak cukup 6 bulan jalan sudah kembali rusak. Entah cultur tanah yang tidak bagus atau konstruksi pengaspalan jalan yang tidak sesuai bestek. “Kami hanya bisa pasrah dengan kondisi jalan dan jembatan,karena kami ini hanya orang kecil,” ungkapan umum yang sudah lazim dari masyarakat pemanfaat jalan.

Pihak berwenang yakni Dinas Pekerjaan Umum (PU) seharusnya bertanggung jawab dalam pengawasan mutu dan kwalitas jalan sehingga pembangunan benar-benar efektif dan efisien. Jangan biarkan perampok terselubung menggerogoti anggaran dengan modus yang bervariasi sehingga menciptakan hasil kerja yang bobrok dan tidak bermanfaat dalam jangka panjang. Setiap tahun negara kita hanya berkutat pada pemenuhan anggaran perbaikan/rehab inprastruktur akibat proyek yang dikerjakan tidak sesuai harapan. Pengawasan lintas sektoral diharapkan tidak mengadopsi ilmu “Pagar Makan Tanaman”, pengawas proyek diharapkan tidak ikut berkompromi dengan pelaku kejahatan untuk menyulap anggaran proyek.

Benar, ilmu sulap ini tidak dapat diketahui oleh publik namun dia akan nyata dilapangan karena fakta dilapanganlah yang akan menceritakan ketidak beresan pekerjaan walaupun gambaran administrasi/dokumen pelaporannya sempurna.

Saatnya supremasi hukum disemua lini ditegakkan demi terpenuhinya tuntutan reformasi disegala bidang khususnya pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Peran control sosial publik sangat diharapkan demi terciptanya pemerintahan yang baik dan benar (Good Goverment), sehingga pemerataan pembangunan, keadilan dan kesejahteraan rakyat dapat tercapai. (Tambrin)

Satu tanggapan untuk “Jalan di Banggai Kondisinya Rusak Berat, Masyarakat Hanya Bisa Pasrah

  • 26 Februari 2015 pada 08:56
    Permalink

    Mantap..
    berita seperti ini harus di publikasikan agar daerah-daerah yang tertinggal dan belum di perhatikan oleh pemerintah akan lebih diperhatikan melalui bantuan dana untuk daerah tertinggal dan pembuatan jalan sebagai sarana transportasi yang layak.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *