Instruksi Kapolres Nisel Tidak Diindahkan

Penyidik “Over Akting” melakukan pemanggilan paksa

Foto penyidik polres nisel saat pemeriksaan tersangka Sumangeli Mendrofa
Foto penyidik polres nisel saat pemeriksaan tersangka Sumangeli Mendrofa

Nias Selatan, Telukdalam, (BIN) – Penetapan Ketua KPU Nias selatan (Nisel) Sumangeli Mendrofa sebagai tersangka dalam kasus dugaan penggelapan uang koperasi sekolah yang nilainya Rp 30.000 tengah menjadi berita hangat yang menciptakan tergesernya kepercayaan masyarakat bagi profesionalisme penegak hukum.

Hal ini dapat terjadi dengan dilatarbelakangi bahwa disamping masyarakat taat pada ketentuan hukum, pada proses penyidikan kasus tersebut dinilai banyak kejanggalan yang tidak mencerminkan untuk menghormati hak-hak seseorang yang disangka atau diduga telah melakukan tindak pidana.

Ironisnya, Sumangeli Mendrofa yang sudah ditetapkan sebagai tersangka mengaku sangat kecewa dengan kinerja penyidik polres Nisel yang menjadikan dirinya sebagai korban “diskriminalisasi hukum” dan terlalu mendindih menetapkan dirinya sebagai tersangka, sementara kasus yang telah dilaporkan lebih dulu oleh “Sumangeli mendrofa” terkait penganiayaan atas dirinya yang dilakukan oleh Fansolidarman Dakhi yang juga ditangani oleh penyidik yang sama yakni Bribtu Ganda R Sinaga, sampai saat ini menjadi mandul. Sementara pendjoliman yang dialaminya bukan tanpa alasan, tetapi merujuk pada suatu akibat memanasnya suhu dinamika politik dimana Sumangeli Mendrofa tidak bersedia berdamai dengan Fansolidarman Dakhi mantan ketua KPU Nisel yang telah dipecat oleh DKPP beberapa bulan yang lalu, sehingga pihak-pihak tertentu berusaha mencari celah dan merongrong Sumangeli Mendrofa dari jabatannya sebagai Ketua KPU Nisel.

Terkait rentetan pemanggilan tersangka tanggal 25 Desember 2014 dengan Nomor:Sp.Gil/825/XII/2014/Reskrim, tanpa mengecualikan perintah undang-undang juga dinilai berpotensi pada diskriminasi hukum oleh pihak terkait dan tidak memberi hak-hak seseorang yang sedang menghormati hari besar keagamaan, sehingga persoalan ini telah dikordinasikan oleh tersangka SM kepada kapolres Nias selatan AKBP Robert Da Costa, SIK.

“Melalui Via SMS maupun surat permohonan secara resmi agar pemeriksaan lanjutan di geser pada tanggal 9 Januari 2015 mengingat “perayaan natal” yang telah disetujui oleh kapolres serta surat permohona tersebut telah diteruskan kepada penyidik,” ungkap Sumangeli Mendrofa saat dikonfirmasi oleh media BIN di ruang kerjanya.

Tanpa mengindahkan perintah kapolres, penyidik kembali mengeluarkan surat panggilan kepada tersangka SM pada tanggal 28 Desember 2014 dengan Nomor:Sp.Gil/825.A/XII/2014/Reskrim untuk menghadap BRIPTU GANDA R.SINAGA atau BRIPTU FADIL SEMBIRING di kantor polres nisel pada tanggal 2 Januari 2015 guna dimintai keterangan.

Sebagai warga negara yang taat hukum, tanggal 2 januari 2015 di sela-sela orang lain menikmati libur dan tahun baru, Sumangeli Mendrofa memenuhi panggilan penyidik tepat jam 09.00 Wib, namun oknum penyidik polres Nisel terkesan main-main karena tidak ada di tempat hingga ditunggu sampai jam 20.30 wib.
Sehingga atas peristiwa ini, masyarakat menilai bahwa kinerja jajaran polres Nisel tidak pro rakyat dan kapolres AKBP Robert Da Costa,SIK diminta perlu untuk memberi atensi khusus guna meningkatkan profesionalisme bawahan dalam menciptakan kepastian hukum bagi masyarakat pada penanganan perkara.(zet/Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *