Dugaan Adanya Indikasi Genosida Terhadap Orang Utan

image002

Oleh: Misnato, Korwil Kalteng

“Diyakini masih banyak tengkorak orang utan yang belum diketemukan akibat pembantaian orang yang tidak bertanggung jawab di wilayah perkebunan kelapa sawit di Kotim”

Pembukaan Hutan/lahan secara besar-besaran oleh Perusahaan Besar Swasta (PBS) untuk dijadikan lahan Perkebunan Kelapa Sawit di Kalimantan Tengah sangat besar dampaknya terhadap Ekosistim dan kelangsungan hidup marga Satwa yang tinggal dihutan/lahan tersebut terutama mengacam kelangsungan hidup satwa yang dilindungi diantaranya Orang Utan.Tidak jarang terjadi konflik antara orang utan dengan manusia karena terdesak tempat mereka berlindung tidak ada dan sumber untuk mendapatkan makanan pun sulit untuk didapatkan, akhirnya masuk ke lokasi kebun warga maupun perusahaan untuk mencari makan, lalu terjadilah konflik orang utan selalu kalah dan dipersalahkan.

Perlindungan terhadap orang utan ini sudah menjadi perhatian dunia, namun ironisnya di Kalimantan Tengah Pembantaian/Pembunuhan terhadap primata tersebut disinyalir terus berlangsung, namun sampai saat ini tidak ada penerapan sangsi yang berarti terhadap para pelaku usaha yang terindikasi sebagai pelakunya/ penyebab mati orang utan tersebut.

Pembunuhan terhadap orang utan di Kalteng masih terus terjadi, bahkan mengarah kepada tindakan Genosida atau pembunuhan secara besar-besaran, karena hal ini berkaitan dengan pembukaan lahan baru untuk dijadikan perkebunan Kelapa Sawit secara-besar besaran, orang utan dibantai karena dianggap merusak tanaman Kelapa Sawit Investor.

Catatan Wartawan Berita Investigasi Nasional (Bin) Beberapa kali rentetan peristiwa pembantaian orang utan di Kalteng, namun hingga kini penerapan hukumnya tidak pernah jelas, mati suri ditengah jalan karena pelakunya Investor besar yang diduga bisa membuat penyidik masuk angin.

Sebagai contoh kasus pertama yang pernah terjadi pada bulan Agustus 2011 silam di Wilayah Perkebunan Kelapa Sawit milik PT.SARANA TITIAN PERMATA anak perusahaan WILMAR GROUP telah ditemukan empat kerangka orang utan yang mati terbunuh, namun kelanjutan penyelidikan kasus tersebut sampai saat ini tidak ada kejelasan.

Kasus yang kedua terjadi pada 4 Desember 2014, Pihak Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) telah mendapat kiriman orang Utan jenis kelamin betina dalam kondisi sekarat, disekujur tubuhnya binatang malang ini telah bersarang sekitar 40 butir peluru akibat ditembaki , yang akhirnya primata malang ini tidak bisa diselamatkan (Tewas) menurut sumber bahwa orang utan itu berasal dari PT.Surya Inti Sawit Kehuripan (PT.SISK) anak perusahaan Makin Group Desa Barunang Miri Kecamatan Parenggean Kotim, menurut informasi sampai saat ini masih dalam penyelidikan.

Kasus yang ketiga baru saja terjadi pada tanggal 14 Januari 2015, bahwa Forum Konservasi Orangutan Kalimantan Tengah (Forkah) mereka mendapat informasi dari Desa Perigi Kecamatan Mendawai Kabupaten Katingan, telah diketemukan orang utan yang terkena jebakan Rusa atau Babi kasusnya juga sampai saat ini belum tau sampai dimana.

Kemudian baru baru ini pula tepatnya tanggal 30 Januari 2015 dan 6 Pebruari 2015 telah ditemukan 2 tengkorak orang utan ditengah Kebun Kelapa Sawit Milik PT.Nusantara Sawit Perdana (PT.NSP) di Desa Kandan Kecamatan Kota Besi kasusnya sudah dilaporkan oleh warga Desa Camba dan Kandan ke BKSDA Kotim kemudian BKSDA Kotim mendatangkan 5 orang Penyidik dari BKSDA Kateng saat ini pelapor sudah dimintai keterangan barbuknya sudah diserah terimakan antara pelapor dan BKSDA Kalteng.

Sampai saat ini Penyidik dari BKSDA Kalteng masih melakukan penyelidikan terhadap kasus ini, mudah mudahan penyidik tidak masuk angin juga, diharapkan penyidik profisional dalam menjalankan tugasnya dapat membuktikan , jika terbukti perusahaan akan dibidik dengan undang-undang nomor 5 tahun 1990 KSDAE (Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistimnya ) melanggar pasal 21 ayat 2 dengan sangsi pidana paling lama lima tahun dan denda paling banyak 100 juta rupiah, kalau perlu izin perusahaan tersebut dicabut,biar ada efek jera dan jadi contoh pihak perusahaan lain yang belum tersentuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *