Dewan Pers Tuntut Pekerja Pers Disiplin dan Profesional

jimiOleh: Muhamad Jam’u

“Maukah insan pers bekerja untuk publik? Maukah insan pers bekerja untuk hati nurani?” sebab seorang profesional pers yang bekerja tanpa hati nurani bisa menjadi sumber penyebab fitnah melalui medianya.
Keberadaan media massa saat ini tidak lagi sebatas menyampaikan informasi yang aktual kepada masyarakat, tetapi perusahaan pers penerbitan media massa juga memikul tanggung jawab yang berat dalam memajukan bangsa dan Negara, melalui kontribusi pencerahan informasi kepada masyarakat, yang secara professional dapat menampilkan fakta-fakta dan tindakan (action) yang memiliki bobot, akurat, objektif dalam setiap pemberitaannya.

Perlu dikemukakan pula peran pers sebagai pelapor, bertindak sebagai mata dan telinga publik, melaporkan peristiwa-peristiwa di luar pengetahuan masyarakat dengan netral dan tanpa prasangka. Selain itu, pers juga harus berperan sebagai interpreter, wakil publik, peran jaga, dan pembuat kebijakan serta advokasi.

Sedangkan secara umum peran media massa (surat kabar) bereperan sebagai:

1. INFORMASI

Informasi merupakan peran paling dasar dari sebuah surat kabar, berdasarkan informasi tersebut, membuat orang menjadi tahu, menjadikan orang berpengetahuan atas sesuatu. Surat kabar pun adalah wadah atau sarana penyampaian pesan dari suatu peristiwa tertentu (informasi) melalui berita, tulisan, grafis, karikatur, atau bentuk-bentuk peyampaian lain kepada masyarakat.

2. KONTROL SOSIAL

Pers dikenal pula sebagai kekuatan ke empat (the fourth estate) disamping lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif. Atau kerap juga disebut orang “pengawas/penjaga” demokrasi.

Posisi penting dan mendasar itu diberikan kepada pers, antara lain karena kemampuan pers atau surat kabar yang luar biasa dalam membentuk sekaligus penyalur pendapat umum, karena sifatnya yang terbuka untuk orang banyak. Control atau keritik, seperti kita ketahui, akan menemukan keampuhannya bila dilakukan secara terbuka dalam penyuguhannya.

Karena itu sebagai kekuatan pilar keempat atau pengawas/penjaga demokrasi, dapat dibayangkan, apa yang terjadi bila pers tidak menjalankan tugas control social (demokrasi akan bermasalah). Namun berbeda dengan pers atau surat kabar di Negara-negara penganut demokrasi liberal, dalam menjalankan peran control sosialnya mengacu kepada sistem Pers Nasional, yaitu pers yang bebas tapi bertanggung jawab. Artinya control social atau keritik yang dilakukan harus objektif, memberikan alternative dan tidak apriori.

Wartawan tetap kritis mengamati peristiwa, tetapi juga kreatif dalam menawarkan alternative pemecahan. Pemberitaan atau penulisan dalam Jurnal Jabar bukan hanya mengawasi apakah sesuatu berjalan baik sesuai yang digariskan, tetapi ikut berusaha agar sesuatu berjalan, terjadi dan dilaksanakan sebagaimana mestinya. Konsekwensinya, Wartawan dituntut untuk menguasai permaslahan (fakta, data, latar belakang dan sebagainya). Juga tercermin maksud baik (konstruktif) dalam control atau kritik.

3. EDUKASI

Perkembangan informasi yang sangat cepat dan bersifat gelobal, membutuhkan ramuan dan filter yang tepat sebelum dikemas ke dalam kolom-kolom surat kabar. Di sini akhirnya menuntut pekerja pers untuk mampu mengemas informasi-informasi yang berkembang tersebut menjadi bahan pelajaran yang berguna. Dalam hal ini, tuntutan sikap dasar manusia untuk selalu belajar seumur hidup, harus pula menjadi sikap dasar jurnalis.

Sebagai media yang juga bersifat edukasi harus pula mengembangkan informasi-informasi yang bersifat panduan, rujukan, Tanya –jawab, kiat dan informasi sejenis, yang sumbernya bisa dari dalam negeri sendiri maupun dari luar negeri, yang tentunya sesuai dengan falsafah bangsa Indonesia.

4. HIBURAN

Sebagai media massa, Jurnal Jabar juga berperan menghibur masyarakat pembaca; baik dalam pengertian artificial maupun maknawi, baik melalui materi yang memang bersifat hiburan maupun non hiburan yang ditulis dengan fungsi menghibur. Hanya perlu diperhatikan, menghibur tetap dengan sasaran untuk membantu pembaca menemukan arti dan nilai-nilai kehidupan yang berguna.

Ketua Komisi Pengaduan Dewan Pers, Muhammad Ridho Eisy menyampaikan saat memimpin pertemuan untuk kalarifikasi dengan pimpinan umum dan Pemimpin Redaksi/penanggungjawab Redaksi Berita Investigasi Nasional sehubungan pemberitaan online terkait Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, di ruang sidang Dewan Peres Kebon Sirih Jakarta belum lama ini, bahwa Media Massa diimbau untuk berkomitmen menjunjung tinggi prinsip dan etika jusnalistik dalam memberitakan hasil liputannya.

Lebih lanjut Muhamad Ridho Eisy menegaskan bahwa, peoduk jurnalis di media massa yang besar bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan dalam pemberitaan atau luput dari koreksi public, tapi media itu besar hati untuk menerima koreksi serta bersedia menerima pengaduan masyarakat dan bertanggungjawab untuk memperbaiki atau meminta maaf atas pemberitaan yang keliru.

Dewan Peres mengajak seluruh komponen pers menaati komitmen bersama tersebut. Menurut dia, Pers punya peranan penting dalam menciptakan suasana kondusif dalam berbagai aspek kehidupan di pelosok tanah air Indonesia.

Menurut Eisy, ada tiga poin komitmen bersama pers Indonesia. Pertama, berkomitmen menggunakan kemerdekaan pers untuk kepentingan public. Kedua, bekerja secara profesional dengan menjunjung tinggi prinsip dan etika jurnalistik. Ketiga, mengedepankan prinsip akurasi dan verifikasi terutama pada hal-hal yang berpotensi menimbulkan perpecahan di masyarakat.

Dijelaskan pula bahwa, dalam pers yang merdeka, siapapun tak boleh mengintervensi redaksi. Baik itu presiden, panglima TNI, atau kapolri, Orang yang mengintervensi kebijakan redaksi tersebut, menurut dia, terancam Pasal 18 Ayat 1 Undang Undang Pers. Bahkan pemilik media sekalipun. Sedangkan terkait profesionalitas pers, pekerja pers dituntut untuk mematuhi kode etik wartawan Indonesia.

(Penulis adalah Pemimpin Redaksi Media Berita Investigasi Nasional)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *