Diduga Kapal Portugis Merapat di Kuala Raja Bireuen

Kapal Tua Belum di Ketahui Negara Pemiliknya Oleh Warga Tanpak Jelas di Pinggir Pantai Kuala Raja, Bireuen (Foto, Dok, TARMIZI A. GANI)BIREUEN, ACEH, (BIN) – Sebuah kapal yang diduga peninggalan zaman Portugis di Gampong (Desa-red) Kuala Raja, Kecamatan Kuala, Kabupaten Bireuen, nampak tergeletak di pesisir pantai Gampong tersebut.

Kapal yang memiliki ukuran panjang sekitar empat puluh meter (40) dan lebar sekitar lima belas meter (15) lebih kurang, terbuat dari besi, bisa dilihat dengan jelas, tiba di lokasi Jumat (02/01/2015), penulis terkejut sekali denga keberadaan kapal tua tersebut yang sudah menjadi bangkai.

Menurut Zakaria Saleh seorang nelayan yang sudah menetap berpuluh tahun di pinggir pantai Kuala Raja, menjelaskan posisi bangkai kapal tersebut dengan letak kepala mengarah ketimur dan ekornya ke arah barat itu, tidak di ketahui kapan sudah tiba merapat di Kuala Raja, Bireuen dan milik siapa yang sebenarnya, apakah milik Nederlan (Belanda-red) atau milik Portugis, ini sebuah misteri yang belum terjawab, menurutnya.

Ayoe W Kabid Pariwisata Disporapar Bireuen yang juga kelokasi tadi siang, mengungkapkan keberadaan kapal tua ini merupakan salah satu objek wisata pantai, bahkan tidak hanya untuk nasional tapi juga bagi warga dunia.

Menurut Agus Maidi Kasi Meusium dan Kepurbakalaan pada dinas pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bireuen, mengtakan Bangkai kapal tersebut adalah milik Portugis, yang diperkirakan sudah berada di pesisir pantai Kuala raja, Bireuen sejak puluhan tahun yang lalu.

Menurut penulis, “alangkah baiknya pihak pemerintah yang membidangi bidang kebudayaan untuk mengumum dan mengembangkan data keberadaan kapal tua tersebut di Kuala Raja kepublik, sehingga pemerintah dan negara pemilik kapal itu bisa melakukan pemeliharaan untuk kepentingan sejarah, bahkan wisata. (Hasbi)

Satu tanggapan untuk “Diduga Kapal Portugis Merapat di Kuala Raja Bireuen

  • 3 Agustus 2016 pada 13:58
    Permalink

    Berbangga melestarikan budaya dan peninggalan sejarah, mungkin aceh bertahun2 tidak memperdulikannya..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *