Dua Fasilitas Umum Kota Bandung Diresmikan

Tahun ini, Pemkot Bandung akan bangun 15 danau

Bandung, (BINPERS.COM) – Menjelang pergantian tahun baru, dua fasilitas umum di kota Bandung, dua kolam retensi di taman lansia sudah resmi dimanfaatkan warga sebagai ruang publik.

Kolam retensi sebenernya merupakan infrastruktur penggairan, keberadaanya di yakini bias member andil untuk mencegah banjir, namun dengan ukuran kolam yang relative kecil. Kontribusinya terhadap pencegahan banjir pun tidak terlampau besar.

taman balai kota bandung“Sekitar 7% kurang lebih, ini akan kemampuanya kalau dua terbatas volume yang di atur sesuai dengan ini saja. Begitu debit sudah terlalu besar pasti limpas lagi, jadi kita menahan beberap asaat agar tidak menjadi banjir,” kata kepala dinas Bina Marga dan pergairan kota Bandung, Iskandar Zulkarnain, Sabtu (17/1/2015).

Pada perinsipnya, kolam retensi dibangun sebagai tempat penampungan sekaligus pengaturan air untuk semntara waktu. Selain untuk memarkir air, dua kolam retensi yang diresmikan juga memilki fungsi tambahan, yaitu sebagai ruang publik.

“Apalagi karena lokasinya berada di taman lansia yang selama ini menjadi ruang publik aktif,” ujarnya.
Dikatakan juga, sejak 3 Oktober silam pembuatan dua kolam retansi dimulai dengan total biaya sekitar RP 3,03 miliar dari APBD kota Bandung. Kolam pertama berada di bagian paling utara dengan kedalaman sekitar 4,58 meter, luas genangan 1.397 meter persegi, dengan kemampuan memarkir air sebesar 1.806 meter publik.
Kolam kedua memiliki kedalaman 3,81 meter dengan luas genangan 689 meter persegi dan daya tampung 752 meter kubik. Keduanya berada di perlintasan aliran sungai Cibenying yang mengalir di tengah taman.

Bagian pinggir kolam retensi dibuat berundak layaknya amfi teater mini. Tindakan tersebut bisa digunakan warga untuk duduk-duduk atau berinteraksi dengan air yang ada di kolam, apalagi di kolam tersebut terdapat sejumlah ikan. Lokasi yang rimbun dan sejuk relative nyaman beberapa pengunjung memanfaatkan ruang publik untuk berfoto. Sebelum ada kolam retensi, aliran sungai di tengah taman lansia mengalir begitu saja dari hulu ke hilir. Tidak ada pintu air yang berperan untuk mengatur volume aliran air. Dinding saluran air juga berbentuk tembok biasa, dengan struktur tegak lurus. Dengan demikian, fungsi sebelum dibangun kolam retensi hanya berorientasi untuk bidang pengairan.

Setelah selesai dibangun, Iskandar mengatakan, pengelolahan ada di dua pihak, yaitu dinas Bina Marga dan pergairan, serta dinas pemakaman dan pertamanan, untuk tama nada park ranger. Untuk pergairanya ada penjaga Bandung.

”Katanya, rencananya kolam retensi serupa akan diperbanyak secara bertahap mulai 2015 berdasarkan hasil kajian kota bandung memerlukan sekitar 17 titik kolam retensi. Berarti tahun 2015 target 15 danau lagi. Karena sekarang baru ada dua,” kata walikota Bandung Ridwan Kamil.

Alun-alun

Pada hari yang sama, dia juga meresmikan taman Alun-alun kota Bandung, tepat di halaman masjid raya Jawa Barat. Refitalilsasi dinilai perlu karena kondisinya sudah kumuh dan tidak nyaman untuk dikunjungi warga. Maka, sejak beberapa bulan silam ruang publik tersebut dirombak dengan pembiayaan hibah dari perusahaan swasta.

Kolam air muncur yang sebelumnya berada di bagian tengah dihilangkan, saat ini sebagian besarAlun-alun dilapisi rumput sintesis, sementara di bagian selatan dibuat taman bunga yang dibangun menggunakan tembok di sisi utara, timur dan selatan yang berbatasan dengan jalan trotoar yang berbatasan dengan jalan trotoar untuk pejalan kaki dilapisi granit.

Tempat duduk serta tempat sampah dipasang untuk melengkapi fasilitaspublik. Diharapkan, ruang public ini bias menjadi alternative baru lagi warga sesuai dengan peranya. Alun-alun merupakan tempat berkumpul warga sekaligus salah satu identitas kota.

”Dulukan anak-anak kalau main diajaknya ke mal, sekarang dengan ada ini (Alun-alunkota Bandung,red) bias menjadi pilihan lokasi piknik bagi warga,“ ujar Emil, panggilan akrab walikota Bandung.

Beberapa hari sebelum peresmian, ratusan warga sudah memadati kawasan Alun-alun sebagian besar mereka adalah keluarga yang membawa anak-anak untuk bermain. Sejumlah respons positif dikemukakan warga, termasuk melalui unggahan foto-foto di media sosial. (Nur Fajar Pratama)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *