Operasi Zebra di Telukdalam, Menuai Bentrok Mulut antar Pengemudi dan Petugas

datauri-fileTelukdalam, Nias Selatan (BIN) – pelaksanaan operasi zebra di jalan Diponegoro kecamatan Telukdalam kabupaten Nias Selatan hari kamis (04/12/2014), menuai protes dan adu mulut antar pengemudi kendaraan dengan pihak penegak hukum yang sedang beroperasi. Hal ini akibat dari tindakan yang dianggap berlebihan untuk melakukan penilangan terhadap pengemudi dan penggunaan pasal yang dinilai timpang-tindih untuk menjerat pengemudi.

Salah seorang pengemudi yang terjaring dalam operasi tersebut telah menunjukan surat kendaraan kepada petugas, namun surat izin mengemudi dan surat tanda kendaraan bermotor yang dimaksud terlambat perpanjangan pajak sehingga petugas yang berada di bawah kepemimpinan kasat lantas Telukdalam W.Nainggolan menilang kendaraan (Ranmor) pengemudi dengan menjerat pasal 288 (5)a dan 281 jo 77 ayat 1 UU No.2009 tentang LLAJ.

Atas peristiwa tersebut, suasana menjadi tegang ketika beberapa petugas tidak dapat memberi penjelasan hukum yang aktual kepada salah seorang pengemudi yang terjaring dan bertanya terkait ranmor yang dimaksud, pasalnya petugas hanya berdiam dan mengarahkan untuk ditanya kepengadilan tanpa menerapkan prinsip transparansi peraturan lalulintas sebagaimana asas dan tujuan.

Akhirnya persoalan ini menjadi sebuah dilema dimana masyarakat menilai bahwa dari perspektif penerapan peraturan, petugas sejatinya harus mengerti dan memahami “apa masalah hukum yang ada dan apa sanksi yang setimpal” sebab jika persoalan profesionalisme pada penegakan peraturan lalulintas tidak dikedepankan maka akan berdampak besar bagi masyarakat.

Dari hasil konfirmasi media BIN, juga mengalami hal yang serupa dimana W.Nainggolan selaku kasat lantas Telukdalam pada penjelasannya menimbulkan ketidakpastian hukum/kabur. Ironisnya Nainggolan hanya menyuruh melihat di belakang SIM saat awak media menirukan pertanyaan pengemudi yang terjaring.
Sementara maksud dari konfirmasi adalah dasar hukum mengapa kendaraan dapat di tilang ketika SIM dan STNK telah ditunjukan kepada pemeriksa? Secara singkat W.naiggolan kembali menjawab, “Di SIM itu aja ditengok, ada disitu dibuat peraturanya!”

Setelah ditunjukan kepada kasat lantas bahwa yang termuat di belakang SIM ternyata ketentuan pidana, maka Nainggolan kembali menjelaskan bahwa, “untuk lebih jelas tentang peraturannya lihat aja di STNK kalau mau tau lebih jelas ada di situ,” cetus kasat lantas.

Menyikapi tanggapan tersebut, masyarakat geleng-geleng kepala dan sangat menyayangkan sikap W.Nainggolan selaku kasat lantas yang dinilai tidak elok memberi alasan hukum kepada masyarakat. (Zet/Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *